Guns N Roses Empat Tahun Kemudian

Empat tahun berselang, konser Guns N’ Roses di wilayah Asia Tenggara menggariskan perbedaan yang masif. Paling kentara adalah dari upah...


Empat tahun berselang, konser Guns N’ Roses di wilayah Asia Tenggara menggariskan perbedaan yang masif. Paling kentara adalah dari upah manggung Axl Rose dkk, sebagaimana dilansir dari Poll Star, dari figur 500.000 dollar AS menjadi tiga juta. Axl menggandeng kembali gitaris kribo, Slash, dan pemain bas Duff McKagan untuk melengkapi 60% formasi klasik di tur yang bertajuk “Not in This Lifetime”. Sabtu (25/2), GNR menyinggahi Singapura untuk pertama kali.

Sekitar dua jam usai penampilan band pembuka dari Australia, Wolfmother, tanda-tanda munculnya band hard rock asal Los Angeles ini dimulai dengan latar panggung yang menampilkan logo klasik GNR, bedil dan mawar dengan tulisan melingkar di atas replika peluru. Tepat jam 20.30 waktu Singapura, alunan Merry Melodies, yang biasa membuka serial kartun Looney Tunes mengalun tanda konser hendak dimulai. Panggung gelap, musik yang menjadi latar film “The Equalizer” (digubah oleh Harry Gregson-Williams) muncul dan selepasnya into “It’s So Easy” menyibak para personil GNR.

Guns N’ Roses merupakan alumni skena Sunset Strip, Los Angeles, Amerika Serikat. Mengejutkan dunia dengan album Appetite for Destruction (1988), mereka membawa hard rock ke audiens global kala merilis Use Your Illusion pada 1991. Di selanya, album LIES dirilis, satu sisi berisi rekaman panggung mereka sebelum album pertama. Separuhnya lagi notasi manis di atas instrument akustik.
Atas aksi panggung dan kelakuan yang eksentrik dari personilnya, band ini sempat dijuluki sebagai “The Most Dangerous Band in the World”. Mereka terkenal dengan “ngaret”-nya, kadang menunda konser hingga tiga jam. Kisah ini banyak terungkap kala tur mendukung album Use Your Illusion ke seluruh penjuru dunia, hingga menemui kulminasinya di Argentina pada tahun 1993. Usai konser di Buenos Aires, Guns N’ Roses memecat Slash, Duff, dan drummer Matt Sorum. Praktis 80% elemen GNR.

Slash, Duff, dan Matt membentuk Velvet Revolver. Sedangkan bendera GNR tetap disokong Axl Rose, didukung oleh kibordis Dizzy Reed, untuk merilis album Chinese Democracy. Album ini mendapatkan pembiayaan dan dukungan dari label Geffen meski molor sepuluh tahun hingga akhirnya rilis pada 2008 dengan dukungan tak kurang dari 12 musisi. Lamanya rilis sejak album sebelumnya membuat album baru GNR ini disambut dingin oleh penggemar. Personil band, meski menggunakan nama-nama tenar seperti Buckethead hingga Ron “Bumblefoot” Thal, tak pernah selamat dari perbandingan dengan line up klasik. Paling menderita adalah departemen gitar, yang bahkan ketika DJ Ashba, gitaris di periode 2012, tampil di atas panggung dengan topi tinggi, selalu diteriaki “fake Slash”.

Maka, tidak kaget juga bila lagu dari Chinese Democracy ditanggapi dingin, bahkan hingga kini setelah Axl kembali bersama Slash dan Duff. Lagu titel album yang juga dibawakan di Singapura membuat sebagian besar yang hadir menebak-nebak. Demikian juga dengan dua nomor lainnya, “Better” dan “This I Love”, meski terbukti setelah konser usai menjadi lagu yang meninggalkan bekas.

Yang ditunggu oleh penonton adalah lagu-lagu yang menguatkan alasan kenapa Slash dan Duff perlu kembali seperti “Mr Brownstone”, “Welcome to the Jungle”, “Estranged”, atau “You Could Be Mine”. Ketika lagu dari tiga album awal dibawakan, sambutan meriah pasti akan didapat.

