Merumahkan Secangkir Kahwah

Ini catatan yang saya buat saat Hari Kopi Internasional, 1 Oktober silam. Salah satu memento dari haji, memberi kekayaan dimensi kehidupa...


Ini catatan yang saya buat saat Hari Kopi Internasional, 1 Oktober silam. Salah satu memento dari haji, memberi kekayaan dimensi kehidupan dari sudut yang tak disangka.

Akhir bulan haji bertepatan dengan hari kopi internasional. Kebetulan. Saya tidak akan menyebut diri sebagai pecinta kopi bila tidak karena pengalaman yang didapat ketika berhaji.

Saya "belajar" kopi dari penjaga kedai di SPBU dekat maktab di Mekkah (daerah Syari Mansyur). Ada dua pramusaji di situ. Yang pertama orang Filipina, satu lagi orang Turki yang pernah merantau di Jerman. Si Turki bisa bahasa Inggris, walau sering dia ngomong istilah Jerman yang dipikirnya Inggris.

Selama sekitar 10 hari, tiap malam jam 10-11 biasanya saya "nongkrong" di sana, melihat mereka mempersiapkan berbagai kopi. Karena di SPBU, kedainya buka 24 jam. Di situ saya mengenal espresso, french coffee (ini sebetulnya seduhan kopi tubruk, kemudian disaring), turkish (menggunakan ibrik, atau ketel khusus yang dipanaskan di api). Kalau pesen kopi saja bakal diberi Nescafe. Iya Nescafe. Entah kenapa orang Arab doyan banget sama Nescafe.

Nah, sebagai awam kopi, saya awalnya mencari "fancy coffee". Oya, saya senang ke Starbucks dan memesan Java Chip. Menurut saya itu privilese karena di rumah tidak bisa bikin. Kalau kopi "pahitan" di rumah juga bisa. Anyway, di kedai kopi Arab itu juga awalnya saya mencari frappuccino thingy. Tentu saja tidak ada.

Ini membawa saya ke memori dua bulan sebelumnya, Juni 2014 di Verona. Gina, istri saya, pesan "latte" ke kios kopi depan stadion Marc'Antonio Bentegodi. Tentu saja maksudnya ice caffe latte seperti di Starbucks. Kopi susu manis. Tapi yang disuguhkan (ditambah muka heran dari penjualnya) adalah secangkir susu putih.

Ternyata banyak khittah kopi di Italia sana. Latte arti harafiahnya adalah susu. Pastikan Anda bilang "caffe latte" manakala memesan kopi susu. Jangan memesan cappuccino setelah jam 12 siang. Habiskan espresso dengan sekali teguk. Demikian budaya yang saya pelajari di negara penemu mesin espresso.

Di Arab, mereka juga suka ngopi. Sejarahnya, orang Arab inilah yang memassalkan kopi sebagai international beverage. Di bulan haji pula mereka mendapatkan stok dari haji Etiopia. Lalu mereka suka. Apanya yang disuka? Mungkin karena tidak boleh minum khamar (miras), maka kopi adalah next sensation meminum sesuatu yang pahit awalnya, lalu mendapatkan rasa unik di aftertaste. Lebih lagi ada khasiat candu dan efek psikisnya.

Orang Arab meminum kopi pahit dicampur dengan kardamom (ini apa ya padanan Indonesianya?). Rasanya seperti minum jamu temulawak. Pahit, herbal, tapi memang enak after-taste-nya. Seduhan itu didapat dengan metode mirip Turkish, dengan merebusnya berkali-kali di tungku. Makin gosong, makin pahit tentunya. Peduli setan dengan aroma.

Suatu ketika, pulang dari masjid, saya mampir ke kedai itu. Melihat mereka tengah membuat kopi (dengan ibrik atau Turkish), saya lantas memesannya.

Si Turki bilang: "Are you sure?"

Saya bilang tentu saja. Mungkin karena biasanya saya pesan kopi susu.

"Hajji, I will make you turkish, but with milk, okay?"

Saya mengiyakan. Tapi juga bertanya mengapa? Jawab si Turki, karena kopi semacam itu hanya untuk "real man", jawabnya sambil terbahak.

Saya mendapatkan kopi tubruk ala Turki, yang dicampur dengan susu kental manis, serta ditambah dengan susu cair (UHT). Si Turki kembali memberi tips untuk tidak mencampur kopi dengan gula. Kalau tidak tahan pahit, tambah saja susunya. Susu, kata si Turki, tidak akan merusak rasa asli kopi.

