Pearl Jam: Gigaton, Track by Track


Mendengarkan musik, menonton film, melihat lukisan, dan apapun apresiasi karya pada kesempatan pertama adalah unsur intrinsik yang berbicara. Kita akan berinteraksi sepenuhnya pada hal yang membentuk karya. Dalam hal musik, impresi atas sound, melodi, ritmis, dan sebagainya yang menentukan apakan kita akan ikut dalam konsep mereka atau tidak.

Saya menulis impresi atas album baru Pearl Jam, Gigaton (rilis 27 Maret kemarin) pada spin pertama. Yang keluar adalah opini jujur, yang sangat mungkin akan berubah seiring waktu. Kemungkinkan terdorong oleh unsur ekstrinsik. Apakah itu setelah membaca artikel, mendengarkan versi live, atau mood saat mendengarkan juga berubah.

Overall, saya cukup "merajam" Pearl Jam pada impresi pertama tersebut. Lalu, seperti janji pada catatan sebelumnya, saya akan kembali dengan track per track. Rentang tidak sampai seminggu, opini sedikit membaik. Namun, saya tidak akan apologetik atas apa yang saya tulis sebelumnya.

It's still overall valid. But, without further ado, let's spin the fucking black circle.

Who Ever Said

Album opener. Mendengarkan intronya, seperti berharap lagu atmosferik. Lalu bagian terbaiknya muncul. Power chords.

Sialan.

Song is flowing, mendengarkan ini cukup predictable (mulanya) dan menarik mendengarkan akrobat melodi vokal Vedder sebelum ke chorus. “Sideway talks poisoning our thoughts”.

Tapi...

Lagu ini mempunyai bridge setelah dua set verse-chorus, dan lucunya, sangat panjang sebelum kembali ke chorus “Whoever said it’s ever been said...”

It is like we’re riding with Eddie in his wave. Predictable, huh?

Superblood Wolfmoon

Power chord dan struktur simpel. Single macam ini selalu ada di tiap lagu Pearl Jam. Barangkali lagi ini merupakan link dengan katalog-katalog Pearl Jam pasca 2000-an.

Nuansa garage rock, antara The Strokes atau bahkan The Libertines, rasanya memberi pengaruh bagi single kedua Gigaton ini. Coba simak bagaimana Vedder bernyanyi di verse “Right now I feel lack of innocence”.

Saya sangat suka interlude solo gitar yang berlanjut ke riff utama dalam sound tangy. Bagjan ini mengantar ke part kedua. Interlude-nya benar-benar seperti memberi nyawa kedua bagi lagu yang membuat durasi hampir empat menit untuk lagu sesimpel ini bisa dijustifikasi. Impossible not to move your finger air-picking.

This song’s fun.

Dance of the Clairvoyants

Mendengarkan ini kepisah dari (track) yang lain memang cukup mengejutkan. Yang susah disangkal, groove dan beat lagu ini memang “narik”. Tempaan melodi vokal Vedder juga mengambil langkah berbeda. Dia mengambil suara tinggi pada lagu yang groovy, sehingga ketika vokal mulai masuk, ia jadi highlight (mulai bagian “Save your predictions, burn your assumptions”). Mengembalikan musik ke latar.

Ini lagu yang paling unik di album. Konstelasinya setelah “Who Ever Said” dan “Superblood Wolfmoon” memang sangat pas. Bagian terbaik lagu ini ada di tiap interlude musik, terutama fill gitar sebelum paruh kedua lagu (setelah “I’m in love with Clairvoyants cause they’re out of this world”).

Mulanya saya berpikir bila lagu ini dituntaskan dengan coda instrumental bakal lebih oke. Tetapi setelah mendengar beberapa kali, diisi dengan layer vokal “Stand back when the spirit comes” justru membuat lagu ini tidak terlalu ‘80s.

Quick Escape

Safe to say, ini ode untuk musik rock yang diglorifikasi pada akhir 70-an dan awal 90-an. Selaras mungkin dengan Vedder yang menyebut ia bertualang ke Zanzibar. Mendengarkan Queen, dan “Mercury on the rise”. Trivial, Freddie Mercury lahir di Zanzibar.

Jeff menulis riff yang menjadi tulang struktur lagu. Bassline yang membelah lagu ini menjadi bangunan sederhana: verse dan chorus. Ia dilapisi ritem yang mengingatkan kita ke lagu “Kashmir”-nya Led Zeppelin. Dan kebetulan atau tidak, nama Kashmir disebut, anehnya, ketika Vedder beranjak dari Zanzibar ke Maroko. Marakesh sudah betul di Maroko, tapi Kashmir?

Chorusnya sangat sederhana. Hanya satu kalimat “Had to quick escape”. Yang juga mengingatkan saya ke chorus lagu “School” milik Nirvana. “No recess.”

Lagu ditutup dengan jamming instrumen, termasuk solo gitar kompleks dari Mike McCready. Mungkin itu menyimpulkan kesan dari “Quick Escape”, bahwa lakonnya musik yang membuka dan menutup lagu.

Alright

Balada pertama yang hadir setelah rasanya seperti pekak dihajar high-frequency. It’s an oasis.

Personally, saya suka dengan chorusnya, “It’s allright to be alone, to listen to a heartbeat of your own”. Diiringi dengan latar musik yang tiba-tiba menaikkan suasana. Benar-benar soundtrack bagi kaum introvert.

“It’s allright to say no. Be a disappointment in your own home.”

The contemplative Vedder we all missed. This song suits in No Code.

Seven O’Clock

Struktur lagu ini cukup aneh. Seperti ada dua jenis verse (atau yang satu chorus mungkin), diulang dua kali. Sebelum “bridge”-nya mengisi di akhir.