Kita tak dapat menyalahkan penonton lantaran peran yang dimiliki Slash dan Duff sangat besar sebagai komplimenter Axl dalam membuat lagu. Guns N’ Roses adalah band rock yang membawa dimensi melodi sangat besar. Sebagian besar lagu mereka memiliki hook yang menancap, dari melodi yang dihasilkan vocal, gitar, dan bas. Perbedaan mendasar ketika Axl membuat album tanpa Slash dan Duff adalah hilangnya kompadre yang membawa zen. Lagu-lagu dari Chinese Democracy masih mempunyai hook melodis, tetapi kadang menjadi tidak sinkron dengan bagian lain.

Kasus berbeda, tentunya, dengan lagu-lagu macam “Sweet Child O’ Mine” yang melegenda. Ketika intro dialunkan saja, teriakan kencang (yang didominasi penonton perempuan) membahana di Changi Exhibition Center yang (berdasar catatan panitia) disesaki oleh 50.000 pengunjung. Lagu ini adalah testimoni sahih mengenai kemampuan GNR mencipta melodi. Dari intro, vokal, hingga solo gitar bisa dengan mudah diingat, meski sebagian demografi yang hadir sudah dalam ambang paruh baya. Inilah porsi kenapa manajemen GNR berani menaikkan tarif hingga enam kali lipat dengan penambahan Slash serta Duff.

Slash bahkan, bisa dibilang sebagai bintang sesungguhnya dari konser yang berjalan selama 3 jam dan berisi 24 lagu tersebut. Gitaris yang identik dengan topi tinggi, kacamata hitam, dan rambut kriting panjangnya ini selalu hadir di atas panggung. Baik mengawal Axl, maupun hadir sendiri dengan atraksi-atraksinya. Dari awal, strategi “menjual” pria bernama asli Saul Hudson ini sudah disadari oleh GNR. Ia diberikan sorotan yang nyaris seimbang dengan Axl. Oleh karena itu, ketika keduanya berseteru di 1993, GNR dianggap bubar. Tanpa Slash, GNR versi Axl hanya separuh komplit. Sejak 1993, penggemar selalu mendamba rekonsiliasi antara dua legenda rock tersebut yang seraya ditanggapi Axl dengan kalimat “not in this lifetime”.

Di antara personil GNR era baru, yang paling setia adalah gitaris Richard Fortus. Perannya mengisi Izzy Stradlin, monumen dari formasi klasik, dan kemudian Gilby Clarke. Masa bakti Fortus (14 tahun) bahkan sudah melewati Slash dan Duff. Hanya Dizzy Reed (25 tahun) yang lebih awet mendampingi Axl.

Fortus, karena sudah lama di GNR, tidak tampak tenggelam oleh kehadiran Slash dan Duff. Beberapa kali ia memamerkan atraksi memetik senar, termasuk ketika berduet dengan Slash membawakan “Wish You Were Here” milik band Pink Floyd. Dua personil “baru” lainnya dalam tur ini adalah drummer Frank Ferrer (bergabung sejak 2006) dan kibordis sekaligus vokalis latar Melissa Reese. Kehadiran nama terakhir cukup penting perannya lantaran secara rekaman Axl Rose kerap menggunakan vokal yang berlapis-lapis, dari suaranya sendiri. Untuk menghadirkan nuansa sama, ia membutuhkan peran vokalis latar yang bagus. Peran itu bisa dijalani dengan baik oleh Melissa dan Duff.

Duff pernah bernyanyi di beberapa lagu yang direkam GNR. Malam itu ia menyanyikan “New Rose”, lagu milik band punk The Damned, yang diawali dengan lagu Johnny Thunder, “You Can’t Put Your Arms Around a Memory”.

