Bhinneka Tunggal Metallica, Selebrasi Keberagaman dalam The Metallica Blacklist

Metallica formasi Black Album yang dirilis 30 tahun silam.

Tiga dekade silam, Metallica merilis album yang menjadi salah satu milestone kultural jagad musik internasional. Album kelima, yang secara resmi merupakan album swanama, diserap masif secara komersial dan kultural ke seluruh dunia. Termasuk kita, di Indonesia.

Album yang kemudian lebih sohor disebut sebagai Black Album (karena sampulnya berwarna hitam) tersebut masuk momentum yang disebut Supernova 1991. Periode tahun, terutama di musim panas (Juli-September) yang memunculkan banyak rilisan album rock yang (kemudian) melegenda. Metallica, salah satunya, merilis album yang mengangkat status mula sebagai artis prominen di genrenya (metal) ke, sederhananya, blantika musik populer.

Black Album terjual jutaan kopi, dan otomatis melesat di tangga Billboard, yang menjadi acuan dampak ekonomis sebuah karya musik. Sampai sekarang, 30 tahun kemudian, album ini masih wara-wiri ke tangga yang sama. Artinya, masih ada pengguna yang membeli rilisan ini, dalam format fisik maupun daring.

Lantas, apa yang membuat album ini menjadi fenomenal?

Bagi penggemar metal, ironisnya, album ini acap dipandang sebagai titik turun Metallica yang merilis empat album sebelumnya: Kill 'em All (1982), Ride the Lightning (1984), Master of Puppets (1986), dan ...And Justice for All (1988). Konsep empat album sebelum Black Album menggambarkan musik Metallica: mentah, langsung, dan kencang. Pada Black Album, Metallica mengambil jurusan yang berbeda. Musiknya terpoles.

"Sebelumnya kami hanya take ini, take itu, selesai," kata eks-basis Metallica, Jason Newsted dalam wawancara retrospeksi. "Di album ini (swanama - ed), untuk satu lagu bisa take 50-an kali."

Metallica menggandeng produser Bob Rock untuk menggawangi rilisan kelima mereka. Secara sadar, James Hetfield dan Lars Ulrich mengambil produser Motley Crue tersebut untuk sebuah misi. Yaitu membawa Metallica lebih diterima kuping pendengar umum. Atas misi tersebut, mereka jelas berhasil.

Lagu-lagu dalam album tersebut didengar dalam spektrum audiens yang lebar. Balada "Nothing Else Matters" dan singel pertama "Enter Sandman" mampu masuk ke segala lapis. Hits lainnya, seperti "Sad But True", "Wherever I May Roam", dan "The Unforgiven" juga bisa menembus stasiun-stasiun radio populer. Durasi lagunya lebih ramah radio lantaran lebih pendek 2-3 menit dibanding lagu-lagu pada album sebelumnya.

Dampak kulturalnya, album ini juga menjadi titik sentuh banyak orang ke ranah musik cadas. Kaum remaja kemudian mengadopsi genre metal dan mulai mengangkat gitar dengan bekal mula rif "Enter Sandman". Mudahnya memetik gitar pada intro "Nothing Else Matters" juga bertanggung jawab membuat banyak orang mulai menggeluti alat musik ini.

The Metallica Blacklist

The Warning, trio bersaudari asal Meksiko yang turut serta dalam proyek selebrasi Black Album Metallica, The Metallica Blacklist.


Album ini menjadi mata uang percakapan di mana-mana. Tidak peduli genre musik asli apa, tetapi Metallica adalah semacam titik referensi yang digunakan untuk bersosialisasi dan basa-basi. Sudut inilah yang kemudian coba diperagakan melalui album khusus, The Metallica Blacklist, yang dirilis untuk memeringati tiga dekade Black Album.

"Kami membebaskan artis dan musisi untuk bereaksi atas album ini," kata Lars Ulrich sebagaimana dikutip Rolling Stone. "Mereka boleh memilih lagu manapun dan membuatnya jadi versi mereka."

