Menikmati "Unpredictability" Blur

Mengikuti Blur adalah karena nilai unpredictablity -nya. Di dalam album, antar lagunya memiliki dinamika yang lebar, sehingga unpredict...


Mengikuti Blur adalah karena nilai unpredictablity-nya. Di dalam album, antar lagunya memiliki dinamika yang lebar, sehingga unpredictable. Di antara album, sinambung tidak menjadi hal wajib, sehingga memprediksi konsep album baru Damon Albarn cs bisa dikatakan unpredictable. Lalu live show, yang sepanjang mengamati aneka video di YouTube, setiap rendisi tidak pernah sama kualitasnya. Sekali lagi, unpredictable.


Sisi itu juga menjadi menarik untuk dinanti ketika Blur mewujudkan konser pertama mereka di Indonesia setelah 22 tahun sejak rilis album perdana. Premis telah terlontar dari Graham Coxon dalam konferensi pers sehari sebelum penampilan band asal Inggris ini di Big Sound Fest, Rabu (15/5).

"Kami suka bermain-main dengan setlist. So, nantikan saja besok," ujar Coxon ketika ditanya tentang repertoir yang dibawakan untuk konser.

Sebelum bermain di Indonesia, Blur manggung di Hong Kong. Setlist di eks koloni Inggris itu bisa diintip di website macam setlist.fm yang memperlihatkan susunan lagu. So, dengan komentar Coxon, serta asumsi unpredictablity band yang sempat bernama Seymour itu, saya berharap ada dimensi beda - setlist wise.

Membuka dengan Theme from Retro yang dilanjut ke Girls and Boys, sekitar 7000 penonton memanas. Single yang melejitkan Blur ke pop chart ini sekaligus langsung mematahkan keraguan Coxon.

"Fans Blur banyak di Indonesia? Mari kita buktikan dengan bernyanyi bersama di konser," kata Coxon dalam konferensi pers.

Popscene (Modern Life is Rubbish, 1993) dan There's No Other Way (Leisure, 1991) menyusul. Variasi tiga lagu awal dari tiga album berbeda bisa membuat konsep unpredictability-nya masuk. Tetapi tiga set awal ini pula yang mengawali set Hong Kong, disusul dengan Bad Head (Parklife) yang baru dibawakan lagi sejak 2009. Lagu penurun tempo ini adalah sesuatu yang baru di tur Asia kali ini.

Beetlebum dan Out of Time membuka sesi dua setelah Albarn menyapa penonton.

"Hello Jakarta! Sorry took twenty years, but here we are now."

Menyusul berikut adalah kuartet lagu dari album 13. Album dengan diversitas paling luas dari katalog Blur, dengan produser yang berbeda dari album-album sebelumnya. Trimm Trabb dan Caramel mempunyai karakter yang berbeda, dengan Albarn memamerkan kemampuannya bermain multi instrumen. Tetapi, berbicara album 13 tentu yang paling ditunggu adalah Coffee and TV.

Ketika intro didendangkan, penonton "pecah". Lagu yang dinyanyikan Graham Coxon ini kembali memicu koor massal. Tapi jujur, lagu ini cenderung flat ketika dibawakan live. Groove dari bas Alex James tak banyak terdengar, tertutup sound gitar Coxon. Dengan demikian, nyawa lagu ini berkurang sebagian. Well, setidaknya ini aspek unpredictability dari konser Blur yang konon tidak pernah sempurna dari sisi sound.

Hal yang tak terprediksi selanjutnya adalah betapa bagusnya Tender dalam rendisi live dari kacamata penonton. Lagu beraroma southern gospel ini cenderung membosankan didengar dalam versi studio. Tapi dengan tempo yang agak lebih cepat, ditambah sahutan koor penonton kala bridge dan reff memberi dimensi lebih bagi Tender.

Klimaks set tampaknya dimulai dari Coffee and TV, Tender, dan dua lagu berikut. Country House yang dimainkan back to back dengan Parklife jelas membuat suasana liar. Usai keempat lagu ini Albarn mengomentari positif audiens Jakarta dan mengirim set cooling down tiga lagu sebelum masuk encore.

Under the Westway, single terbaru Blur menjadi pengawal encore. Damon Albarn duduk di grand piano menyanyikan theme song kehidupan urban di London. Backdrop selama konser adalah pemandangan di bawah jalan layang Westway. Lagu ini sepertinya belum banyak dikenal oleh mayoritas penonton. Berbeda dengan dua lagu berikut yang dihantar, yakni For Tomorrow (Modern Life is Rubbish, 1993) dan The Universal (The Great Escape, 1995) yang lebih populer karena berasal dari trilogi album paling populer dalam diskografi Blur (diselingi Parklife).

Tapi lagu paling populer di antara segalanya tentulah Song 2. Tak sedikit penonton yang mempertanyakan di mana lagu yang berdurasi kurang dari dua menit ini sejak awal konser. Seperti halnya set Hong Kong, Song 2 digunakan untuk mengakhiri konser. Ketika drummer Dave Rowntree menabuh beat yang familiar, sontak penonton berteriak "woo-hoo" yang makin membahana usai disahut riff Graham.

Wave masif dan tanah yang bergetar menjadi bukti sahih popularitas Song 2. Suara Albarn nyaris tenggelam ditelan paduan suara dari Lapangan D, Senayan malam itu. Ini mungkin cara Blur untuk meninggalkan kesan klimaks usai konser. Tapi antara klimaks dan tanggung itu adalah hal yang berimpit. Agak awkward rasanya meninggalkan venue usai mengalami pengalaman komunal yang cukup dahsyat bersama penonton lain.

Tapi itulah Blur. Di luar set mereka yang predictable (100 persen sama dengan set Hong Kong), upaya mereka mengatur alur setlist cukup out of the box. Susunan cermat naik-turun yang terjaga, diakhiri dengan klimaks, sehingga meninggalkan impresi beragam usai konser. Bila parameternya adalah sepanjang konser, maka penilaiannya adalah pada antusiasme dan kenikmatan penonton yang rupanya mampu memberi energi balik ke atas pentas.

"Thank you Jakarta, you're the one who brought the spirit," tegas Albarn di akhir set.

Setlist Blur
Place/Date: Lapangan D, Senayan, Jakarta/Rabu, 15 Mei 2013

Intro:
Theme from Retro (Blur, 1997)

Main Set:
Girls and Boys
Popscene
There's No Other Way
Bad Head
Beetlebum
Out of Time
Trimm Trabb
Caramel
Coffee and TV
Tender
Country House
Parklife
End of a Century
Death of a Party
This is a Low

Encore:
Under the Westway
For Tomorrow
The Universal
Song 2

Photo courtesy of Rolling Stone
Reactions: 

Related

setlist 2480801809775839919

Posting Komentar Default Comments

Follow Me

-

SHOP

Popular

Arsip Blog

item