Let's Go Italy: Pearl Jam di San Siro

Saya dan beberapa penonton “impor” berharap bahwa konser Pearl Jam akan menjadi “Buenos Aires”-nya Eropa. Dalam arti mengimitasi habit pen...

Saya dan beberapa penonton “impor” berharap bahwa konser Pearl Jam akan menjadi “Buenos Aires”-nya Eropa. Dalam arti mengimitasi habit penonton Argentina dalam menghadirkan koor masif mengikuti (bahkan) solo gitar.


Di lagu pertama, Pearl Jam membuka dengan “Release”, himne kedewasaan seseorang yang mirip mantra karena diawali dengan “oooohm”. Ini adalah lagu pembuka paling favorit dari fans, meski jawara pembuka saya tetaplah Sometimes dari album No Code.

Sesuai standar kekinian, set dibuka dengan rangkaian lagu pelan. Menyambut Release adalah balada “Nothingman” dari album Vitalogy. “Sirens” dan “Black” mengikuti di belakangnya yang menjadikan kuartet pembuka ini sangat special karena merupakan lagu-lagu favorit fans. Apakah Buenos Aires terjadi di San Siro. Tak seberapa, tapi menyaksikan gestur tangan mengikuti aba-aba Vedder ketika outro Black tetaplah membuat bulu kuduk saya berdiri.

Usai kuartet slow, Pearl Jam menggebrak dengan “Go” yang langsung disambut lompatan penonton. Dari atas, massa di lapangan seolah lautan yang terguncang badai. Lagu-lagu berikut tak memelankan badai, malah tambah mengaduk-aduk stamina penonton. Salah satunya adalah “Corduroy”, lagu nomer satu Pearl Jam bagi saya. Saking histerisnya, saya sampai teriak kencang begitu intro mengalun.

“Cordurooooooooy…” pekik saya.
Si. Mamma mia,” kata Italiano di depan saya yang ternyata juga menggemari lagu ini.

Tone menurun usai beberapa set lagu kencang. Vedder mengalunkan petikan yang khas untuk mengantar ke “Untitled” sebelum bersambung “MFC”. Lagu terakhir itu selalu spesial di Italia lantaran memang diciptakan Vedder ketika menumpang mobil-mobil mini yang mendominasi jalanan Roma. Ia sedikit berimprovisasi dengan mengganti kata “fucking” dengan kosakata lokal.

They don’t live in here/as come in near/vaffanculo she’s disappear…

Usai MFC, Pearl Jam melanjutkan katalog Yield dengan melantunkan single pertama dari album kelima tersebut, “Given to Fly”. Karena sudah kelewat mabuk, Vedder lupa dengan part pertama dari lagu beken ini.

Beberapa lagu rarities mewarnai set utama yang molor 3 lagu. “Pilate”, “Who You Are”, “Sad”, dan “Setting Forth” dibawakan sebelum Pearl Jam menutup dengan “Rearview Mirror”.

Usai encore, seperti biasa, Pearl Jam membawakan seated set. Sama seperti pembuka, sejumlah lagu slow dibawakan beruntut. Diawali “Yellow Moon”, kemudian disusul “Small Town” dan kemudian “Thin Air” serta “Just Breathe”. Bila Vedder mempersembahkan Just Breathe untuk istrinya, Jill McCormick, maka Thin Air adalah lagu pernikahan saya. So, set malam itu sangat spesial.

Mengakhiri encore pertama adalah deretan greatest hits yang diawali “Daughter”. Yang lucu Vedder menyisipkan lagu “Let it Go” dari soundtrack film animasi Frozen ke dalam improvisasi Daughter. Dari sekian butleg yang saya dengar, Daughter di Milan termasuk yang paling panjang karena memuat juga ‘WMA” dan “It’s OK”.

Later, tag Let it Go menjadi viral dan jadi perbincangan di media. Truth is, tag itu lebih tampak seperti rant akibat mabuk wine. Not meant to be serious.

Dari “Jeremy” hingga penutup encore “Porch” adalah titik didih penonton. Tribun seated tempat saya duduk (dead straight di depan panggung) segera ditinggalkan karena penonton tribun turun ke depan untuk slam dance dan moshing. Totally shivering riot. Saya teringat massa konser tribut Pearl Jam di Jakarta yang intens di front row. Kali in di front rail tribun.

Usai meninggalkan sejenak arena, Pearl Jam kembali untuk menutup show dengan tiga lagu pamungkas. “Alive”, “Rocking in the Free World”, dan “Yellow Ledbetter” menjadi set penutup standar yang juga mengingatkan penonton bahwa jam sudah mendekat ke tengah malam – atau waktu bis kota berhenti beroperasi.

Kekuatiran transportasi rasanya jadi prioritas kesekian. Pearl Jam memberikan impresi luar biasa untuk melupakan masalah sehari-hari yang ditandai dari lebar senyuman para penonton ketika keluar. Beberapa menangis ketika Yellow Ledbetter. Gina, istri saya, juga masih belum percaya show berakhir meski sudah 33 lagu dibawakan selama hampir 3 jam.

Bagi saya, meski membuktikan ucapan Gianluca Vialli dengan melihat Eddie Vedder seperti bakteri dari tribun, tetapi menonton Pearl Jam di San Siro adalah cumulative dream come true.
Reactions: 

Related

vedder 4267178926164588576

Posting Komentar Default Comments

3 komentar

Nito Septian mengatakan...

Mavrur! Next time di Jakarta dan front row ya, amin!

Helman Taofani mengatakan...

Amiin!

Farry Aprianto mengatakan...

You are so lucky Helman Taofani can experience 2 things you love: Pearl Jam and (AC) Milan. :_

Follow Me

-

SHOP

Popular

@helmantaofani

Arsip Blog

item