Ada 53 interpretasi atas selusin lagu-lagu Metallica dari album swanama dari ratusan individu yang menunjukkan keberagaman. Gender, wilayah, bahasa, genre, usia. Dari Miley Cyrus hingga Corey Taylor. Mongolia hingga India. Hip-hop, country, atau pop.

Lagu “Nothing Else Matters”, tentu saja, menjadi objek yang paling ramah direndisi. Total ada 12 versi yang ditampilkan di album ini. Sisanya dibagi tergantung popularitasnya. Hits dari album swanama ini rata-rata dibawakan 4-5 versi. Lagu lainnya 2-3 versi. Hanya dua lagu yang hanya mempunyai satu versi.

Konsep yang dibawa Metallica adalah ingin menunjukkan bahwa rilisan mereka 30 tahun lalu tersebut membuka ke dimensi musik yang lebih lebar ketimbang genre metal saja. Metallica bisa saja mengajak band seperti Anthrax, Slayer, dan sebagainya. Alih-alih, mereka malah memberikan kesempatan ke The Warning, tiga bersaudari yang viral di YouTube untuk bermain bersama Alessia Cara, musisi pop.

Kebinekaan menjadi nilai tawar ketika melihat figur atau band prominen seperti Darius Rucker (Hootie and the Blowfish) dan Per Gessle (Roxette) membawakan lagu yang sama dengan Phoebe Bridgers. Dari Nigeria, Mongolia, Meksiko, Kolombia, hingga India, semua Metallica.

Enter Sandman

Single pertama dari album swanama ini memiliki 6 versi. Ghost dan Weezer menjadi figur terkenal yang menyumbangkan interpretasi mereka atas lagu tentang mimpi ini. Bisa ditebak, mereka masih membawakan lagu yang berbasis riff gitar Kirk Hammett ini sesuai khittah penciptaannya. Bernuansa rock. Hanya saja Ghost lebih berani melakukan penyesuaian dengan temanya.

Ghost tidak mengikuti struktur lagu aslinya. Tobias Forge membuka dengan lantunan vokal dan piano. Menabrak skema standar yang membuka lagu dengan riff signature gitar. Ketika verse kedua, baru "ledakan" dimulai dan mendudukkan kembali status Sandman sebagai salah satu lagu metal paling populer.

Alessia Cara dan The Warning membawakan dengan lebih ringan, bersaing dengan Rina Sawayama. Keduanya mengeskplorasi nuansa. Alessia membawa ke ranah yang lebih nyaman didengarkan segala orang. Sementara Rina bereksplorasi dari tata suara, termasuk merendisi versi doa dalam lagu ini.

"Versi Rina ini ibarat Metallica kawin dengan Nine Inch Nails dan menghasilkan anak," komentar salah seorang pengguna di YouTube Rina Sawayama.

Sad But True

Ciri khas lagu ini adalah groove dan “heavy”. Stempel produksi album swanama ada pada lagu yang juga rutin dibawakan Metallica kala konser ini. Ciri khas ini yang kemudian diambil Royal Blood.

Band Inggris ini beranggotakan dua orang, vokalis sekaligus pemain bas serta pemain drum. Bisa ditebak eksperimen mereka tak jauh dari bunyi rendah. Mereka menambahkan reverb yang membuat “Sad But True” semakin terlilit logam dan jatuh ke tanah. Lebih berat dan bernuansa Black Sabbath.

Groove dan beat yang menjadi nafas lagu ini juga diterjemahkan oleh Mexican Institute of Sound dengan khasanah lokal. Beat-beat vernakuler khas Meksiko, yang kerap dijumpa di berbagai perayaan budaya negara tersebut, membuat “Sad But True” menjadi musik disko. Bayangkan pertemuan musik "disko akhirat" yang ada di film Coco dan riff Metallica. MIS memang sempat didapuk untuk mengerjakan musik di film Disney tentang dios de la muerte tersebut.

