Kemenangan Perang Sipil Marvel

Usai dikecewakan dengan Batman Vs Superman: Dawn of Justice , yang berpanjang debat , saya agak santai menanggapi rilisan Captain America...


Usai dikecewakan dengan Batman Vs Superman: Dawn of Justice, yang berpanjang debat, saya agak santai menanggapi rilisan Captain America: Civil War. Sebagai informasi, saya bukan penggemar serial Avengers dan Thor yang dirilis Marvel, terlepas dari berapapun tinggi rating di Rotten Tomatoes.

Bagi saya, film capaian tertinggi Marvel adalah Iron Man jilid pertama. Di bawahnya baru Captain America: Winter Soldier. Sisanya, seperti yang di-suggest meme-meme meledek Marvel fanboy, terlalu pop, kadar humor tinggi, dan terlalu banyak karakter. Dugaan saya, Civil War akan berformula sama, mengingat banyaknya karakter yang terlibat, sampai-sampai saya acap salah ingat bahwa ini adalah serian Captain America, bukan Avengers atau Iron Man.

Sebagai serian Captain America, tantangan pertama adalah mampukan protagonisnya diemban oleh Steve Rogers. Adilkah demikian dengan program kampanye yang menggiring penonton untuk terbelah menjadi #TeamCapAm dan #TeamIronMan - apakah artinya Iron Man menjadi co-protagonis? Bila demikian, mengapa ia tidak mendapatkan tempat di title?

Tantangan kedua adalah menangani multiple-characters yang ada di dalam satu film. Saya masih agak trauma dengan penggambaran "penting"-nya karakter Hawkeye melalui scene melodrama yang berlebihan di Avengers: Age of Ultron. Kesan yang ditangkap adalah Marvel sudah membayar mahal untuk Jeremy Renner. Sayang bila ia hanya menjadi tokoh tidak penting (yang memang tidak penting).

Ketiga, kemungkinan intervensi skenario, belajar dari pengalaman Batman Vs Superman, sebagai konsekuensi film di dalam kontelasi film-film bertema sama (Marvel Cinematic Universe). Apalagi saya mendengar masuknya Spider-Man agak-agak datang belakangan, akibat keberhasilan memutus kontrak dengan Sony. Ini mungkin akan berpotensi sempilan Justice League di dalam BVS.

Fact check?

Setelah melalui 2 jam yang menyenangkan (plus bertahan lama untuk dua post-credit scenes), saya berkesimpulan "bagus" untuk poin pertama dan kedua, serta "not bad" untuk poin ketiga.

Captain America tetap mampu menjadi tuan rumah di Civil War. Jalan ceritanya berpusat pada keputusan-keputusan yang diambil Cap. Meski porsi Tony Stark cukup dominan, tetapi masih bisa dirasakan bahwa ini adalah film Captain America. Apalagi dengan referensi-referensi dari film pertama dan kedua (meski porsi referensi film Avengers juga hadir). Iron Man sendiri memiliki porsi penceritaan yang cukup kuat, terutama memengaruhi jalan cerita. Kompromi ini diakhiri dengan penyelesaian cerita yang elegan.

Ensemble characters, dari tokoh lama ditambah dengan hadirnya Black Panther, Spider-Man, dan Baron Zemo, mempunyai peran masing-masing dalam mengubah jalan cerita. Bahkan War Machine dan Sam Wilson yang biasanya hanya mengekor karakter Iron Man dan Captain America memiliki porsi sendiri yang cukup signifikan. Kehadiran Ant Man dan Spider-Man lebih kepada penyeimbang chatty heroes yang bisa memberikan nuansa khas Marvel. Mereka memancing punchline-punchline kocak yang menyegarkan film, tapi sesuai dengan khittahnya di komik (bandingkan dengan frasa "puny god" yang diucapkan Hulk di Avengers).

Skenario yang digarap cukup mulus, meski terlihat dengan tempelan scene Spider-Man. Tapi karena peran Spidey lebih kepada yang diulas di paragraf atas, menjadikan kehadiran Marissa Tomei sebagai Aunt May tidak terlalu mengganggu. Hats off, Christoper Markus dan Stephen McFeely.

Captain America: Civil War memang membuktikan meme stereotipikal Marvel tadi. Pop, humor, dan banyak karakter. Tanpa embel-embel "terlalu" karena bila diselesaikan dengan baik, dan sesuai dengan tujuan awalnya, tak akan membuat polarisasi tajam antara penggemar komik yang ingin melihat visualisasi, dengan penonton umum yang mencerna film sebagai media hiburan. Beberapa visualisasi ikonik tetap dipertahankan, in case Anda ingin geek-ing dengan membandingkan panel komik dan film. Kalau yang ini salutasi buat duet Joe dan Anthony Russo di kursi sutradara.

Bagi saya, Captain America: Civil War ini adalah grafik pemuncak dari trilogi Captain America. Berawal agak membosankan di film pertama, naik tajam ketika Winter Soldier, dan berhasil kembali naik di Civil War. Berangkat dari rating saya, artinya film ini bisa menyamai (atau mungkin melebihi) standar yang sudah dibuat Iron Man kala dibesut oleh Jon Favreau.

Film adaptasi komik bisa dibuat untuk penggemar komik maupun penonton umum. Capisce, DC?
Reactions: 

Related

STICKY 152375907566531907

Posting Komentar Default Comments

Follow Me

-

Popular

Arsip Blog

item