Solo in 32 Hours (Pt. 03 - End)

Ada dua beverages yang sangat digemari: teh dan kopi. Well , tiga sebetulnya jika boleh memasukkan miras lokal: ciu. Ketiganya adalah menu w...


Ada dua beverages yang sangat digemari: teh dan kopi. Well, tiga sebetulnya jika boleh memasukkan miras lokal: ciu. Ketiganya adalah menu wajib di manapun sebuah rendezvous terjadi. Terutama di malam hari, mengiringi dinamika 24 jam yang dibahas sebelumnya.

Malam hari pula, di tengah acara nge-hik bareng temen-temen kuliah (oknum-oknumnya terpampang di foto - baris depan: saya, CL, Puwor, Jati, Rudi, Fuad, Danang - belakang: Maul dan Romi), ada pembicaraan tentang teh. Menurut Maul, rasa teh di hik-hik Solo sangat khas karena mereka menggunakan satu merek yang sama, yakni Teh Sepeda Balap. Hebatnya, kini produsen teh ini memutuskan untuk tidak bermain retail, dan hanya mengalihkan pangsa ke eskpor, serta memasok bagi warung lokal yang mereka endorse. Jadi hik di Solo rata-rata tak lagi memakai Teh Sepeda Balap, kecuali beberapa yang masi dipasok produsennya. Wacana ini muncul ketika ada celetukan saya mengenai rasa teh yang sedikit berubah. Kadar kepekatannya sudah berkurang pada versi teh hik tahun 2008. Sayapun mendapatkan wawasan baru tentang (mungkin) warisan lokal yang layak dijadikan komoditas, selain kopi luwak yang mulai menuai popularitas di manca.

8 jam terakhir di Solo, sebetulnya adalah exceed dari masa "edar" kita sebagai turis. Mulanya saya dan Gina mengincar untuk mengakhiri trip dan sesegera mungkin kembali ke Surabaya via skedul KA Sancaka pada jam 08.00 WIB. Hari sebelumnya Gina mendapati bahwa tiket sold out, dan memaksa shift rencana menggunakan bis patas siang harinya. So, ada waktu ekstra, dari kita check out pada jam 10-an, sampai ke jam 1 atau jam 2. Bis patas available dari siang hari sampai dini hari, so there's no need to rush. Kita masih sempat mengeksplor dan menuntaskan beberapa rasa penasaran, termasuk menjelajah kembali dunia kuliner lokal.

Lantaran baru mencicip satu jagoan bakso di Solo, Gina sangat ingin menjelajah dunia perbaksoan di Solo. Dulu, ketika saya kuliah, ada satu warung bakso yang sangat populer, namanya Bakso Remaja, yang tak jauh dari Bestik Harjo, di dekat Jalan Rajiman. Saya sendiri bukan penikmat bakso, tetapi dulu memang sering diajak teman-teman kuliah ke warung ini. Jadilah destinasi awal di Minggu: kembali ke Jalan Rajiman. Mengulang rute malam sebelumnya dengan membecak dari hotel ke Pasar Kembang. Bakso Remaja letaknya agak masuk ke gang, di mana di mulut gang ada beberapa warung yang sepertinya terkenal juga. Salah satunya adalah warung soto yang di-endorse oleh teh merek Sepeda Balap. Mengingatkan saya pada obrolan tentang malam sebelumnya.

Kembali ke dunia perbaksoan, menurut Gina, Bakso Remaja termasuk golongan bakso "cewek". Artinya banyak digemari oleh kaum hawa karena variannya yang agak banyak (seporsi berisi tiga bakso, dua tahu putih, pangsit khas Jawa dan semangkuk sawi), dan kuah bening yang menjadi unggulan. Bakso seperti itu secara default sudah nikmat disantap tanpa harus meracik dengan ekstra kecap atau saus tomat. Dua porsi segera ludes, dan lagi-lagi hanya berbandrol harga seporsi jika di Surabaya. I repeat: Solo is heavenly cheap!