Sam Fender mengambil pendekatan yang berbeda. Ia mungkin membaca lirik lagu ini tentang ironi hubungan yang cocok diceritakan secara balada. Maka ia membuang semua logam dan menyajikan dalam versi strip. Berbekal gitar bersenandung “Hate. I’m your hate when you want love.” Nyinyir sempurna.

Ada 7 versi lagu ini. Masih ada versi St Vincent, Jason Isbell, dan yang lain, yang memberi nuansa berbeda-beda.

Holier Than Thou

Tidak semua pendekatan yang menyimpang dari versi asli akan menjadi bagus. Bagi orang yang sudah demikian lekat dengan versi aslinya, kadang tributasi terbaik ya membiarkan saja sesuai aslinya.

Corey Taylor tampak setuju dengan pernyataan tersebut ketika membawakan “Holier Than Thou”. Rendisinya mirip dengan versi asli. Ia hanya menambahkan unsur senang-senang ketika menyisipkan riff “Whiplash”, lagu dari album pertama Metallica.

Pendekatan Corey berbeda dengan Biffy Clyro. Band Skotlandia ini juga bersenang-senang, tetapi lebih berani mengambil jalan yang tidak selalu sama. Versi mereka masih membawa riff klasik James Hetfield, dengan beat dan melodi yang lebih variatif.

Shor Police, band asal India yang bekontribusi di The Metallica Blacklist


The Unforgiven

Salah satu lagu yang populer dari album swanama Metallica ini memiliki 7 versi pada kompilasi Blacklist. Semua mengambil eksplorasi ekstrim kecuali Cage the Elephant. Yang paling menarik barangkali ada pada versi yang disumbangkan Vishal Dadlani, DIVINE, dan Shor Police. Dari namanya bisa ditebak asal musisi ini. India.

Metallica tercatat hanya sekali mampir ke India. Namun jejaknya tetap bisa diamati di negara dengan populasi tertinggi kedua dunia tersebut. Vishal Dadlani adalah musisi rock dari India. Ia menyumbangkan intro dengan lantunan bariton “What I’ve felt, what I’ve known…” Dekonstruksi ini cukup nekad karena salah satu ciri khas “The Unforgiven” adalah intro kereta dan petikan gitar.

Divine, rapper dari India, juga memberi warna di salah satu verse dengan bahasa Hindi. Meski tidak paham dengan apa yang ia lantunkan, semua terbungkus rapi berkat konsep musik dari Shor Police. Duo pop India ini (bayangkan Potret, versi Indonesianya) yang membuat aransemen unik menembus kurasi Metallica atas interpretasi lagu klasik mereka.

Rendisi India itu bersaing dengan versi lain yang juga berkesan. Cage the Elephant membawa soul lagu dan memasukkan elemen kreatif untuk menambah aspek melodi. Bila mendamba versi yang dekat dengan aslinya, maka rendisi band rock Amerika ini bisa jadi pilihan.

Wherever I May Roam

Senada dengan “The Unforgiven”, ciri khas lagu ini banyak dibawa oleh intronya. Komposisi lagu ini sinematis, dengan lirik yang berima yang menambah bebunyian ritmis.

And the earth becomes my throne. I’ll adapt to the unknown.

Dari hanya 4 versi yang ada, hanya Jon Pardi yang masih membawa konsep asalnya. Musisi country ini semakin membawa lagu tentang jiwa merdeka ini lebih ke selatan. Penggemar Metallica mungkin tidak asing, karena dalam beberapa rendisi konser akustik, band memang membawa “Wherever I May Roam” seperti musik latar film koboi.

Don’t Tread on Me

Riff terbaik di album swanama Metallica bukan pada “Enter Sandman" atau "Sad But True", tetapi di lagu ini. Produser Bob Rock sempat menjagokan lagu ini sebagai single pertama, sebelum Lars Ulrich memilih "Enter Sandman". Lagu ini tidak jadi dirilis sebagai single, meski artwork album mengambil lambang ular dari selebaran slogan perang sipil Amerika: "Don't Tread on Me".

