Harga Mahal Kemerdekaan

Selasa, 04 Maret 2014

Bila ditanya mengenai pelanggaran HAM apa yang paling banyak mengubah dunia, niscaya jawabnya adalah perbudakan. Kepemilikan properti manusia ini dicatat dalam kitab agama samawi sehingga sejarahnya terentang jauh di mula peradaban manusia.


Perbudakan mengubah lansekap persebaran ras manusia. Kaum Israel tercerai-berai awalnya akibat perbudakan. Lalu bangsa Afrika yang kemudian mengalami diaspora, terutama ke benua Amerika. Mereka kemudian menyebar, menempel bersama kolonialisme.

Satu fragmen yang hendak dicatat adalah rekaman perbudakan yang melanda Amerika Serikat, melalui film 12 Years a Slave, pemenang Best Picture dalam ajang Academy Awards yang rampung kemarin (2/3). Solomon Northup adalah embrio awal kesetaraan. Terlahir sebagai negro merdeka dari ayahnya, seorang budak yang dibebaskan oleh juragannya yang bernama Northup, Solomon harus menjalani 12 tahun penuh pederitaan demi kata "merdeka" yang ternyata mahal harganya.

Amerika, saat itu, ada dalam pertengkaran panas mengenai debat kepemilikan manusia sebagai salah satu properti harga. Belahan utara mengabolisi hukum kesetaraan. Sementara di selatan, kepemilikan budak malah diatur dalam undang-undang. Bagaimana mereka memperlakukan budaknya, itu kembali ke masing-masing individu. Juragan pertama Solomon, William Ford, adalah pribadi yang cukup humanis. Sementara pemilik keduanya, Edwin Epps, di mana Solomon mengabdi satu dekade, adalah orang yang lumayan kejam.

Kata "merdeka" sangat rawan di sini, ketika para budak bahkan tidak bisa memilih majikannya. Dalam hidup tanpa kemerdekaan, bagaimana kita memelihara harapan? Di sini letak kebebasan, dan nikmat yang diperoleh darinya seakan kembali diingatkan untuk senantiasa disyukuri.

Meski negara kita pernah mengalami separuh perbudakan pada masanya dulu, tapi penderitaan paling pilu terjadi pada orang-orang yang dikapalkan dari Afrika ke benua Amerika. Mereka dan keturunannya berharap kehidupan lebih baik dibanding dikejar-kejar raja bengis dan pertikaian antarsuku di kampung halamannya. Tujuannya adalah melihat cahaya di dunia yang berbudaya. Ternyata kilau itu memerangkap mereka dan lebih tragis lagi, anak-anak mereka.

Sekarang ini, seperti dikutip dari pidato kemenangan Steve McQueen dalam Academy Awards, 21 juta lebih manusia mengalami penindasan seperti perbudakan. Wujudnya bisa jadi trafficking, kerja paksa, dan tipu-daya lainnya. Penindasan semacam itu selalu membutuhkan aparatus resital yang harus berulang kali diputar sebagai pengingat agar tragedi macam itu tak akan terjadi lagi.

Untuk itulah Solomon Northup bertahan hidup, hidup, dan menuliskan memoarnya. Bahwa harga kebebasan itu sangat mahal.

3 komentar:

Muhammad Hallala mengatakan...

baru habis nonton "12 years a slave" jg kmrn mas :D haha, dengan nilai yang cukup tinggi di beberapa media dalam me-review film ini, memang cukup inspiratif ni film... aktingnya keren2 pemerannya... sekali lagi, anehnya film2 bagus spt ini kurang booming di Indonesia :D hehe...

Helman Taofani mengatakan...

Ini juga udah beredar dan makin hot gara-gara jadi Best Picture.

social bookmarking mengatakan...

negeri kita memang masih belum lepas dari namanya penjajahan

 

Tentang Penulis

Foto Saya

That guy from small town that often misspelled as "Tumenggung". Graduated from Architecture school but choose my own destiny as industrial worker. Now father of two and husband for the chosen one. All is well.
twitter face email hilman_t

Tulisan Terpopuler