Seminggu di Thailand: Naik Kereta ke Utara di Hari Kelima


Hari ini adalah hari terakhir kami di Bangkok. Petang hari, kami akan berkereta 800-an kilometer ke utara. Ke kota yang di-dub sebagai kapital kreativitas oleh UNESCO, Chiang Mai.

  • Naik Kereta ke Utara

Highlight dari perjalanan itu sendiri adalah menggunakan kereta overnight dari Bangkok ke Chiang Mai. Kereta yang digunakan adalah sleeper train, dengan susunan tempat duduknya dapat diubah menjadi bunk bed. Pengalaman ini tentu saja akan menarik untuk anak-anak. Terlebih bila menyimak apresiasi Magi ketika mendapatkan bunk bed di hostel pada hari pertama.

Di Indonesia, kereta model ini dulu dikenal dengan kereta kuset. Sekarang, model kereta macam ini sudah tidak ada lagi. Perjalanan berkereta 10-12 jam dari Bandung ke Surabaya terasa melelahkan dan saya harus sedia antimo agar bisa terlelap. Kini, kami ingin mencoba sleeper train yang banyak dipuji wisatawan karena sangat nyaman. Apakah pengalamannya memang demikian?

Rencana menggunakan sleeper train ini adalah generator utama pelesir kali ini. Mulanya, kami berencana menggunakan sleeper train dari Padang Besar (perbatasan Malaysia dan Thailand) menuju Bangkok. Rencana tersebut terpaksa dimodifikasi karena berbagai hal. Sehingga, yang realistis untuk tetap mencoba sleeper train ini adalah perjalanan dari Bangkok menuju Chiang Mai.

Kami dijadwalkan berangkat dari Bangkok pukul 6 sore. Rencana akan tiba di Chiang Mai jam 7 pagi keesokan harinya. Jadwal ini pas untuk menghemat akomodasi, karena kami bisa tidur di kereta.


Kereta akan berangkat dari stasiun Hua Lamphong, Bangkok. Selepas check out, kami bawa ransel dan barang bawaan ke Hua Lamphong menggunakan MRT. Stasiun kereta tersebut terkoneksi dengan jaringan MRT sehingga mudah untuk mengaksesnya. Hua Lamphong ada di (salah satu) ujung rute MRT.

Di Stasiun Hua Lamphong, kami akan menitipkan barang bawaan di luggage drop yang ada di stasiun. Tarifnya adalah 60 Baht per bawaan besar (per hari). Setelah itu, kami harus menukarkan tiket kereta yang sudah dipesan ke kantor 12Go yang ada di depan stasiun.

Sama seperti di Indonesia, kita bisa memesan in advance hingga tiga bulan sebelum jadwal keberangkatan kereta. Situs yang digunakan untuk memesan juga beragam, salah satu yang mudah adalah 12Go. Di sana kita bisa memilih posisi bed (upper atau lower berth), nomor tempat duduk dan gerbong, selain jadwal kereta tentunya. Harga per-tiket untuk dewasa adalah sekitar 1000 Baht (500-an ribu rupiah), ditambah booking fee senilai sama. Untuk anak-anak, tiket akan di-refund 10% pada saat penukaran.

Anda, tentu saja, bisa juga memesan langsung ke stasiun untuk tiket go-show. Harga tiket go-show adalah 1400 Baht untuk upper berth dan 1600 Baht untuk lower berth. Jadi total harga tidak jauh beda dengan pemesanan via online.

Bagi traveler solo, disarankan untuk mengambil lower berth. Selain tidak repot naik-turun, lower berth juga mendapatkan jendela. Penomoran baris tempat duduk menggunakan AB-CD. A dan C untuk posisi lower. Apabila punya uang berlebih, bisa juga membeli satu kompartemen (AB atau CD) dengan harga normal 2500-an Baht.

Mengisi Waktu di Wat Pho


Sesudah menukar tiket dan menitipkan barang bawaan, masih ada 5 jam bagi kami sebelum keberangkatan. Sisa waktu ini kami manfaatkan untuk melihat kuil pertama kalinya (bagi anak-anak). Lokasi Hua Lamphong dekat dengan pusat atraksi kuil di tepi Chao Praya. Pilihannya bisa ke Grand Palace (istana raja), Wat Pho, atau Wat Arun yang tinggal menyeberang sungai Chao Praya. Kami memutuskan untuk ke Wat Pho saja, yang tiket masuknya (100 Baht) seperlima dari tiket Grand Palace.