Ketika album dirilis, penempatan lagu ini pada akhir side A juga kurang menguntungkan. Dalam versi kaset dan piringan hitam, sebelum permulaan lagu bila dibalik akan langsung ke track paling populer: "Nothing Else Matters". Maka, tidak heran bila kemudian lagu "Don't Tread on Me" menjadi overlooked dan terlewat.

Beruntung bila kemudian band Volbeat mengambil rendisi dan mengembalikan keadilan apresiasi bagi lagu ini. Riff terbaik tidak disia-siakan band Denmark ini dengan menjadi struktur bagi improvisasi mereka. Pesan "damai" dalam bahasa "aktif-agresif" salah satu lagu rock mengenai ideologi konservatif terbaik ini bisa tersampaikan dengan baik.

Through the Never

Hal paling menarik dari 2 rendisi lagu ini adalah kehadiran The Hu, band asal Mongolia yang menggabungkan unsur etnik dan metal. The Hu menambah diversifikasi penampil pada album kompilasi dari negara yang bukan identik dengan metal. Dan penampilan mereka sama sekali tidak mengecewakan juga.

Wakil lain pada rendisi "Through the Never" ini juga membentangkan pengetahuan geografi kita. Tomi Owo adalah penyanyi R&B dari Nigeria. Dan sesuai genrenya, Tomi membalut lagu yang jadi judul sinema Metallica ini dalam nuansa soul dan pop.

Sama seperti "Don't Tread on Me", lagu ini juga track yang cenderung "overlooked" akibat pendengar album era rekaman analog ingin cepat-cepat mengakses ke lagu paling populer dari seluruh katalog Metallica.

TRESOR musisi asal Kenya yang berkontribusi dalam rendisi Nothing Else Matters pada proyek The Metallica Blacklist.


Nothing Else Matters

Total ada 12 versi lagu paling populer dari Metallica ini. Cukup untuk membuat album sendiri, dengan single pertamanya juga menjadi track paling populer dari kompilasi ini: Miley Cyrus.

Dari selusin rendisi, performa Miley Cyrus bersama Elton John, Robert Trujillo, Yo Yo Ma, dan Chad Smith ini terasa paling wah secara produksi dan performa musisinya. Timbre khas Miley Cyrus sangat sesuai dengan soul lagu yang sudah ditonton lebih dari semilyar orang di YouTube.

"Nothing Else Matters adalah salah satu lagu terbaik di seluruh katalog rock," kata Elton John dalam wawancara dengan Howard Stern. "Mudah membuat melodi apapun di atas lagu yang memang sudah sangat indah dari asalnya."

Simplisitas "Nothing Else Matters" yang membuat ribuan orang belajar memetik gitar di kunci open E rata-rata masih dipertahankan oleh semua penampil. Rata-rata tidak ada dekonstruksi luar biasa yang menjadi testamen jejak lagu balada ini ke semua yang pernah mendengarnya. "Nothing Else Matters" adalah sakral.

Pesan yang disampaikan, dari pita suara Miley, Phoebe Bridges, atau Chris Stapleton tetap sama. Alunan piano Dermot Kennedy hingga bunyi gitar TRESOR asal Kongo masih membawa kesedihan yang sama. Hanya musisi-musisi yang sudah "mapan" seperti Per Gessle dan My Morning Jacket yang "berani" memberikan identitas mereka sendiri.

Of Wolf and Man

Hanya satu rendisi yang masuk untuk lagu ini. Di proyek kompilasi Blacklist ini, Metallica menyodorkan album swanama dan menyerahkan pada semua yang ingin berpartisipasi untuk memilih lagu apa. Dari sekian, setidaknya 50-an band lain, Goodnight, Texas memilih lagu “Of Wolf and Man”.

