Masih Gila Bola

Usia boleh bertambah, zaman boleh berubah, tapi kecintaan saya terhadap sepakbola rasanya tak pernah padam. Mungkin masih masuk dalam kat...


Usia boleh bertambah, zaman boleh berubah, tapi kecintaan saya terhadap sepakbola rasanya tak pernah padam. Mungkin masih masuk dalam kategori gila bola.

Piala Eropa lalu, grup Whats'App (WAG) saya tak pernah berhenti mengirim notifikasi tiap ada pertandingan. Pilihannya, bila tidak menonton, bisa juga mengikuti "live" bola di WAG. Kebetulan kami membahas Piala Eropa karena mengikuti gim Fantasy Euro yang disediakan oleh UEFA.

Zaman menjadi mahasiswa, saya cukup gila untuk membuat rekapitulasi nilai (bahasa Italia-nya: pagelle) penampilan pemain sepakbola Liga Italia. Nilai ini biasanya diterbitkan oleh tabloid Bola edisi Selasa, waktu itu, sebagai ulasan atas partai yang digelar Minggu. Senin pagi, rating ini biasanya sudah terpampang di majalah dinding kampus Arsitektur UNS. Saya mendapatkannya dari situs RAI Sport pada Senin dinihari.

Kegilaan terhadap bola barangkali yang membuat saya "melestarikan" klub bola Arch et Futbol (AeF), untuk kalangan mahasiswa arsitektur (kami bukan Fakultas, jadi tidak bisa membentuk UKM berdasarkan jurusan). Selain bermain bola di lapangan (belum eranya futsal), kegiatan lainnya adalah menyalurkan hobi dan passion mengenai bola. Memainkan Championship Manager (sekarang Football Manager) sampai mempunyai istilah "ngantor" lantaran menyita sekitar 8 jam per-hari dari hidup idle ala mahasiswa.

Sekarang ini kami, eks anggota AeF, masih cukup gila untuk menyalurkan passion terhadap sepakbola. Ini akan memasuki tahun ketiga di mana kami memainkan gim fantasy football. Barangkali Anda kenal dengan gim Fantasy Premier League (FPL). Itu adalah salah satu contoh. Kami memainkan ENAM yang seperti itu.

Selain FPL, kami juga memainkan Fantasy Serie A, Fantasy Bundesliga, Fantasy La Liga, Fantasy Champions League, dan Fantasy Europa League dalam satu musim kompetisi. Hasilnya ditabulasi, dan akan ada juara umum. Yang seru, setiap pekan (atau bila ada pertandingan midweek) keseruan ini dibahas dalam WAG. Ketinggalan pertandingan, bersiap ada ratusan unread message hadir esok paginya.

FPL barangkali platform paling populer karena memang mengenai liga paling diikuti seluruh dunia. Selain itu, FPL adalah pionir yang didukung raksasa produsen gim, EA Sports. Jadi, bicara interface, gameplay, dan sebagainya, FPL tentu juara. Selain itu, sistem penilaiannya juga mengenal bonus points sehingga nilai yang diraih dari FPL menjadi tinggi (dibandingkan platform Fantasy lainnya).

Fantasy Serie A, Bundesliga, dan La Liga diproduksi oleh provider yang sama. Dengan skema permainan mirip FPL (versi lebih rendah dalam urusan gameplay dan interface), penggunanya tak sebanyak FPL. Meski demikian, ini adalah platform paling populer bagi penggemar liga-liga tersebut. Jeleknya, ada pengguna berbayar yang memiliki fasilitas lebih sehingga sulit bagi pengguna umum untuk mendapatkan hasil yang seimbang.

Terakhir, Champions League dan Europa League disediakan oleh UEFA. Secara interface, bersaing dengan FPL. Sayangnya, permainan Champions League dan Europa League tidak diselenggarakan tiap pekan, sehingga pengguna sering tertinggal. Meski demikian, bermain Fantasy ini tetap seru, terutama di Europa League, yang oleh grup kami ditahbiskan sebagai Fantasy paling susah. Pilihan Anda adalah menebak rotasi klub liga elit atau memilih pemain dari klub antah-berantah seperti Kuban Krasnodar.

Di masa pre-season seperti ini, kami sudah tak sabar untuk menunggu musim bergulir. Bagi stamina karyawan seperti kami, menonton semua pertandingan menjadi hal naif untuk dilakukan. Paling maksimal adalah memantau atau melihat analisa via Livescore atau Whoscored. Ditambah dengan bumbu-bumbu provokasi persaingan dan celaan, mengikuti liga via Fantasy menjadi kenikmatan sendiri bagi penggila bola.

So, dare to challenge?
Reactions: 

Related

uefa 1358964521739538802

Posting Komentar Default Comments

Follow Me

-

SHOP

Popular

@helmantaofani

Arsip Blog

item