Almost Famous (Revisited)

Menonton kembali film Almost Famous (2000) setelah lebih kurang lima tahun ternyata mampu memberikan perspektif baru dalam mengapresiasi ka...


Menonton kembali film Almost Famous (2000) setelah lebih kurang lima tahun ternyata mampu memberikan perspektif baru dalam mengapresiasi karya sutradara Cameron Crowe tersebut. Apalagi jika kita membandingkan "sister-project"-nya yang telah meluncur dekade sebelumnya, film berjudul Singles (1992). Keduanya adalah -menyitir sebuah blurb media- "surat cinta" Cameron Crowe terhadap dunia yang dicintainya.

Jika "Singles" bercerita tentang musik di era awal 90-an yang booming dengan grunge, maka "Almost Famous" adalah romansa dunia musik di awal 70-an yang beriringan dengan kebangkitan musik Rock N Roll (with capital RNR - red). Terakhir kali menonton pada tahun 2003, hal yang masih lekat di ingatan saya adalah betapa cool riff-riff gitar Russel Hammond (belakangan diketahui itu adalah hasil jenius Peter Frampton, dan didendangkan dari gitar Mike McCready, gitaris Pearl Jam). Dan tentu saja pesona Penny Lane yang diperankan Kate Hudson (sampai sejauh ini saya tidak menemukan peran Kate Hudson yang lebih bagus daripada aktingnya sebagai Penny Lane).

Kini, setelah lima tahun berselang, saya bisa (sedikit) meng-update cerita "Almost Famous" menjadi tiga bagian utama yang berkisah banyak tentang dunia musik di tahun 70-an. Kisah pertama adalah perjalanan William Miler (Patrick Fugit) sebagai jurnalis musik. Yang kedua, kehidupan dunia groupies yang melegenda saat itu, lewat petualangan Penny Lane. Dan yang terakhir adalah kehidupan di alam band tahun 70-an yang banyak tergambar melalui lika-liku band fiktif Stillwater.

Kisah William Miller adalah kisah sebenarnya dari biografi kehidupan remaja Cameron Crowe, sutradara sekaligus penulis naskah film ini. Crowe memang besar di San Diego bersama ibunya -yang profesor psikologi- dan kakak perempuannya (yang mogok bicara dengan sang ibu sampai awal milenia ini). Cameron skip TK dan dua kelas di sekolah dasar, sehingga ketika lulus SMA usianya masih 15 tahun. Dia aktif menulis di zine underground, sampai dengan korespondensi bersama Lester Bangs yang membuatnya jadi kontributor majalah Creem. Lantas dirinya bertemu dengan Ben Fong-Torres dari Rolling Stone, untuk selanjutnya mulai menulis di majalah yang didirikan Jann Werner tersebut. Pada usia 16 tahun, Crowe mengikuti tur selama tiga minggu bersama Allman Brothers Band. Itu adalah kisah nyata, faktual, yang diadaptasi 90% dalam karakter William Miller, lengkap dengan latar keluarganya yang juga faktual.

Spin selanjutnya adalah bunga dari generasi musik tahun 70-an berupa para groupies. Di sini Crowe mengambil sosok Penny Lane sebagai corong berceritanya. Penny Lane konon diambil dari tokoh groupies pada dekade tersebut yang bernama Pennie Lane. Mungkin juga sedikit mengambil kharisma Pamela Des Barres, ikon groupie yang melegenda. Penny Lane dan groupies adalah magnet utama dari dunia musik tahun 70-an yang banyak ditemui Crowe pada masa awal-nya bekerja sebagai jurnalis musik. Banyak sekali dialog-dialog menyisip di antara adegan untuk menegaskan ideologi groupie yang dengan jelas membedakan posisi mereka dengan, katakanlah, prostitusi di balik panggung.

Dan yang terakhir, tentu dari pelaku musik itu sendiri, band Rock n Roll yang bermunculan bak cendawan di musim hujan kala dekade 70-an. Stillwater adalah penjelmaan band yang tengah merintis karir, lengkap denganf friksi-friksi yang terjadi di dalamnya. Konfliknya adalah telaah standar untuk mengurai ada apa di balik pertikaian legendaris yang sempat membubarkan Rolling Stones, mengguncang Led Zeppelin, dan sebagainya. Cerminan konflik antara Russel Hammond dan Jeff Bebe adalah refleksi nyata dari perseteruan para dynamic duo legenda Rock N Roll dunia pada era 70-an.

Menemukan tiga spin itu mampu membuat apresiasi tambahan mengenai kedalaman latar dari film "Almost Famous". Tiga kisah tersebut kemudian dirangkai menjadi satu kesatuan cerita yang utuh, menghadrikan sosok William Miller yang berhubungan dengan band Stillwater melalui media seorang groupie bernama Penny Lane. Alur disajikan mengalir dengan mudah (linear), guna memberikan pijakan konteks pada masing-masing spin cerita. Dan ini adalah kelebihan Crowe pula, yang selalu kuat di dalam setting, ketika membuat film semacam "Singles" dan "Jerry Maguire". Latarnya sebagai jurnalis membuat Crowe mampu bicara untuk banyak segmen, meski kadang memang terlalu naratif memasukkan informasi-informasi yang berjejal dalam sekian menit durasi film.

Kini patut dicoba lagi untuk menonton kembali "Singles", surat cinta Crowe lainnya ke dunia musik dalam dimensi waktu yang berbeda.
Reactions: 

Related

music 5075042613842162356

Posting Komentar Default Comments

3 komentar

Jati Priyoharjono mengatakan...

Feever dooog...

Helman Taofani mengatakan...

Fever Dog udah punya. Lagi program mo donlot album sontrek-nya Jat...

Anonim mengatakan...

Ini pelem, i must say, kereeen abis. Detailnya dapet bgt! -Gene

Follow Me

-

Popular

Arsip Blog

item