Inconsistent Code

A bit late review but still worth the check. Apa yang membuat Quantum Leap spesial? Ide tentunya. Dimana Scott Bakula berpindah-pindah ...



A bit late review but still worth the check.

Apa yang membuat Quantum Leap spesial? Ide tentunya. Dimana Scott Bakula berpindah-pindah tubuh melalui lompatan kuantum secara acak lalu wajib menyelesaikan masalah untuk bisa berpindah lagi sampai kembali ke tubuh sebenarnya. Ini muncul di era 80-an dimana cyberpunk tengah merintis masa, dan ratusan spekulasi ilmiah melahirkan genre sci-fi yang banyak diwujudkan dalam skrip film.

Namun demikian, tak ada penjelasan "ilmiah" khusus untuk Quantum Leap sehingga hanya dianggap sebagai drama aksi biasa. Konsistensi dengan alur cerita membuat serial produksi Stephen J Channel ini menarik minat.

Lalu, tahukah Anda dengan film Groundhoog Day? Bill Murray terjebak dalam satu hari yang sama berulang-ulang. Ada masanya ia merasa kesal, lalu mulai menikmati, dan terakhir mencoba living in it. Formatnya tidak diset sebagai sci-fi, karena sama sekali tidak dijelaskan alasan kejadian perulangannya. Film konsisten dengan alur komedi romantis upaya Murray dapatkan hati Andie McDowell. Untuk ini, Groundhog Day menjadi film cult yang menarik.

Source Code coba berdiri di tengah-tengah Quantum Leap dan Groundhog Day (tambahkan juga dengan The Matrix mungkin). Jake Gyllenhaal sebagai veteran perang Afghanistan yang terjebak perulangan 8 menit hidup seorang guru sejarah dalam kereta. Alasan "ilmiah" yang menjadikan film ini masuk genre techno-thriller adalah dimana ia memanfaatkan momentum penyeberangan alam jasad ke roh (selama 8 menit) untuk diinfiltrasi.

Lalu dimana letak Groundhog Day-nya? Inilah yang menjadi pangkal inkonsistensi. Film karya sutradara Duncan Jones (anak David Bowie) ini antara ingin menonjolkan aksi sabotase teror bom sekaligus upaya Sean/Colter memikat hati karakter yang diperankan Michelle Monaghan. Karakter Christina di film itu urgensinya minim namun membesar sebagai love interest Sean sekaligus distraktor misi Colter.

Tambahkan tema inkonsistensi pada plothole dan kesalahan detail, terutama ketika melibatkan karakter Capt Goodwin (Vera Farmiga) sebagai "operator" perjalanan kuantum protagonisnya.

Dosa terbesar dari inkonsistensi ada pada ending preachy-nya yang gagal menjadi konklusi manis film yang skenarionya ditulis oleh Ben Ripley ini. Echoing Soundgarden's song, sesungguhnya berkhotbah di akhir itu upaya yang sia-sia.
Reactions: 

Related

source code 6105498786608315874

Posting Komentar Default Comments

Follow Me

-

Popular

Arsip Blog

item