Vote for Change

Selain kejutan menyenangkan di mana seorang Afro-Amerika menduduki posisi pertama dalam balap kepresidenan, fakta lainnya yang juga menarik...


Selain kejutan menyenangkan di mana seorang Afro-Amerika menduduki posisi pertama dalam balap kepresidenan, fakta lainnya yang juga menarik dari pemilu 2008 di Amerika Serikat ini adalah naiknya (secara signifikan) jumlah pemilih.

Banyak faktor yang melandasinya, di antaranya adalah gencarnya kampanye untuk mendorong rakyat agar menggunakan hak suaranya (rally for vote). Bukan rahasia, jika jumlah golput selalu meningkat sebelumnya dan menjadi concern ketika hal tersebut kadang memberikan kuntungan-keuntungan bagi pihak tertentu.

Pada tahun 2004, sekelompok musisi (di antaranya Pearl Jam, Bruce Springsteen, REM, Dave Matthews Band dan Death Cab for Cutie - gambar di atas) menyelenggarakan tur yang bertujuan untuk mendorong generasi muda menggunakan hak pilih mereka dalam pemilu 2004. Dalam rangkaian tur yang disebut dengan "Vote for Change" tersebut, mereka mendatangi daerah yang tingkat partisipasi pemilunya rendah (angka golput tinggi). Di antaranya adalah Pennsylvania, Ohio, North Carolina dan Florida. Keempat negara bagian itu dikenal dengan istilah "swing state", artinya negara bagian (state) yang tidak jelas orientasi politik-nya. Ditengarai karena besarnya apatisme terhadap politik.

Pada 2004, effort mereka berhasil menaikkan 50% lebih partisipasi pemilih muda (nation-wide). Secara khusus, di daerah "swing state", partisipasi pemilih muda lebih banyak 10% dari daerah lain. Meski malah menghasilkan kemenangan untuk George W. Bush - notabene ditentang oleh para penggagas "Vote for Change" - tapi kenaikan partisipasi pemilih tetap menjadi kepuasan tersendiri bagi Pearl Jam cs. Sasaran utama mereka memang menaikkan partisipasi pemilih. Mengutip kata Ed Vedder pada salah satu venue "Vote for Change 2004" (St. Louis, Missouri) : "Participate in our democracy! Have a voice! And you know what, we don't even care how you'd vote. We just care that you vote."

Mengapa?

Mereka (para veteran Vote for Change) berpikir dalam frame proses, di mana langkah utama adalah mendorong para golput untuk ikut memilih. Aktif (memilih) dulu! Hasil nomer dua... Apapun yang dipilih, ketika aktif, mereka akan mempunyai semacam ikatan (attachment) untuk mempertanggung-jawabkan apa yang mereka pilih. Mungkin waktu itu mereka lebih memilih George W. Bush. But that's okay, ketika melihat hasil pilihan mereka selama empat tahun kepemimpinan Bush, mereka bisa mengevaluasi sendiri.

Hasilnya memang lebih pas kali ini, pada pemilu 2008. Para "youth voters" di 2004 masih memilih, dan kali ini mereka bisa belajar dari hasil pilihan mereka yang lampau. Ya, mereka lebih memilih ke perubahan. Dan yang lebih menggembirakan, alih-alih turun, angka pemilih mula yang telah dipupuk dari empat tahun sebelumnya malah cenderung naik jumlahnya. Di keempat swing state tersebut, Barack Obama memenangi pemilihan, dan terbukti krusial dalam merebut kursi presidensial.

Meski kadarnya subjektif, namun hasil itu tak lepas dari kampanye memilih yang digagas para seniman dan musisi yang peduli. Effort mereka adalah buah dari gagasan brilian untuk berpartisipasi aktif dalam demokrasi. Jangkanya memang panjang dan tak instan memang. Bisa dikatakan suatu bentuk investasi politik. Tapi dari awal, gagasan-gagasan tersebut memang disetting sebagai proses, bukan keinginan-keinginan instan yang senantiasa padam ketika tak sesuai tujuan. Buktinya, di 2008, para veteran "Vote for Change" tidak berdiam, tapi tetap aktif memberikan dukungan bagi Barack Obama.

Untuk meraih hasil, jalannya memang panjang. Terkadang, untuk menjatuhkan dua ekor burung dibutuhkan dua buah batu pula. Jangan melulu terjebak dalam stigma praktis, namun hasilnya selalu kosong.

So, ada yang ingin membandingkan dengan fenomena di Indonesia?



Photo courtesy of Rolling Stone Magazine.


Post Note: Bagi yang ingin menonton video dokumenter "Pearl Jam: Vote for Change 2004", bisa mengkopi dari saya (atau streaming di sini). Video yang dirilis gratis jelang pemilu 2008 tersebut sangat bagus sebagai lahan apresiasi sebuah upaya panjang menyemarakkan kesadaran demokrasi dari Pearl Jam. Tersedia dalam format flv dan mp4 dengan kualitas video bitrate 700 kbps, dan audio bitrate 96 kbps (resolusi 600x400 px), bagi yang ingin mengkopi dalam bentuk cakram padat.
Reactions: 

Related

recent issues 5155495481605470787

Posting Komentar Default Comments

4 komentar

Anonim mengatakan...

Bingung deeeh....
ko ga ada hujatan loo soal potensi manfaat-dimanfaatkan artis lokal dan partai politik si?

well, yes agreed that those mission of Vote for change is achieve to their goals.

Whats bothering? weeeekkk.

-Gene-

Helman Taofani mengatakan...

Lah yang ngehujat siapa? Gw kan membuka wacana diskusi...wee...

Ipul mengatakan...

bedanya adalah :
di Amrik, para musisi menggelar ajang Vote For Change murni karena ingin berinvestasi politik dan tidak mau terjebak dalam sebuah proses yang instan..

sementara di Indonesia, para musisi/artis hanya benar2 dimanfaatkan (dan memanfaatkan)oleh kontestan politik untuk kepentingan instan...

jadi..ya wajarlah klo masih banyak yg apatis..

Helman Taofani mengatakan...

Itu semalem gw diskusi seru sama Gina soal itu...hehehehe. Ya at least gw ngga sendirian mikir apa yang lo pikir bos...

Follow Me

-

SHOP

Popular

@helmantaofani

Arsip Blog

item