Glamping ke Tanakita


Akhir pekan ini, Sabtu (8/4), kami sekeluarga berkemah di Tanakita, Sukabumi. Perkemahan "bintang lima" ini terletak di Gunung Gede sisi selatan, sekitar 15 km dari Cisaat, Sukabumi.

Disebut perkemahan bintang lima lantaran apa-apanya sudah disediakan di sana. Tenda dan fasilitas-fasilitas lainnya. Istilah keren sekarang, glamping. Glamorous camping. Meski demikian, di Tanakita ini kita tetap bisa merasakan sensasi kemah dengan tapak yang mendukung. Cocok lah bagi outlivers pemula yang membawa anak-anak seperti kami. Apalagi satu di antaranya anak autistik.

Satu hal lagi yang membuat kami memilih Tanakita. Istri saya berangkat lebih dahulu pada hari Jumat (7/4) di lokasi yang sama untuk acara kantor. Ia memperpanjang masa tinggal, dan kami - saya dan dua anak - menyusul esoknya.

Persiapan
Setelah googling ke sana dan ke mari, terutama membaca review lengkap ini, Jumat malam saya mempersiapkan diri membawa bekal. Cukup banyak untuk dijejalkan ke tas Nixon 30 liter saya. Anak-anak juga saya wajibkan membawa, masing-masing satu buah ransel.

Saya membawa baju ganti saya sendiri, makanan dan minuman instan, perlengkapan mandi, satu sleeping bag, payung, sandal ganti, serta senter. Anak-anak membawa baju ganti mereka, kaos kaki, sandal dan selimut ekstra. Magi, si bungsu yang sudah berpengalaman kemah dengan sekolahnya tidak menggerutu ketika harus membawa ransel. Berbeda dengan Aksara, kakaknya, yang autistik dan susah diminta membawa tas sendiri.

Akses
Kami akan ke Tanakita menggunakan paduan kendaraan pribadi dan angkutan umum. Dari Bintaro ke Bogor akan ditempuh dengan kendaraan pribadi. Kemudian dilanjutkan menumpang kereta api ke Sukabumi, dari Stasiun Paledang, Bogor. Kendaraan (rencananya) kami titipkan di parkir inap stasiun.

Untuk mencapai Tanakita, bisa menggunakan kendaraan pribadi. Tetapi jalurnya biasa padat pada akhir pekan (terutama jalur Jakarta - Sukabumi). Jadi, kami mengambil opsi berkereta sebagian. Kami akan turun di stasiun Cisaat (satu stasiun sebelum Sukabumi) dan naik ke Tanakita menggunakan angkot khusus yang dicarter. Per-angkot dikenakan ongkos 100.000 yang bisa muat 6-8 penumpang.

So, Sabtu (8/4) jam 8 pagi saya, Aksara, dan Magenta meluncur ke Bogor. Setelah mempertimbangkan Google Maps, rute standar kami melewati JORR, Jagorawi, dan diperkirakan tiba di Bogor selambatnya pukul 9:30.

Sesuai Google Maps, jalanan Sabtu relatif lancar, dan pukul 9.30 kami sudah ada di rest area Sentul. Saya memutuskan menunggu waktu sebentar di sana, sambil menonton Rock and Roll Hall of Fame, yang menginduksi band kesukaan saya, Pearl Jam.

Pukul 10.30 kami lanjut ke Stasiun Paledang, Bogor. Lokasinya di seberang Stasiun Bogor (stasiun KRL). Rencananya kami akan parkir di Stasiun Bogor yang biasa menampung mobil para pekerja di hari biasa. Kedua stasiun ini terletak tidak jauh (Jalan Raya Dramaga) dari gerbang Kebun Raya yang langsung terlihat begitu masuk Bogor (dari tol). Tapi karena memutar via Jalan Otto Iskandar Dinata, jadi tampak sedikit lebih jauh.

Cari Parkir di Bogor
Google Maps suggest kami supaya melewati Jalan Paledang. Sebelum pertigaan pertemuan dengan Jalan Raya Dramaga, ada papan penunjuk, Stasiun Paledang 100 meter di kanan. Melihat beberapa mobil masuk ke jalan tersebut, saya lantas belok kanan.

Usai susah payah menyusur jalan kecil (yang sangat merepotkan ketika berpapasan dengan mobil lain), kami mendapati tempat parkir di kiri stasiun, memanfaatkan lahan toko yang menyambung hingga Jalan Raya Dramaga. Saya bertanya apakah bisa parkir inap di sini.

"Kalau mau nginep di situ Pak," kata juru parkir menunjuk gedung merah di sebelah.

"Wah, kalau ke tempat parkir Stasiun Bogor, ke mana arahnya mas?"

"Waduh Pak, muter-muter," balasnya.

Saya kemudian keluar dari tempat tersebut dan masuk ke Jalan Raya Dramaga. Saya akan cari sendiri, karena toh Stasiun Bogor sudah terlihat persis di seberang. Tinggal putar balik.

Ternyata betul kata si mas. Muter-muter. Untuk ke seberang harus muter via Jalan Perintis Kemerdekaan, Jembatan Merah, dan kembali ke Jalan Raya Dramaga. Sampai dekat stasiun saya mencari akses masuk kendaraan. Tapi hingga lewat, tidak ada!

Karena harus melaju, saya meneruskan jalan hingga Taman Topi. Stasiun terlewat, dan sesuai logika saja mesti belok kiri. Walhasil saya nyangsang di pasar tiban yang macet entah. Sekitar 20 menit hanya progress 5 meter-an, ada preman yang memberi aba ke kiri. Saya buka jendela dan bertanya apakah itu jalur menuju stasiun. Iya, katanya.

Google Maps juga suggest jalur tersebut, nanti akan tembus ke Jalan Mayor Oking setelah mengitari pasar dan stasiun. Namun, setelah susah payah menembus jalur pasar nan sempit, saya terpaksa balik kanan karena jalannya buntu digunakan dagang.

Nyaris frustrasi karena jam sudah menunjukkan tengah hari. Sejam lagi kami sudah harus di kereta. Tetapi kami masih berputar-putar di pasar. Saya jadi menyesal tidak mengindahkan saran tukang parkir mengenai jalan ke tempat parkir Stasiun Bogor yang (memang) berputar-putar.

Saya kembali ke Jalan Raya Dramaga, putar balik kemudian ke jalur depan Stasiun Bogor lagi. Di depan Stasiun belok ke kiri sebelum KFC, di depan toko yang memasang papan jasa parkir. Akhirnya saya kembali ke tukang parkir lama dan disarankan parkir di bawah (basement) gedung merah. Ada tempat parkir 24 jam (bisa inap) yang sangat dekat dengan Stasiun Paledang.

Usai memarkir kendaraan, kami segera menukar tiket kereta Pangrango ekonomi, dan masih ada waktu setengah jam untuk makan siang di Stasiun Paledang.

Jam 13:00 kami naik ke kereta. Gerbong Ekonomi 1, di deret kursi bertiga. Pada waktunya, kereta berangkat. Pada waktunya pula kami tiba di Stasiun Cisaat, sekitar dua jam kemudian. Di Cisaat, kami akan berganti angkot merah carteran, seperti yang sudah diceritakan di atas, menuju gerbang Taman Nasional Gede Pangrango. Kurang lebih 15 km dari Cisaat.
Reactions: 

Related

trip 4699336185014911685

Posting Komentar Default Comments

Follow Me

-

Popular

Arsip Blog

item