Verse yang cukup panjang mengisi dengan cara pengambilan melodi vokal yang cukup unik dari Vedder. “Down under, an oasis...” yang berima dengan “This fucked up situation...”. Oke juga, lumayan kasih warna mengingat panjangnya rentetan kalimat pada verse.

Lalu masuk ke chorus, bukan dengan refrain atau hook, tetapi masih rentetan kalimat. Yang menjadikan ini seperti verse kedua. Oke fix, ini lagu akan susah diingat.

Setelah mengulang pola, saya sempat berharap lagu ini ditutup dengan coda jamming juga. Seperti “Quick Escape”. Namun, seperti masih kurang yang harus disampaikan Vedder, coda-nya masih diisi dengan layer vokal juga. Hingga ke filler “heeey yeeey, hiii hiii...” dan repetisi “much to be done”.

Bit too much maybe?

Never Destination

Ini seperti anak kembar dengan “Superblood Wolfmoon”. Power chords, straight hit, tetapi agak kurang melodi dibanding saudaranya. Solo yang jadi interlude tidak membantu banyak.

Menyimak konstelasi album, sepertinya ini dipasang untuk membangkitkan mood pada paruh kedua. Semacam track pembuka pada side B-nya. Anehnya, lagunya cukup panjang untuk ukuran power chords-based, yang berulang kali mengingatkan pada “Supersonic” (abum Backspacer).

Lagu ini diakhiri dengan bridge, by the way. Speaking of weirdness.

Take the Long Way

Matt Cameron menulis lagu ini. Dan mendengarkan drum-nya, saya curiga ini materi untuk Soundgarden sebetulnya.

Simplisitas melodi seperti halnya lagu Matt lain (contoh "The Fixer"), menjadi warna yang kental. Berbeda dengan The Fixer, Eddie cukup “malas” untuk membuat variasi melodi.

Solo gitar yang kickass dari Mike rasanya tidak cukup membantu apa yang kurang dari lagu ini. Karena, selain melodi, tempo yang dimainkan juga kurang mempunyai dinamika.

In simple word: monoton.

Buckle Up

We can hear Stone sing on this. Question is, maybe it will better to hear him sing this tune?

Bit of B-side material to me. Too simple, and bit eerie hearing Vedder sing this song. Gayanya dengan lagu sebelum-sebelumnya sangat beda, sampai saya berpikir apakah lirik yang ia sampaikan ini sarkasme?

Comes Then Goes

Setelah “owe-owe” cukup populer untuk mengidentifikasi “Last Kiss”, kini ada kontender baru untuk misheard lyric jadi judul. Lagu ini rasanya akan dikenal sebagai “Hayo Lo” bagi orang Indonesia.

Folk-ballad yang “dibelokkan” secara ritmis dengan menonjolkan strumming gitar. Konsep minimalis, diselesaikan dengan satu gitar dan struktur yang sangat sederhana. Chorus-verse. Mengembalikan memori kita ke karya-karya solo Vedder.

Pretty much filler.

Retrograde

Another filler, in my perspective. Kelebihan lagu ini ada pada aspek kolektifnya. Strukturnya cukup pop sebenarnya. Dibangun dengan atmosferik, menyesuaikan dengan lirik pembukanya “Come the summer rain, cue the lightning...”

Musik dari lagu ini juga sangat bagus sebetulnya. Coba tengok riff yang ada pada bridge-nya. Atau filler melodi jelang part ke-2. Yang membuat ini jadi biasa adalah rapatnya vokal Eddie yang menutupi omnipotensi lagunya. Apalagi ia bernyanyi pada oktaf yang sama. Membuat dinamika lagu jadi agak berkurang. Atau lebarnya sound menjadi terbatas.

Padahal kita sudah terlanjur ditawari nuansa atmosferik (binaural) yang ada di awal dan akhir lagu.

River Cross

Dengan hanya pump organ, saya seperti mendengar komposisi pembuka yang biasanya ditulis Roger Waters. Drum membuat bridge-nya seperti akan menuju ke satu kemegahan yang majestik.

Tapi tidak, lagunya kembali dulu ke titik pertama. Oke, Vedder masih ada yang mau disampaikan sebelum chorus. Kembali lagi ke bridge.

Dan, surprise, tidak ada bagian majestiknya. Kita masih mendengarkan Vedder mengulang lagi lebih banyak verse dan kalimat. Ketika ia habis, lagu bergantung pada kalimat repetisi. “Can’t hold me down” atau “Let it out”.

Tiwas berharap majestik macam Present Tense.

Skema ini jadi kesimpulan bagaimana album dibangun sepertinya. Vedder sedang prolifik dalam menulis lirik, barangkali. Secara emotional state ia punya banyak amunisi untuk diungkapkan. Dari refleksi pribadi hingga serangannya kepada Trump.

Namun, seperti yang saya dengar di kesan pertama, upayanya ini seolah menutup kesempatan musiknya untuk bersenang-senang. Frequently, mendengarkan beberapa lagu, saya cukup lelah mendengar suara Vedder. Dan agak berharap let the music do the talking.

This won’t be monumental album. Much forgettable one, if I may.

Staple di konser barangkali menjadi milik Superblood Wolfmoon, Dance of Clairvoyants, and what else? Quick Escape?

Bila harus memilih, track favorit saya (in order of favor): Dance of Clairvoyants, Superblood Wolfmoon, Alright, Who Ever Said, dan Quick Escape.
Reactions: 

Related

STICKY 8712155361549603760

Posting Komentar Default Comments

Follow Me

-

Ads

Popular

@helmantaofani

Arsip Blog

Ads

SHOP

Translate

item