"Maldini San Siro Swan Song Soured"

Judul di atas adalah rujukan dari judul berita di situs FIFA. Sekedar informasi, "soured" di sini mengaca pada dua kejadian, yak...


Judul di atas adalah rujukan dari judul berita di situs FIFA.

Sekedar informasi, "soured" di sini mengaca pada dua kejadian, yakni Maldini mengakhiri penampilannya di San Siro dengan kekalahan 2-3 dari AS Roma. Satu lagi adalah insiden "hinaan" dari oknum Curva Sud (tifosi ultras Milan), dengan mengibarkan bendera Franco Baresi seraya meneriakkan yel-yel yang disrespek terhadap Paolo ("There's only one captain, captain Baresi"). Ini sangat menyakitkan, tanpa memandang rendah peran Baresi, karena Maldini telah 13 tahun membawa bebat ban kapten di lengannya bersama kostum Milan. Itu adalah separuh karirnya, selama kurang lebih 25 tahun berkiprah dalam sepakbola, dengan baju selalu merah dan hitam. Rasanya tidak ada yang berhak mendebat kecintaannya kepada AC Milan. Bahkan tidak untuk para ultras.

Lantas, apakah "Swan Song" Maldini menjadi hambar (atau harafiahnya: masam) dengan kejadian itu?

Princeton hanya mengatur definisi frasa "swan song" sebagai "performa atau usaha terakhir, terutama sebelum pensiun" (a final performance or effort especially before retirement). Tidak ada yang mengatur bahwa "swan song" haruslah merdu, lantaran sebetulnya suara angsa sendiri kurang enak didengar (dalam bahasa Jawa disebut "Banyak" karena suara "ngak-ngak"-nya). Bahkan bila merujuk asal frasa "swan song" itu, karir Maldini malah cenderung tak layak disemat sekedar nyanyian angsa. Istilah "swan song" muncul dari sebuah mitos kuno yang meyakini bahwa seekor angsa (Mute Swan, dalam bahasa Inggris, atau Cygnus olor) senantiasa diam (mute) sepanjang hayat, sampai saat jelang mati dengan ia akan menyanyikan sebuah lagu perpisahan.

Well, Paolo tidak hanya diam sepanjang karirnya. 26 titel dia sabet dalam 25 tahun karir dengan standar permainan yang tinggi nan konstan. Ada ribuan pemain lain yang lebih "mute" daripada dirinya, yang mungkin lebih membutuhkan "swan song" di akhir karirnya. Kasus Minggu (24/05) kemarin memang mengecewakan, mengingat itu adalah partai terakhirnya di San Siro dalam karirnya sebagai pesepakbola. Dan kejadian di atas memang membuat momen emosional itu menjadi hambar. Tapi itu tidak sepenuhnya merusak "swan song". Sudah terlampau banyak nyanyi merdu di sepanjang karirnya, dan dirinya tak perlu bernyanyi lagi di akhir (hanya) untuk menunjukkan kapabilitasnya.

Ultras Curva Sud boleh saja bernada sumbang seperti suara angsa. Saya sangat malu dan kecewa mendukung tim yang sama dengan mereka. Dulu, saya merasa mereka adalah bagian dari saluran aspirasi kerinduan saya terhadap "value" sepakbola sebagai olahraga. Representasi anti-modern football yang diteriakkan ultras. Sepakbola sebagai lambang kompetisi, sportivitas dan kebanggaan.

Saya selalu mempersonifikasikan sosok atlit dalam diri Paolo Maldini. Orang yang sportif di dalam dan luar lapangan. Paolo mencintai sepakbola, yang membuatnya bertahan sampai usia 41 tahun bermain di level tertinggi. Sepakbola membalas cintanya dengan sederet gelar. Paolo bangga dengan seragamnya. Sayangnya beberapa gelintir manusia tampak bebal, mencampur politik dengan mengkhianati cinta Maldini ke merah-hitam.

Namun hinaan dari Curva Sud tak ada artinya dibanding dengan apa yang sudah diraih Maldini selama seperempat abad. Milanisti sejati, dan juga penggemar sepakbola umumnya lebih bisa melihat lebih jernih bagaimana sosok Paolo Maldini di AC Milan. Dan juga setidaknya saya bisa melihat lebih jernih lagi bagaimana karakter para ultras di Curva Sud tersebut.

Arrivederci bandiera!
Reactions: 

Related

football 2545237965143081681

Posting Komentar Default Comments

Follow Me

-

SHOP

Popular

@helmantaofani

Arsip Blog

item