Saya bertanya kepadanya, mana yang lebih "hardcore" antara espresso atau kopi Turki?

"Espresso is like candy to those who drink turkish," katanya. "Here, the more bitter, the much longer we drink it."

Itu sebabnya kopi adalah minuman sosialisasi. Saya ingat di banyak kesempatan, tiap habis Ashar sambil menunggu Maghrib, banyak jamaah masjid yang menggelar tikar plastik, menyuguhkan kurma, dan membagi kopi. Nescafe tentunya. Tapi mungkin skena semacam ini yang dulu terjadi.

Orang Yaman mengenal kopi dari petani Etiopia. Dulu, sejarahnya mereka satu kerajaan, jadi memang relasi dua bangsa (Arab dan Etiopia) sudah terjalin lama. Lalu orang Yaman membawanya ke Mekkah. Mungkin pertama kali dikenalkan ketika sosialisasi menunggu Maghrib.

"Hajji, kahwa!"

Saking terkesannya saya terhadap budaya ngopi orang Arab ini, saban habis Isya, sebelum ke SPBU si Turki, saya mampir ke toko-toko elektronik untuk mencari tahu mesin espresso. Setelah googling, saya mengincar Delonghi EC155 yang hanya berbanderol (sale) sekitar 200 riyal. Sekitar Rp 600.000 waktu itu. Alat ini punya review yang sangat bagus secara price/performance. Cocok untuk yang ingin belajar espresso, karena mempunyai tekanan 15 bar, portafilter, steamer dan tamper.

Saya memutuskan untuk menunda membeli alat tersebut, dan berencana untuk mencarinya lagi di Madinah, tempat menghabiskan 10 hari sisa di Arab Saudi. Sama seperti di Mekkah, di sana juga banyak pusat perbelanjaan yang mengelilingi masjid Nabawi. Termasuk di antaranya sebuah kios kecil yang menjual kopi seduh.

Saya mengenal pramusajinya, orang Filipina, yang menyuguhkan "kahwah halib" alias kopi susu. Darinya, apresiasi saya atas Nescafe membaik. Ia menuang susu kental manis sekitar seperlima cangkir kertas kecil. Lantas diisi air panas, dan di-steam menggunakan steamer mesin espresso. Setelah berbuih, ditaburkannya granulae Nescafe di atasnya. Biasanya diaduk.

Saya ketagihan minuman ini, dan selalu beli tiap habis Subuh, Ashar, dan Isya. Karena sering membeli, di hari ketiga si Filipina sudah hafal dengan pesanan saya. Ia tak bisa bahasa Inggris, sayangnya. Tapi tahu saya orang Indonesia dan sering berkata bahasa Indonesia.

"Hajji, panas."
"Hajji, dua riyal."

Karena ritual steaming dengan bunyinya yang khas, saya kembali teringat misi untuk membeli mesin espresso. Sampai hari ke-9, jelang kepulangan ke tanah air, saya masih ragu karena besaran mesin cukup besar yang memakan kuota koper nan terbatas. Jamaah haji dibatasi satu luggage dan handcarry. Tidak boleh lebih.

Saya lebih memilih untuk membeli kopi bubuk dari sejumlah kios Arab beserta cardamom untuk diseduh di rumah. Saya membelinya di kios kopi, dan dapat informasi bahwa mayoritas kopi yang beredar di sana adalah kopi Brasil. Robusta. Bukan jenis kopi yang mendapatkan nama karena dikenal dari Arab.

Sampai di rumah, untuk mengenang haji biasanya saya ngopi sehabis Ashar. Tapi kenangan itu turut hadir dengan bayang-bayang mesin espresso yang batal dibeli. Beruntung, tak sampai tiga bulan kemudian, ada kawan istri saya yang hendak berangkat umrah. Saya iseng saja bertanya apakah memungkinkan nitip mesin espresso. Saya beritahu di mana mencarinya, apa bentuknya, dan seterusnya.

"Udah dapet nih, jadi ya?" bunyi WA yang diterima istri saya. Saya minta agar istri mentransfer uang pembeliannya. Janji saya: "Kamu sekarang punya barista pribadi yang bisa membuatkan cappuccino tiap pagi."

And, here we are now.
Reactions: 

Related

turkish 5276251965087876036

Posting Komentar Default Comments

1 komentar

palsayfara mengatakan...

Suka banget tulisan elo ini...ya ampun...

Follow Me

-

SHOP

Popular

@helmantaofani

Arsip Blog

item