Enter Avatar

Every fantasy built from a true story... Itu bukan kutipan Sigmund Freud, atau persona sohor lainnya. Saya hanya berpikir seperti prakata...


Every fantasy built from a true story...

Itu bukan kutipan Sigmund Freud, atau persona sohor lainnya. Saya hanya berpikir seperti prakata yang menjadi narasi film "Arthur", bahwa mitos, folklor, legenda, dan kisah-kisah di luar rasio memiliki fondasi yang dibangun dari sebuah rasio.

Simpelnya, bahkan JRR Tolkien memerlukan latar hidupnya untuk mengomposisi saga fantasi modern Lord of the Rings. Let alone puluhan skrip sci-fi yang lahir di era cyberpunk.

Maka, sayapun mencoba menalar apa yang ada di pikiran James Cameron kala dia membuat Avatar. George Lucas membuat dunia Star Wars, di era film modern, menggemakan dunia imajinasi yang menyemarakkan absurditas Wonderland-nya Alice yang berasal dari tradisi tutur. Bedanya, George Lucas menyiapkan fantasinya untuk tradisi pirsa, sehingga detil-detil dunianya harus ia siapkan dalam pemahaman visual yang masuk ke ranah rasio.

Dan teknologi makin mendukung perkembangan gagasan nirbatas, sehingga apa yang James Cameron lakukan adalah membuat protagonisnya berupa makhluk berwarna biru setinggi tiga meter, yang mungkin merupakan evolusi seekor singa, lantaran adaptasi morfologinya masih menyisakan surai, taring dan ekor berujung rambut.

Itulah bangsa "Na'vi", penduduk indigenus planet Pandora. Dari perilaku dan juga kosmetik tribal-nya, saya menebak landasan bangsa tersebut adalah bangsa asli Amerika, migran dari Eskimo, yang karena kebodohan Colombus maka dinamakan Indian. Bangsa yang membentang dari bekunya Alaska, sampai ke hutan hujan di Amerika Selatan. Itu mengapa tribal protagonisnya diberi nama Omaticaya, nama yang mirip dengan lafal suku Inca.

Ada pula folklor di Amerika yang bersetting pada masa formatif dunia baru, berupa romansa antara kaum indigenus yang diwakili Pocahontas, dengan seorang "alien" berkebangsaan Inggris, John Smith. Meski tak yakin alterasi nama Neytiri ke Pocahontas, tapi bagu saya inisial JS bisa mewadahi John Smith atau Jake Sully. Jake Sully dan Neytiri adalah dua protagonis utama di film Avatar.

Lalu, apa dasar lain yang digunakan oleh James Cameron untuk ciptakan saga Pandora-nya?

Rancangan film ini sudah dibuat sejak tahun 1994, yang artinya melewati masa administrasi Bush, ketika mereka menginvasi dengan kekuatan militer dengan dalih "pre-emptive strike" dan "war on terror" untuk berbarrel-barrel minyak bumi, sumber energi utama yang digantungi 80% penduduk bumi. Di Avatar, ada mobilisasi militer untuk mendapatkan logam unobtanium.

Atau bila kita kembali ke era Indian, hasilnya adalah "ecstasy of gold" (dan perak untuk kasus Potosi) yang dibawa conquistador, atau pemukim peloper yang halalkan semua cara, termasuk menghabisi atau memperbudak pendududuk asli.

Meski secara jalan cerita Avatar cukup standar, tapi yang patut dikagumi adalah bagaimana alam Pandora diciptakan dengan keseimbangannya, meski secara ekosistem penggambaran keragaman hayatinya masih sedikit kurang menurut saya.

Dalam alegori Indian, mungkin ada role bison yang diambil hybrid badak, banteng dan kumbang. Tunggangan berupa kuda, dan juga dua hewan angkasa yang disakralkan: elang (banshee) dan kondor besar Amerika (Toruk). Ditambah dengan kehadiran kucing besar solois (cougar) dan anjing semi-nokturnal (serigala), universal Pandora merupakan refleksi kedua dari dunia kaum Indian di Amerika, kecuali secara botani sample-nya adalah hutan hujan tropis, kediaman Indian Amazon dan leluhur mereka.

Manusia menjadi alien kali ini, dalam versi Cameron, kritik untuk perilaku spesies kita yang serakah dan jauh dari sikap menghargai alam. Atas nama peradaban, kita menganggap kebudayaan primitif itu adalah sebuah setback yang senantiasa bisa dicerahkan dengan sistem pendidikan dan kedok bantuan sosial tanpa rasa ikhlas. Sementara yang kita anggap bodoh malah memperlakukan keseimbangan di atas segalanya.

Saya terus menerus tercekat memikirkan unsur ekstrinsik yang membangun dunia Avatar oleh James Cameron. Hingga, unsur intrinsik sebuah film, yang selain visualisasi sebetulnya diselesaikan dengan cara sederhana, tak terlampau merisaukan dengan generalisasi kisah epiknya.

Namun, sekali lagi, sebuah karya yang bagus kadang bukan berpijak ke kompleksitas, namun kedalamannya. Ini laras dengan prinsip hidup kaum primitif yang sederhana namun memiliki makna yanh dalam. Maka bagi saya, Avatar adalah penggambaran yang tepat untuk membenturkan kompleksitas hidup kaum modern versus kebersahajaan.

Satu hal harus dicatat, kesederhanaan yang dilakukan dengan berakar dalam, hasilnya jauh dari sifat mediokritas.

Enter Avatar.
Reactions: 

Related

review 1500034337059941020

Posting Komentar Default Comments

Follow Me

-

SHOP

Popular

Arsip Blog

item