Diplomasi Sepak Bola


Bagian sebelumnya. Menilai perkara restorasi di Jerman ini mesti  mendapat pembobotan juga dari efek Perang Dunia II. Kota-kota di Jerman mengalami kehancuran ketika perang dan mesti banyak membangun ulang. Oleh karena itu, relatif sulit juga menerka umur bangunan dari penampilannya. Beberapa merupakan hasil restorasi yang mungkin tidak menunjukkan usia sebenarnya.

Altstadt bisa dicapai dengan kendaraan umum. Stasiun Munich (Hauptbanhoff) juga tidak jauh dari area ini. Bisa ditempuh dengan jalan kaki. Di sekitar Altstadt ini banyak terdapat gedung pemerintahan.

Munich hidup di utopia dunia feodal selama berabad-abad. Kerajaan Bavaria yang menjadikannya sentra adalah kerajaan dengan ambisi kecil. Menaungi petani dan peternak di lereng Alpen. Memastikan mereka bebas invasi dan tekanan.

Raja Bavaria ditakdirkan menjadi pasifis. Harus lihai bernegosiasi dengan seteru dan menjalin kemitraan untuk menjamin kedaulatan mereka. Oleh karenanya, Bavaria tak pernah menolak ketika “ditawar” menjadi bagian uni-Jermania pada era second-reich, menyumbang populasi dan wilayah kedua terbesar setelah Prusia.

Hidup berjalan sama bagi para petani dan peternak ini. Setiap periode berkumpul di Munich untuk memasarkan hasil ladang dan kandang. Sampai suatu hari pilihan buruk dari orang-orang Prusia, demikian menurut orang Bavaria, menyeret mereka ke dua kali perang yang turut mereka derita.

Oleh karena itu, paskaperang, Franz Josef Strauß yang bertindak sebagai (semacam) gubernur Bavaria dipuja karena upayanya mengangkat wilayah ini sebagai wilayah makmur, dengan Munich sebagai kiblatnya. Dari wilayah agraris berkembang menjadi pusat industri dengan muculnya BMW dan Airbus.


Simbol lain yang dipuja adalah FC Bayern München, klub sepakbola dari kota Munich. Pada dekade 1970-an, dekade sama dengan masa keemasan Josef Strauß, FC Bayern mendominasi sepakbola dunia dengan tiga kali menjuarai Piala Champions Eropa. Mereka juga mengirim banyak pemain ke tim nasional Jerman yang digdaya di Piala Eropa 1972, Piala Dunia 1974, dan Piala Eropa 1976.

Salah satu zenit Bavaria paskaperang adalah momen Olimpiade 1972, dengan Munich jadi tuan rumah. Olympiaturm, atau menara Olimpiade dibuka di akhir dekade 1960-an, menandai pembukaan area terintegrasi arena pertandingan dan zona industri. Pabrik BMW dibangun berdampingan dengan Olympiapark, kompleks terbuka dengan konstruksi tenda baja hasil pemikiran Frei Otto.

Olympastadion yang ada di dalamnya itulah kemudian menjadi saksi kejayaan sepakbola Jerman. Melihat Franz Beckenbauer mengangkat trofi, dan gelontoran gol-gol Gerd Müller di sana, membuat kebanggaan Bavaria kemudian mewujud bagi masyarakatnya.

Olympiastadion mengakhiri masa baktinya untuk sepakbola Bavaria dan Jerman pada 2005. Penggantinya, Allianz Arena, disediakan ke utara kota. Sebuah stadion berselubung membran dengan pola jajaran-genjang yang merupakan bendera Bavaria. Ia diniatkan sebagai kandang dua klub Munich, FC Bayern dan TSV 1860. Namun prestasi klub kedua ironisnya terus memburuk akibat tekanan psikologis “sibling rivalry” akibat gagal memberi kebanggaan bagi warga Bavaria.

TSV 1860, justru kini menjadi kasta kedua. Tahun ini mereka bahkan berkompetisi di Regionaliga melawan Bayern II, klub satelit FC Bayern yang menampung pemain akademi. TSV juga didepak dari Allianz Arena, pengganti Olympiastadion, dan bermain di stadion yang lebih kecil.


Sama seperti Olympiastadion, Allianz Arena memeragakan kedigdayaan teknologi dengan selubung membran transparan yang berisi lampu LED. Potongan lampu LED ini bahkan menjadi suvenir khusus yang dijual di stadion. Kala Bayern bermain di malam hari, selubung akan dinyalakan, berwarna merah. Niatnya, ketika TSV yang bermain, selubung akan berwarna biru.

Namun, Bavaria kini hanya berwarna merah. Entah kapan TSV akan naik kembali, membawa panji Bavaria yang berwarna biru. Mungkin pada saat itu warga akan diingatkan mengenai nostalgia lama Kerajaan Bavaria, termasuk para rajanya yang meninggalkan berbagai kesan di Altstadt (kota tua) sampai nun jauh di Füssen, berupa kastil retret dalam bentuk Neuschwanstein dan Hohenschwangau.

Maka, hari kedua (5/4) kami ke Bavaria akan tandang sejauh 80-an km ke barat. Ke Füssen, yang memiliki kastil peninggalan Raja Bavaria.
Reactions: 

Related

wisata 5264250872860396141

Posting Komentar Default Comments

Follow Me

-

SHOP

Popular

@helmantaofani

Arsip Blog

Translate

item