Secara arsitektural, saya menyarankan untuk melihat Grand Palace atau Wat Arun. Kedua kompleks itu lebih majestik dan megah. Wat Pho adalah yang paling low key. Atraksi utama Wat Pho adalah patung Buddha berbaring sepanjang 50 meter yang ada di kuil utama. Wat Pho kami pilih karena praktis, tidak mahal, dan tidak bisa lama-lama juga di sana. Dari Stasiun Hua Lamphong kita bisa menggunakan taksi. Dengan argo, tarif untuk menuju Wat Pho adalah 70 Baht.

Atraksi kuil ini salah satu itinerari paling umum dari wisata di Bangkok. Rata-rata mereka mendatangi tiga objek yang letaknya berdekatan ini menggunakan boat menyusur Chao Praya. Kami, sejak mula, memang tidak mengincar destinasi ini dalam rencana itinerari. Sebelum memutuskan untuk ke Wat Pho, masih ada diskusi apakah akan menunggu di mal atau ke kuil. Akhirnya pilihan kedua yang dipilih.

Di luar dugaan, Magi (anak saya) ternyata menyukai wisata kuil ini. Ia senang melihat banyak patung, dan berkali-kali antusias bertanya mengenai Buddhisme dan profil patung-patung yang ada. Ia juga banyak bertanya mengenai adab dan etika kunjungan ke kuil. Proses ini menarik karena ada diskusi yang membuat saya banyak menjelaskan mengenai konsep agama, ketuhanan, dan toleransi terhadap orang lain.

Karena Wat Pho adalah kuil aktif untuk beribadah, kami tidak mengajak Aksara masuk ke ruang peribadatan, takut tantrum dan mengganggu. Aksara ikut dengan kami menyusuri kompleks yang luas, tetapi tidak ikut masuk ke dalam.

Setelah menjelajah seluruh bagian kuil, kami keluar dari sisi seberang (yang berhadapan dengan sungai Chao Praya) untuk mengisi perut sebelum kembali ke stasiun. Ada banyak pilihan restoran dan kedai di sana, sekaligus akses ke dermaga penyeberangan menuju Wat Arun. Banyak juga toko suvenir untuk mencari oleh-oleh di sana.


Sekitar jam 4 sore, kami kembali ke stasiun. Kereta ke Chiang Mai sudah disediakan di jalur empat. Kereta membawa 10 gerbong, termasuk satu gerbong restorasi di gerbong 7 (tidak ada gerbong 8, entah kenapa). Kami mendapat tempat di gerbong 5. Jadi dekat dengan restorasi. Ini penting karena tidak disediakan makan gratis di kereta, meski bisa juga pesan dan diantar ke tempat duduk.

Jam 5 sore, kereta mulai terisi. Penumpang kereta kebanyakan wisatawan mancanegara. Rata-rata juga membawa anak-anak. Memang, terlihat mereka pula yang paling antusias ketika mencoba fitur-fitur kereta. Kondisi kereta masih sangat baik dan bersih. Colokan tersedia di tiap kompartemen. Disediakan juga tiga toilet dan wastafel dengan petugas yang selalu siaga.

Jam 6 sore, kereta mulai berderik. Pelan-pelan kereta melaju menuju utara, berhenti di beberapa stasiun termasuk Ayutthaya. Sejam kemudian, petugas kereta mulai menawarkan untuk bed setting. Rupanya kereta akan diganti ke mode sleeper train. Para petugas bisa membantu melayani penumpang sampai dengan pukul 9 malam. Demikian juga dengan pengantaran restorasi.

Dengan mode sleeper train, durasi 13 jam perjalanan relatif tidak terasa. Kami bisa tidur lelap dan saya bahkan harus membangunkan anak-anak pada jam 6 pagi ketika petugas mulai melipat lagi bunk bed untuk moda kereta normal. Di layar kereta, ada notifikasi bahwa kami sudah berada di Doi Khun Tan National Park yang terletak persis di selatan Chiang Mai.

Perjalanan kereta akan segera berakhir, tetapi petualangan baru di kota baru justru akan dimulai.
Reactions: 

Related

wat pho 6278093102052318054

Posting Komentar Default Comments

Follow Me

-

Ads

Popular

@helmantaofani

Arsip Blog

Ads

SHOP

Translate

item