Espressamente Illy Experience

I am here for the espresso. Dua bulan ini saya mengonsumsi pre-ground coffee Illy menggunakan DeLonghi EC155 di rumah. Dibanding Italian...


I am here for the espresso. Dua bulan ini saya mengonsumsi pre-ground coffee Illy menggunakan DeLonghi EC155 di rumah. Dibanding Italian roast pre-ground lainnya, Illy masih (salah satu) yang terdepan.

Lalu bagaimana kopi Illy disiapkan oleh in-house barista mereka, at their in-house cafe? Saya sering mencoba Illy-serving cafe di beberapa tempat. Tetapi, ketika mengetahui bahwa pengemas kopi asal Trieste itu membuka kafenya di Jakarta, penasaran juga ingin mencobanya.

Ada tiga Espressamente Illy di Jakarta. Dua di kisaran Thamrin, dan satu lagi dekat dengan kantor, di Plaza Senayan. Jadi saya memutuskan mencoba Espressamente di PS. Waktu eksekusi sore hari, sembari menunggu undangan screening film San Andreas. So, accordingly, it is not a proper timing for cappuccino. Padahal tips tes barista paling gampang ya dari cappuccino. But I honor the tradition. So we'll go with espresso and then macchiato.

Speaking about the place, tadinya saya pikir Espressamente adalah espresso bar. Ternyata bukan. Ia adalah kafe, karena menyajikan juga makanan dan minuman yang lumayan variatif. Tapi kaya gini common juga di Jakarta. Yang stay true dengan konsep espresso bar malah gerai macam Starbucks (oh the irony).

Still speaking about the place. Espressamento terletak sederet dengan Pepper Lunch dan Sushi Tei. Atau kalau yang sering ke PS, letaknya ada di foodcourt sebelah utara. Seberangan dengan Duta Suara.

Varian espresso yang ditawarkan lumayan banyak. Rekomendasinya adalah olahan espresso dingin mereka. Well, saya jadinya meralat rencana yang tadinya mau jalan dengan espresso dan macchiato. Alasan pertama, harga espressonya mahal (Rp 27.000). Kalau gini mending nge-shot di rumah, ya kan? Jadi saya ganti dengan espresso shakerato. Sambil nyolong standar taste untuk dipraktekkan di rumah.

Karena lapar, saya mencari kudapan pendamping. Lucunya, sebagai yang disangka espresso bar, hampir ngga ada snack (atau pastry, atau apalah). Mayoritas makanan berat. Jadi, dengan sangat terpaksa kita pasangkan kopi dengan steak salmon. Anggur muslim menggantikan anggur aslinya.

Espresso shakerato hadir duluan, dengan gula yang dipisah dan gelas khas Milanesi (lebar di atas, ngga lazim untuk kopi). First sip, agak cair dan kurang pahit. Saya tidak punya bandingan, tapi yang saya bikin biasanya masih meninggalkan signature espresso-nya. Yang ini hampir tak terasa.

Second sip, ketika medium body-nya mulai terasa, masih juga tak ada "that bitterness". Saya mulai curiga apakah ini terlalu banyak komposisi air? Ataukah ada gula yang dimasukkan? Sepertinya keduanya.

Bila pure espresso shot di-shake dengan es, busanya akan sangat banyak dan airnya cenderung lebih sedikit. Makanya kadang-kadang disajikan di gelas kurus dan diberi layer susu di bawahnya. But (I think) never add water.

Karena agak kecewa dengan espresso shakerato, saya berpikir untuk melanggar tradisi dengan memesan tester paling mudah: cappuccino. Tetapi, ketika melihat etalase bahwa mereka memajang automated espresso machine kapsul, saya agak paranoid juga bila yang disajikan berasal dari mesin itu. Jadilah espresso shakerato rasa air itu beverage terakhir yang saya sesap. Tentunya diselingi dengan salmon steak yang (untungnya) enak.

On the plus, nama espressamente benar-benar dihayati dengan menyajikan olahan espresso. Mungkin bisa menginspirasi layaknya YouTube Illy. Varian freddo-nya juga menggoda dicicip satu-satu.

On the nay, mahal! Benar-benar mengkapitalisasi kaleng Illy. Saya bisa membuat shot sekitar dua minggu, bila dikurs menggunakan valuta Espressamente maka bernilai sekitar setengah juta! Whaat?
Reactions: 

Related

urban living 3727074063458861200

Posting Komentar Default Comments

Follow Me

-

Popular

Arsip Blog

item