Nyaris seluruh hits yang didamba penonton diluncurkan oleh GNR malam itu. “Civil War”, “November Rain” dan “Knockin’ On Heaven’s Door” dibawakan. Yang terakhir ini merupakan lagu Bob Dylan. GNR memang besar dengan karya sendiri. Tapi yang menarik mereka tidak pernah “malu” membawakan lagu musisi lain, terutama yang diaransemen ulang dan menjadi milik GNR. Lagu dari Paul McCartney berjudul “Live and Let Die” juga menjadi anggota permanen dalam susunan lagu konser sejak dekade 90-an.

Lagu cover lain, “The Seeker” milik The Who dibawakan usai jeda (encore). Set pertama ditutup dengan “Nightrain”. Lalu, selepas pamit sebentar, personil GNR muncul kembali dengan lagu “Sorry” kemudian “Patience”. Hadirnya lagu balada manis dari album LIES tersebut sekaligus mencoret lagu yang ditunggu perempuan, “Don’t Cry”, dari daftar. Patut dicatat bahwa demografi penonton GNR ini sekitar 60:40 antara laki-laki dan lawan jenisnya. Cukup banyak wanita yang histeris ketika lagu-lagu balada diluncurkan. Hal seperti ini membuktikan fenomena GNR sebagai band rock (identik dengan testosteron) yang mampu menjangkau audiens nan lebar dengan bekal kemampuan mereka menyusun melodi.

Sangat luar biasa juga menyimak fakta Axl Rose, berumur 55 tahun, mampu menyanyi 24 lagu sepanjang 3 jam konser. Suaranya memang tak bisa lagi menjangkau oktaf keempat seperti ketika menyanyi “Knockin’ On Heaven’s Door” di abum. Ia juga banyak menggunakan falsetto, bukan power untuk menjangkau nada tinggi. Tetapi sikapnya kini jauh lebih profesional. Mood-nya juga bagus, dengan beberapa kali tersenyum, seperti ketika menggoda penonton dengan jarinya menari di atas piano.

Tidak ada yang mengeluh ketika Axl mengisyaratkan keinginannya untuk pulang lewat lagu “Paradise City”. Padahal, sebagian penonton tentu mafhum bahwa lagu tersebut merupakan penutup konser. Ini adalah batasan energi penonton yang memadati arena terbuka di pinggir Singapura. Sebagian besar tanpa makan dan minum akibat buruknya logistik konser. Tetapi semua keluhan, pada saat berakhirnya konser, tertutup oleh rasa puas menyaksikan kembali Axl Rose, Slash, dan Duff McKagan membawakan lagu-lagu Guns N’ Roses.

Harga tiket termahal di arena mencapai 2.000 dollar Singapura (sekitar 20 juta rupiah), dan yang termurah adalah 230 dollar (2,3 juta rupiah). Rerata harga berada di kisaran 300 dollar Singapura. Bila klaim panitia bahwa tiket terjual 50.000, maka omset yang diraup malam itu mencapai 15 juta dollar Singapura (di luar merchandise dan gelang makanan yang berbuntut kasus). Jumlah itu lebih dari cukup untuk membayar fee GNR.

Tiga jam, belasan hits, formasi (nyaris klasik) dan profesionalitas mendatangkan jaminan mutu hiburan dari Guns N’ Roses.

Kredit foto: Yakub88/Shutterstock

Guns N’ Roses
Changi Exhibition Centre, Singapura
25 Februari 2017

Intro:
Merry Melody
Theme from The Equalizer

It’s So Easy
Mr Brownstone
Chinese Democracy
Welcome to the Jungle
Double Talkin’ Jive
Better
Estranged
Live and Let Die
Rocket Queen
You Could Be Mine
New Rose
This I Love
Civil War
Coma
Theme from The Godfather
Sweet Child O’ Mine
Yesterdays
Out Ta Get Me
Wish You Were Here (guitar doodle)
November Rain
Knockin’ On Heaven’s Door
Nightrain

Encore:
Sorry
Patience
The Seeker
Paradise City
Reactions: 

Related

STICKY 7434226585705661568

Posting Komentar Default Comments

Follow Me

-

Popular

Arsip Blog

item