[PJ20 Screening Aftermath] Bagian 1: Pengalaman Sinematis

Bagian satu dari dua tulisan saya mengenai apa yang terasa setelah semalam menyaksikan -much anticipated- film Pearl Jam Twenty. Mencoba m...



Bagian satu dari dua tulisan saya mengenai apa yang terasa setelah semalam menyaksikan -much anticipated- film Pearl Jam Twenty. Mencoba memahami karya Cameron Crowe dari sisi saya sebagai penggemar film.



Film Pearl Jam Twenty akhirnya benar-benar mentas di Indonesia. Datang melalui relentless effort dari komunitas Pearl Jam Indonesia dan dukungan Bioskop Merdeka dan sejumlah pendukung lain, screening yang diadakan pada tanggal 20 September 2011 sukses menyedot animo 500 orang penonton. Sesuai dengan kapasitas gedung, maka show sehari (as in worldwide rule) itu tahbis sold out.

Saya yang kurang lebih sedasawarsa menggumuli komunitas penggemar Pearl Jam masih lumayan takjub dengan heterogenitas penonton yang memenuhi Epicentrum XXI untuk screening Pearl Jam Twenty. Beberapa menunjukkan militansi tinggi, datang dari luar kota (beberapa tanpa tiket), menyumbang sejumlah uang dalam aneka skema, dan juga penonton kasual yang telah mengeluarkan uang tiket tiga kali lipat harga normal.

Acara kali ini juga bisa dibilang sebagai acara berbau Pearl Jam yang paling high profile. Buzz dari banyak media sebelum acara sukses mendongkrak animo publik dan media, sehingga memunculkan apa yang saya bilang tadi, sebagai heterogenitas massa.

Dari ragam intensi dan karakter di dalamnya - termasuk sejumlah persona publik, mereka yang menonton bisa diklasifikasi menjadi tiga umat. Umat pertama adalah - tentunya - penggemar berat Pearl Jam, yang mana merupakan core dari komunitas Pearl Jam Indonesia. Umat kedua, yang juga tak kalah banyak, adalah mereka yang tumbuh bersama kuintet asal Seattle tersebut di era 90an. Lalu umat terakhir, meski minor, adalah pemerhati sinema, yang bisa diwakili dari grup sineas Mira Lesmana, Riri Riza, dan kawan-kawan. Para pegiat sinema ini tentu masuk dengan kemilau CV sutradara Cameron Crowe, melalui beberapa film masa lampaunya macam Say Anything, Jerry Maguire, Almost Famous, atau Singles.

Tiga jenis crowd yang berbeda, tentu mempunyai ekspektasi mengenai film Pearl Jam Twenty yang berbeda-beda. Film sepanjang dua jam ini - untungnya - punya scope apresiasi yang luas.

Mereka yang menunggu kaliber Cameron menggarap film dokumenter ini akan puas dengan konsep editing bertema kolase. Film Pearl Jam Twenty mirip dengan scrapbook yang menggabungkan banyak artefak-artefak berupa footage video dengan kolase teks, perpindahan antar adegan, dan sinkronisasi. Editor film (Chris Perkel dan Kevin Klauber) menggunakan tipografi handwriting untuk menegaskan hal ini, misalnya dengan memberi titel footage.

Footage menjadi bagian yang penting. Cameron mendapatkan 2000 jam lebih footage dari berbagai masa untuk dikompres menjadi durasi tayang. Sepertinya itu membentuk deskripsi tugas filmmaker dengan analogi menyusun puzzle dengan tema rangkuman 20 tahun Pearl Jam. Jadi memang tidak terfokus pada satu cerita/topik yang kemudian bisa di-engineer strategi ceritanya, sebagaimana di beberapa dokumentasi lainnya. Kiblat Cameron adalah film dokumenter Bob Dylan karya Martin Scorsese, "No Direction Home".

Pearl Jam Twenty kurang lebih dibagi menjadi 5 bab, sebagaimana yang tercantum dalam buklet program. Dalam bahasa saya: Foundation (TEN), Early Years (SURFING AS SALVATION), Fame and Popularity (VERSUS), Integrity (A LITTLE HELP FROM SOME FRIENDS), dan The Last Ten Years (NO CODE).

Bab pertama bercerita tentang Seattle sebagai latar mereka, dan munculnya Mother Love Bone (terutama karakter Andy Wood). Berlanjut ke tahapan awal karir pasca MLB (bagi Stone dan Jeff) juga mengenalkan tentang bakat Eddie Vedder yang -inevitably- akan dibandingkan dengan Andy. Bab ketiga mengenai puncak popularitas mereka, dengan perspektif paralel melalui, well, Kurt Cobain. Bab berlanjut dengan beberapa kasus yang memperlihatkan integritas Pearl Jam (notoriously Ticketmaster case). Film ditutup dengan sedasawarsa terakhir Pearl Jam (dibuka dengan tragedi Roskilde). Sedikit selingan adalah mengenai spinal tap moment di Pearl Jam, berbicara mengenai drummer.

Perpindahan antar bab biasanya diiringi dengan komentar Cameron Crowe yang menjadi narator film. Sementara masing-masing bab disusun (lagi) oleh (lebih) banyak footage film. Film ini adalah kolase footage. Transisi dan penyatuan antar-elemen footage (yang memiliki gaya sinematografi, tone warna, dan sebagainya) menjadi bagian penting. Oleh karenanya, menarik untuk melihat hal tersebut di dalam film.

Di beberapa bagian, ada footage perantara seperti ketika acara induksi Neil Young di Hall of Fame menjadi jembatan bab sebelumnya (Pearl Jam belajar dari Uncle Neil) ke perang dengan Ticketmaster. Atau model sinkronisasi yang memperlihatkan komparasi antar masa, seperti Crown of Thorns versi Vedder yang di-overdub ke Andy Wood. Sisi editing inilah mungkin yang paling memuaskan penonton yang ingin melihat dari sisi pengalaman sinematis. Pearl Jam Twenty adalah ekstravagansa arsip video yang coba disatukan dalam kolase film oleh Cameron Crowe dan tim.

Konsep kolase ini sepertinya dikonfirmasi dengan desain grafis film (as evidently shown in credit title).
Reactions: 

Related

screening 2964594716788485827

Posting Komentar Default Comments

Follow Me

-

SHOP

Popular

@helmantaofani

Arsip Blog

item