Karena zonder itinerari, sehabis bersantap bakso, kita bingung menentukan tujuan selanjutnya. Meski hanya 6 tahun menetap di Solo, tapi sindrom hometown sudah mulai melekat dalam diri saya. Warga lokal memang biasanya hanya fasih menunjukkan jalan tapi kurang sadar terhadap potensi wisata di kotanya. Dan saya juga demikian di Solo, since dulu memang terkesan hanya menumpang tinggal. Akhirnya tujuan selanjutnya adalah ritme klasik, yakni ke mal yang ada di gerbang kota, Solo Square.

Solo Square adalah buah dari modernitas masif yang melanda kota ini setelah kerusuhan. Butuh waktu sekitar 5 tahun bagi investor untuk mulai mengembangkan skala ekonomi kapital di kota perdagangan ini. Selepas kerusuhan, bagunan seperti mal pertama yang muncul adalah renovasi Pasar Singosari yang padat luar biasa di hari libur. Kemudian pada sekitar tahun 2004 muncul mal pertama di Solo bernama Solo Grand Mall. Tak lama berselang Solo Square menyusul, dan diantri oleh sejumlah mal-mal baru yang masih dalam proses pembangunan. Dan lepas dari segala kontraversi budaya, masyarakat Solo sepertinya sangat menikmati dinamika ekonomi tersebut. Terbukti dengan banjir pengunjung di semua mal, terutama pada akhir pekan.

Saya sebetulnya malas berkunjung ke mal jika sedang plesir. Karena di pikiran saya, isi mal di manapun selalu sama. Gerai-gerai waralaba, makanan cepat saji dan toserba yang barang-barangnya seragam dari satu kota ke kota yang lain. Tapi jika mau sedikit ber-positive thinking, sebetulnya pasti ada nilai unik dari mal kota satu dengan yang lainnya. Termasuk di Solo Square ini.

Di dalam mal terdapat beberapa kios unik yang menawarkan kekhasan kota bengawan. Di antaranya adalah kios penganan lokal yang terdapat di depan Gramedia. Beberapa penganan lokal yang mungkin malah susah dicari di telusur kota, terdapat di kios kecil ini. Arem-arem, beras kencur, sate pisang, dan aneka penganan lainnya ditawarkan dengan harga sama dengan harga luar (this is Solo man). Model seperti ini sebetulnya harus dihargai, karena bagaimanapun juga mereka membawa gengsi khasanah kuliner marjinal ke wacana budaya yang layak lestari.

Hal yang sama mungkin juga tengah "dinafasi" oleh sebuah gerai kopi bernama Kopi Luwak. Sebetulnya gerai tersebut adalah semacam waralaba yang pusatnya ada di ibukota, dan sentuhannya juga memang berformat kafe, termasuk menyediakan penganan impor macam sandwich dan kentang goreng. Namun ada sedikit unsur lokalitasnya ketika mereka mengandalkan komoditi asli Indonesia berupa kopi luwak nan sohor tersebut. Saya dan Gina memutuskan mencoba pertama kalinya, kopi yang diambil dari ekskresi musang Jawa tersebut. Rasanya tidak lebih pahit dari kopi biasa, namun ada efek semacam hangat, seperti jika kita meminum jamu lokal. Bahkan sampai berjam-jam sesudahnya, efek hangat itu masih bisa terasa!

Kopi bukan minuman yang terlalu asing di Solo. Saat ini mulai bermunculan kedai-kedai kopi yang mengadaptasi kedai kopi impor. Menunya juga ragam olahan ala Italia (atau Seattle) dengan varian cino-cino-nya. Dan generasi milenium di Solo juga tampaknya mulai membuka diri dengan kehadiran kafe semacam itu. Terbukti di akhir pekan, kedai-kedai kopi dipenuhi orang-orang yang hang out. Di sisi lain, dari jaman baheula sebetulnya fenomena tersebut sudah membudaya. Jika kita menelusuri warung-warung hik yang tersebar di penjuru kota, maka budaya ngopi ini bukan sesuatu yang diinfiltrasi oleh munculnya gerai-gerai kopi ala Starbucks. Kopi lokal yang digemari masih berupa kopi bubuk, atau variannya yang beken adalah kopi jos. Untuk yang terakhir tersebut adalah jenis kopi bubuk (tubruk) yang disajikan panas, dan ditambah dengan celupan arang yang masih menyala dengan bara apinya. Jadi ketika dicelupkan ke pekatnya kopi dan air akan berbunyi "jossss". Saya belum pernah (baca: belum punya nyali) mencobanya, tapi mungkin efek yang ditimbulkan tak jauh berbeda dengan kopi luwak. Yakni memberi efek hangat di sekujur tubuh yang berasa nyaman.