Seperti namanya, Goodnight, Texas membawa nuansa “selatan” dengan strip down lagu tentang naluri manusia ini. Mendengar versi ini seperti diceramahi Bob Dylan melalui folk-ballad-nya.

The God That Failed

Acap disebut “lagu terlemah” dari album swanama Metallica, “The God That Failed” sebetulnya membawa tema dan nuansa yang kuat di baliknya.

Lagu ini bercerita tentang kekecewaan James Hetfield pada gerakan metodis, puritan agama, yang dianut ibunya. Ketika kanker menggerogoti kesehatan ibunya, ia menolak diobati dan mengandalkan kekuatan doa, sesuai anjuran gerakan tersebut. Pada akhirnya James melihat ibunya meninggal.

Nuansa kesedihan itu jarang diekspos dengan image Metallica yang bak karang cadas. Musisi Imelda May mengambil celah itu dengan baik ketika membawakan rendisi “The God That Failed”. Harmoni suara satu-duanya memberi emosi, seolah menciptakan dialog baik-jahat yang membalut nada marah, sedih dan kecewa dalam satu ungkapan.

I hear faith in your cry. Broken is the promise, betrayal. The healing hand held back by the deepened nail.

Izia Higelin, musisi sekaligus aktris Perancis yang menyumbang rendisi lagu pada proyek The Metallica Blacklist.


My Friend of Misery

Basis Jason Newsted berkontribusi besar dalam lagu ini. Bassline Newsted menjadi riff utama dalam komposisi yang mulanya dimaksudkan untuk dirilis dalam format instrumental. Sekuel dari “Call of Ktulu”, “Orion”, dan “To Live is to Die” dari album-album sebelumnya.

Karena berbasis komposisi instrumental, segala lapis instrumen di lagu ini sudah menyumbangkan komposisi melodis. James Hetfield kemudian menambahkan lirik yang relatif datar agar tidak merusak dimensi melodi dari lagu ini.

Nah, Izia, musisi Perancis tampak tidak terlalu peduli dengan konsep tersebut. Ketika membawakan “My Friend of Misery”, Izia membuang bagian riff Newsted!

Izia mengompensasi dengan membuat versi vokal yang lebih melodis dan jadi latar muka. Melodi vokal lebih dinamis, dan malah mengeluarkan potensi lain dari lagu ini. Yaitu lirik lagu yang ditulis James Hetfield tentang kenelangsaan.

Tema dan lirik ini juga yang lebih menarik bagi Kamasi Washington, saksofonis jazz berpengalaman dari Amerika. Washington pernah membawakan “My Friend of Misery” dalam versinya ketika konser sebelum ini. Ia mengaku tertarik dengan tema dan nuansa lagu ini. Sama seperti Izia, ia membuang riff utama, tetapi mempertahankan “melodi ratapan” yang jadi basis solo harmoni gitar di lagu ini.

Versi Izia dan Washington adalah 2 dari 3 rendisi untuk lagu “My Friend of Misery”. Menariknya, kita bisa melihat dimensi yang berbeda dari interpretasi subjektif musisi uang kemudian membuat aransemen ulang.

Struggle Within

Pada lagu penutup album, hanya satu versi yang disuguhkan. Kali ini duo yang familiar dengan penggemar Metallica, yaitu Rodrigo y Gabriella.

Duo asal Meksiko yang menyajikan permainan gitar flamenco tersebut pernah membawakan berbagai lagu Metallica dalam format ini. Mereka juga pernah naik panggung bersama anggota Metallica. Untuk memberi konteks, dengan konsep tanpa vokal pada rendisi lagu ini, album swanama Metallica akhirnya punya nomor instrumental juga, setelah 30 tahun.

Related

vishal dadlani 8419317100399358140

Posting Komentar Default Comments

Follow Me

-

Podcast

Ads

Popular

Arsip Blog

Ads

Translate

item