Pearl Jam: Gigaton, Usai Sekali Putar


"Dengerin deh Gigaton. Ambyar!"

Ya, saya sudah mendengar album dari band kesukaan saya, Pearl Jam, beberapa hari sebelum dirilis resminya. Setelah mendengarkan teaser, serta dua single yang dirilis lebih awal (Dance of the Clairvoyants, Superblood Wolfmoon), saya mengambil kesimpulan yang cukup ekstrim kali ini.

Pearl Jam ambyar.

Mengutip satu kalimat sayang saya pikir dengar dari lagu yang ada di Gigaton, Buckle Up, "...they're finally AWOL".

Bear with me my child...

Album yang dirilis tujuh tahun (was it) setelah album terakhir mereka, Lightning Bolt, ini ternyata masih memiliki pola yang sama dibanding pendahulunya tersebut. Semakin jauh dari memori yang merekatkan saya ke kuintet populer era 1990-an ini. Saya pikir, tujuh tahun berselang, ada breakthrough yang diambil Eddie Vedder cs. Well, dalam hal ini benar. Selain Eddie Vedder, semua personil Pearl Jam mengambil langkah berani.

Sound of the '80s

Gigaton adalah album yang banyak terinspirasi (mungkin) oleh dekade 1980-an. Dekade di mana banyak temuan sonic yang justru membuat sekan musik pada masa itu begitu membingungkan. Coba definisikan apa genre dari The Police, Talking Heads? Masa-masa ketika Queen dan bahkan The Ramones juga mencoba berbagai aroma bebunyian yang berbeda dari akar.

Tapi masa itu pula yang melepas hasrat bermusik dari banyak orang. Bunyi-bunyi yang kemudian menjadi percabangan berbagai genre musik dan individu-individu. Termasuk di dalamnya, individu yang kemudian tergabung dalam Pearl Jam.

Stone Gossard, Mike McCready tumbuh di tahun 1980-an, mengakrabi skena punk dan pre-hardcore pada masanya. Matt Cameron dekat dengan pop mainstream bersama lingkungan tinggalnya. Sebagai drummer, ia banyak menyerap dari Stewart Copeland yang tualang bunyinya sungguh ajaib. Matt merilis dan menulis beberapa karya yang sangat 1980-an, di antaranya You Are dari album Riot Act.

Eddie Vedder juga sudah mempunyai band pada akhir 1980-an. Ia bermain funk pada masa itu, dengan Bad Radio, meski tumbuh bersama musik glamor Bruce Springsteen - idolanya yang juga cukup bersemi pada dekade 1980-an.

Namun, tak ada yang sedramatis Jeff pada dekade 1980-an yang penuh inspirasi. Ia keluar dari sekolah seni di Montana, menggelandang ke Seattle. Berharap bisa sukses seperti band-band yang top pada saat itu, lalu mengawali karier sebagai pemain bass yang berdandan sangat 1980-an.

Jeff mengekspresikan musiknya dengan cukup pinggiran, pada era 1990 dan 2000. Yaitu dengan cara 1980-an, yang menggabungkan banyak bebunyian ajaib. Sweet Lew adalah testamen terbaik untuk menjelaskan hipotesa ini. Atau dengarkan saja album solonya belakangan ini.

Pearl Without Jam 

So, masing-masing individu ini yang membawa nafas ke dalam album Gigaton. Cukup mudah ditebak, ini lagu siapa, dari tiap track yang ada. Single pertama, Dance of the Clairvoyants misalnya, tanpa melihat liner notes, bisa ditebak bahwa ini dibangun dari ritmik-nya Cameron. Sama seperti You Are dan The Fixer (Backspacer).

Superblood Wolfmoon, membaca dari riff-nya, dan juga fill-nya, bukan sisi bluesy McCready yang muncul. Tapi pengaruh-pengaruh Black Flag, Minor Threats yang muncul. Pola-pola yang sama bisa digunakan untuk menebak lagu-lagu lain di Gigaton.

Pola ini tentu lebih mudah ditelusuri sejak band asal Seattle ini mengingkari hakikat "jam" mereka dalam hal produksi album. Setelah Vitalogy, para personil Pearl Jam tidak lagi membuat album bersama-sama dalam sebuah sesi produksi. Mereka mengirimkan demo-demo, kemudian dilengkapi satu sama lain. Baru kemudian mereka melakukan jamming untuk mendapatkan bentuk finalnya.

Dan sejak No Code, ketika estafet rezim diserahkan ke Eddie Vedder, semakin terlihat bahwa band ini menjadi tergantung pada Eddie. Ketika Eddie mendapatkan pengaruh baik, maka mereka masih bisa menghasilkan karya terbaik macam Yield atau Backspacer.

It's Not Getting Vedder, Man


Namun, ketika Eddie makin sibuk dengan lingkarannya, seperti yang terjadi dalam dekade terakhir ini, lahirlah Lightning Bolt. Dan kemudian Gigaton.

Dalam konsep band menghasilkan musik bersama, untuk kemudian secara otoriter dilapisi (atau dipilihkan) melodi vokal Eddie, maka hasil akhirnya memang pasrah kepada sang frontman. So, let's talk about Eddie.

