Ide Buah Tangan dari Swiss


Orang Indonesia. Identik dengan “nitip oleh-oleh” ketika sejawatnya pelesir. Kalaupun tidak, ada obligasi bagi pelawat untuk memikirkan oleh-oleh bagi mereka yang ada di rumah.

Swiss, tak terkecuali, destinasi yang “diharapkan banyak” sebagai sumber oleh-oleh. Jam, pisau Swiss, dan cokelat paling tenar. Dan memang tiga hal itu sangat jamak dijumpa disamping standar oleh-oleh macam tempelan kulkas, kartu pos, gantungan kunci, dan lain sebagainya.

Di kantong-kantong turis (yang seperti Bali, hampir semua destinasi umum di tiap pelosok Swiss adalah kantong), mudah menemui toko yang dipadati wisatawan Asia (asli, dominasi wisatawan Asia di toko suvenir memang terasa). Bukti bahwa budaya (oleh-oleh) ini memang diwarisi dari wilayah per wilayah Asia.

Saya sendiri prioritas membeli buah tangan untuk diri sendiri. Memento dari pelesir, yang kadang berbentuk sesimpel brosur, atau sekompleks membeli mesin letterpress buatan negara bersangkutan.

Nah, untuk kasus Swiss, ada lagi satu aspek penting berupa: mahal! Tidak ada barang Swiss yang lebih murah di sana ketimbang di negara lain (termasuk Indonesia). Dari cokelat, jam, hingga pisau, semua lebih mahal di Swiss. Mungkin tinggal kepuasan “beli di Swiss” yang semu saja yang tertinggal. Tapi, sekali lagi, itu semu.

Untuk itu, saya coba memberikan ide untuk membeli oleh-oleh, bagi yang pelesir di luar negeri, untuk bisa diberikan kepada diri sendiri (sebagai memento) atau kepada orang lain.

Cari di Supermarket
Barang di supermarket biasanya ditujukan untuk pasar domestik. Artinya, pembeli utamanya adalah warga sekitar yang memenuhi kebutuhan sehari-hari. Inilah kesempatan Anda memperoleh barang yang mungkin tidak ada di Indonesia. Dari sabun, kopi, madu, saus, dan sebagainya.

Di Swiss, dua supermarket besar adalah Coop dan Migros. Keduanya dari grup yang sama, namun Coop lebih condong ke convenient store (meski menjual juga fresh product), sedangkan Migros untuk barang diskon.

However, karena untuk konsumsi lokal, wajib dicaritahu juga di kemasan apakah produk itu aman (dan halal), serta buatan negara mana. Varian Ovomaltine bisa menjadi salah satu pilihan oleh-oleh mengingat cokelat ini naik daun di Indonesia, tetapi bentuk umumnya adalah selai.

Ovomaltine di sana juga sedikit dari sekian barang yang relatif lebih murah daripada beli di Indonesia. Satu bar cokelat 100 gr seharga 4 CHF (sekitar 68.000), sama atau sedikit lebih murah dari pasaran di Tokopedia (60-80 ribu).

Beli di Outlet Kurasi
Banyak outlet yang menyediakan barang yang dikurasi. Dipilih dari yang terbaik. Pop up store atau concept store banyak tersedia di pusat kota dan bisa menjadi alternatif. Namun, kalau kesulitan mencari ini, pergi saja ke museum yang pasti banyak di Eropa (termasuk Swiss). Terlebih lagi museum seni.

Di museum biasanya menyediakan bagian khusus yang menjual suvenir. Suvenir yang dijual juga cenderung lebih mahal (sedikit) daripada di pasaran, tetapi pasti lebih bagus kualitasnya.

Analogi yang sama juga berlaku untuk merchandise di official store. Di sana pasti terdapat barang yang khusus di jual di toko tersebut dan susah dicari di lapak lain.

Personalized Jersey
Eropa, benua kiblat sepakbola, pasti mempunyai klub lokal profesional. Nah, seragam klub tersebut bisa jadi memento yang menarik, apalagi bila Anda mengunjungi kota dengan klub yang tidak terlalu populer.

Untuk Swiss, itu berlaku di semua kota rasanya. Klub paling populer di Swiss mungkin Grasshopper Zürich, FC Basel, atau FC Zürich. Itu juga jarang sekali dijumpa pengguna jersey-nya berseliweran di Indonesia. Karena saya sempat ke Lucerne, jersey FC Lucerne menjadi incaran. Klub tersebut pernah mengontrak pemain Indonesia, Kurniawan Dwi Yulianto, yang sampai sekarang masih berbuah rekor gol satu-satunya pemain Indonesia di ajang antarklub Eropa.

Jersey klub lokal paling mudah dicari di stadionnya. Biasanya mereka menyediakan souvenir shop yang menjual jersey lokal. Umumnya juga bisa di-personalized (cetak nama dan nomor punggung). Untuk klub terkenal, jersey juga bisa ditemukan di toko-toko olahraga di pusat kota misalnya.

Patch
Bagi backpacker, patch bisa menjadi ide yang bagus untuk oleh-oleh. Ini lebih tidak mainstream dibanding tempelan kulkas atau stiker. Patch biasanya ditempel di backpack atau jaket khusus yang berisi (wearable) travel memento. Sama fungsinya dengan menempelkan stiker di luggage.

Mengidentifikasi patch ini cukup mudah. Selain dari sisi desain, tinggal dicari yang hasil pekerjaannya rapi. Harganya juga tidak terlalu mahal.

Local Board Game
Permainan analog ini umum dijumpa di Swiss, terutama buatan kreator lokal Helvetiq. Desainnya menarik dengan konten bermuatan lokal. Ada yang berupa permainan semacam kuartet berisi trivia pengetahuan tentang Swiss. Ada pula yang berbentuk seperti ular tangga, monopoli, hingga halma dengan desain dan tema Swiss.

Selain buatan Helvetiq, yang juga umum adalah permainan monopoli bertema lokal. Ini mirip seperti monopoli bertema Indonesia (bahkan ada yang Jakarta), dan menarik dimainkan untuk menostalgia tempat-tempat yang pernah kita kunjungi. Sambil bermain, kita bisa bercerita tentang kesan terhadap tempat.

Pustaka Dongeng Lokal
Mampir ke toko buku menjadi ide bagus untuk mencari board game di atas. Selain itu, jangan lupa untuk menjelajah sektor buku, biasanya di bagian anak-anak, untuk mencari buku berisi dongeng lokal. Bisa tentang mitos, sejarah, atau kisah lain yang punya ikatan dengan tempat.

Dongeng lokal ini bisa memicu interaksi Anda (dengan orang di rumah) untuk berkisah mengenai tempat yang dikunjungi. Dongeng ini juga bisa dibaca di sana untuk memberikan dimensi lebih dalam terhadap loka.

Demikian beberapa ide buah tangan yang mungkin berbeda dengan rata-rata orang.
Reactions: 

Related

travelogue 8370846726693365835

Posting Komentar Default Comments

Follow Me

-

SHOP

Popular

@helmantaofani

Arsip Blog

Translate

item