Kilas Balik Tulis-menulis

Ada flashback yang menarik ketika kawan saya menawarkan tautan e-book . Satu di antara banyak unduhan di situ melampirkan karya Hilman H...



Ada flashback yang menarik ketika kawan saya menawarkan tautan e-book. Satu di antara banyak unduhan di situ melampirkan karya Hilman Hariwijaya berjudul "Lupus: Interview with the Nyamuk". Ada satu konten (bila tak salah ingat) di dalam novel tersebut yang "berjasa" mengantar saya ke dunia tulis-menulis.

Alkisah Lupus terbang ke Amerika, dan rekan-rekannya: Boim, Gusur, Fifi Alone, dan Anto (not sure) melampiaskan iri hati mereka dengan travelling ke Yogyakarta menggunakan moda KA Ekonomi. Lalu kisahnya dimulai, berupa travelog, dari sudut pandang keempat orang tersebut. Tujuannya adalah untuk memanasi Lupus bahwa bertandang ke Yogya tak kalah seru dengan Amerika. Dan mereka berhasil!

Kisah itu sangat menginspirasi saya mengenai cara menulis. Bahasa yang mengalir, deskriptif, dan juga ngocol. "Assignment" menulis pertama saya jatuh pada sebuah tugas menulis travelog. Saya dan kawan-kawan di kampus, waktu itu, usai bertandang ke kota sebelah. Tujuan saya adalah menulis sama dengan Gusur cs, yaitu membuat agenda itu terasa lebih menarik dari sebenarnya, sehingga mereka yang tidak ikut akan merasa iri.

Saya mulai menulis dan melaporkan travel dengan gaya Hilman. Long story short, cara itu berhasil. Banyak kawan yang merespon cerita, yang saya lempar ke mailing list, dengan aneka komentar. Momen itu menjadi tetenger keyakinan, bahwa saya bisa menulis!

Pede bertambah, dan kemampuan naratif mengalir. Secara akademis, hal ini pertama saya uji ketika mengomposisi sebuah paper mengenai Perkembangan Arsitektur. Di saat pakemnya adalah menyusun karya ilmiah, saya menuliskan dengan bahasa mengalir. Bahasa bercerita. Subjeknya adalah tentang tendensi kompetisi tinggi-tinggian yang memengaruhi arsitektur sepanjang sejarah. Hasilnya sangat memuaskan.

Itu adalah d-day, yang ditandai dengan saya membuka website pertama beberapa saat sesudahnya untuk mengakomodasi minat menulis. Saat itu belum berkembang blog engine. Bila Anda membaca aksara 2003 di sidebar blog ini, itu adalah tahun yang sama dengan kejadian saya mendapatkan apresiasi perdana atas karya tulis, berupa nilai A untuk mata kuliah Perkembangan Arsitektur.

Menilik ke belakang, saya layak memberi kredit kepada Hilman Hariwijaya. Bukan lantaran nama kita sama, tapi juga jasanya membawa saya ke dunia tulis-menulis.
Reactions: 

Related

writing 8491882157304626499

Posting Komentar Default Comments

5 komentar

Shirley mengatakan...

Setuju. Hilman punya cara bertutur yg membumi dan bersahaja tapi yang paling penting menurut gw, terorganisir.

Ibarat tahapan dalam lesson plan gw, dia selalu ada Lead In, Scene Setting, Intro to Problem lalu Round up. Dan semua itu dilakukan dalam kerangka cerita yang memang kita lihat sehari-hari.

kudakudakuda mengatakan...

Hilman Taofani FTW!

Helman Taofani mengatakan...

Om Kuda, itu maksudnya Bu Sherly Hilman FTW itu Hilman Hariwijaya. Wakakaka.

iPul dg Gassing mengatakan...

dan elu sukses mengantar gue ke dunia blogging dan masih terus belajar sampai sekarang..

grande grazie!

Helman Taofani mengatakan...

Persisten adalah kuncinya, Daeng. And you have done well. :)

Follow Me

-

SHOP

Popular

@helmantaofani

Arsip Blog

item