Eddie Vedder, menulis lagu seperti ketika sedang selancar. Ia menunggangi musik yang ada, dan memiih untuk ikut dengan arusnya, atau mungkin berbelok sedikit. Barangkali nomor eksperimentalnya di Vitalogy, atau yang masih belum fatal seperti Present Tense di No Code menjadi awal petualangannya untuk tidak masuk ke tarikan pop.

Eddie menjadi terlampau sibuk dengan interpretasinya atas estetika ketika ia makin tenggelam dalam aktivismenya. Eddie kali ini adalah seorang selebritas, yang mungkin tidak glamor, kerap merayakan banyak hal. Ia aktif dalam organisasi yang menggelontorlan Global Citizen, bersama sosok seperti Beyonce, Chris Martin, dan sebagainya.

Dari sisi artisitik, ia bisa dibilang gagal eksperimen dengan album ukulele-nya. Entah berhubungan atau tidak, tujuh tahun vakum menjadi preseden buruk bagi pilihan artistiknya. Mengandalkan katalog lama dan lagu kover, Eddie masih berkeliling sebagai trubador dalam konser solonya. Pilihan yang juga menuai friksi kala ia tetap berangkat meski di hari yang sama, sahabatnya (Chris Cornell) tengah dimakamkan.

Eddie memang tidak bisa dipahami. Ia tidak mau dikendalikan. Ia mempunyai tafsiran artistik yang ia yakini paling benar. Dalam level kepercayaan diri Bob Dylan dan berbagai musisi latter days, yang menolak kembali ke diri mereka yang lama. Dalam hal Eddie, selamat tinggal melodi menyayat seperti Black, balada teduh macam Just Breathe, atau bariton legendaris di Release.

Abrasif, dan mengembangkan "wail"-nya adalah pilihan yang diambil oleh Eddie. Pilihan ini harusnya sudah bisa dirasakan ketika lagu macam Yellow Moon muncul di Lightning Bolt. Sekian dari katalog Pearl Jam yang dikembangkan dari nomor solonya. Tidak kapok dengan anehnya Ole, misalnya.

Tak Ada Penyelamat

Dan pilihan itulah yang kemudian menjadi Gigaton. Empat orang yang sedang ingin bersenang-senang dengan bebunyian, dan satu orang menyebalkan yang merusaknya. Celakanya, yang merusak ini adalah yang memberikan sentuhan akhir.

Gigaton nyaris tidak punya penyelamat. Tidak seperti Sirens yang masih membawa Lightning Bolt mengapung. Dance of the Clairvoyants menjadi lagu yang paling enak didengar. Bayangkan. Lagu yang memicu debat di antara fans, apakah ini Pearl Jam atau bukan. Let alone apakah ini grunge atau bukan. They're not grunge since...eh, lupakan.

Semua lagu di sini mempunyai potensi untuk menjadi kick ass. Ibarat tim basket, Jeff menjadi MVP bagi album ini dengan kehadirannya yang menojol di banyak lagu. Semua personil juga rata bermain pick and roll. Hanya saja, point guard mereka, Eddie Vedder, ingin seperti Allen Iverson yang mendapatkan segala kebebasan manuver.

Saya tidak berbicara lagu per lagu, karena belum ada rilisan resminya. Gigaton baru akan dirilis pada tanggal 27 Maret (tiga hari dari catatan ini ditulis). Nantinya kita akan bedah satu persatu, meski saat inipun saya sudah tidak sabar untuk bekomentar. Mungkin liriknya bisa menjadi penyelamat. Namun, mendengarkan Superblood Wolfmoon, agak cringy kali ini dengan diksi musisi yang menghasilkan frasa "I surface when all of my being was enlightened" ini.

Jadi, setelah berpanjang kata, mendengarkan Gigaton sekali putar adalah afirmasi ketakutan bahwa band ini akan susah mencapai "puber kedua" sebagaimana Red Hot Chili Peppers (Californication), U2 (All That You Can't Leave Behind), atau Green Day (American Idiot). They will stuck with me, loyalis since forever. Yang akan menerima band ini seperti cinta sejati. Apa adanya. Meski sering menjengkelkan.

Atau tidak usah puber kedua. Mungkin kesadaran yang membawa ke akar, seperti Metallica dengan Death Magnetic dan Hardwired to Self Destruct. Tak semegah masa lampau, tapi orang masih bisa menghargai ke mana mereka bermaksud pergi. Tapi Gigaton bukan itu.

Pearl Jam di Gigaton adalah Johnny Lydon menjadi Public Image Limited, meninggalkan The Sex Pistols. Atau Joe Strummer yang bermain bersama Mescaleros, setelah dari The Clash. Bedanya, ini masih di band yang sama. Band yang merilis Ten pada tahun 1991.
Reactions: 

Related

STICKY 6442121722831626687

Posting Komentar Default Comments

Follow Me

-

Podcast

Ads

Popular

@helmantaofani

Arsip Blog

Ads

Translate

item