Efek kopi luwak itu pula yang menjadi bekal kami mengakhiri trip di Solo selama 32 jam. Sekitar jam 01.30, kita memutuskan bertolak pulang ke Surabaya. Ekspektasi kita memang tiba di Surabaya sebelum terlalu malam, karena esok harinya rutinitas sudah mulai menyapa kembali. Setelah menempuh 6 jam perjalanan, pukul 20.30 kita tiba di Surabaya untuk kembali menjemput pengulangan-pengulangan dalam dunia kerja yang membosankan.

Solo memang selalu layak dikenang. Segala petualangannya adalah klangenan. Masih banyak khasanah lokalitas yang belum kami eksplor. Another day perhaps...
Reactions: 

Related

travelogue 4850694231048142375

Posting Komentar Default Comments

8 komentar

Bazoekie mengatakan...

wah man, bagian ketiga tambah "mingin-mingini" wae mudik lagi. Bicara teh, setahuku emang ada khas di tiap daerah, solo mungkin "sepada balap" tadi, di sragen terkenalnya "djenggot", wonogiri "dandhang".Tapi setahuku masih satu atap pabrik Gunung Subur di Jaten.Hik macem2 juga make teh-nya.Dan rata2 "Nasgitel" bikinnya, -alias panas legi dan kenthel-. Aku sendiri nek mudik membawa tak kurang 4 pak Teh cap "Djenggot" dan "Nyapu"(produk tegal, enak juga neh...) jika pulang. Karena susah menemukan merk ini di supermarket. Belum afdol jika belum Minum teh tubruk yang Nasgitel sebelum tidur. Haha...

Helman Taofani mengatakan...

Ooo...berarti teorine Tlembok ki rodo melebih-lebihke sing generalisir.

taNti mustika mengatakan...

inget gag mas waktu dulu gw pernah nulis kenapa es teh di solo itu enak bgt, beda jauh sama di jkt.. komen lu waktu itu karena faktor campuran omo (sabun cuci) yg melekat di gelas.. hahahaaaaa, dan gw tetap percaya faktor itu.

bakso remaja tuh yg deket tukang stempel2 itu yak? gag coba bakso alex? gw sama the ladies temen2 gw itu setuju kalo bakso alex jagoan bgt. eh bakso pak ruk di tipes juga ding, tp kalo lagi pengen balungan aja :D

btw....fotonya kok kaya pakde2 gitu ya...heheheeeeee... :))

Helman Taofani mengatakan...

Hahaha...kalo nge-hik di jam padet emang suka kaya gitu Tan. Karena stok gelas nipis, jadinya yang nyuci gelas suka keburu-buru plus ninggalin trademark yang khas. Hahahaha...

Bakso Alex sama Bakso Pak Ruk? Oke deh, istri gue pasti hepi nih makin banyak list tujuan. Hehehe...

Anonim mengatakan...

gak ke desa batik hil? apa sih namanya, lupa daku.

++retno

Helman Taofani mengatakan...

Kampung Batik ada 2 sekarang, Kauman sama Laweyan. Kalo Desa Batik ada di Sragen.

Itu next destination. Lagi ngejajaki prospek hostel di kampung situ juga.

ipul mengatakan...

dari ceritamu sepertinya Solo memang menyenangkan...
kota besar di Jawa yang belum pernah saya kunjungi...
kayaknya ntar kalo balik Semarang, musti jalan2 ke Solo nih...


btw, di foto kayaknya Elu makin gendut nih, Man...

Helman Taofani mengatakan...

Making gendut ya? Hiks...hehehehe. Solo is a worth visit kok bos!

Follow Me

-

Popular

Arsip Blog

item