Dongeng dari Verona

Romansa Romeo e Giuletta bukan satu-satunya kisah dari Verona...


Romansa Romeo e Giuletta bukan satu-satunya kisah dari Verona...


Alkisah ada dua saudara. Si sulung bebadan kekar, wajah tampan, dan menarik banyak perhatian orang. Ia juga relatif tangkas dengan pernah memenangi suatu perlombaan kerajaan.

Lalu, kontras dengan si sulung, adiknya, buyung, jauh panggang dari api untuk bisa melesat secara reputasi. Ia kecil, pendek, dan berpenampilan seperti tukang. Tersulut dengan prestasi abangnya, si buyung mencoba bertanding di perlombaan kerajaan. Tentu saja ia menjadi bahan tertawaan sebelum berlaga. Sebagian karena penampilannya, dan sebagian lagi akibat bayang-bayang si sulung.

Ilustrasi dongeng itu tampak tepat untuk menggambarkan kota Verona dengan dua klub sepakbolanya. Hellas dan Chievo. Nama pertama lebih populer semenjak secara mengejutkan keluar menjuarai Serie A medio 80an. Mereka menjadi simbol kota, sehingga sering disebut - simply - dengan Verona.

Sementara Chievo - yang notabene merupakan nama sebuah distrik di bagian Verona - baru promosi di tahun 2001, setelah sebelumnya senantiasa berkubang di kasta bawah semenjak 1929. Pada 1995, Chievo mencanangkan ambisi untuk turut membawa panji Verona di kompetisi Italia, lewat pengusaha roti, Luca Campedelli. Niat itu menjadi tertawaan. Dan yang paling keras tertawa adalah Hellas dan pendukungnya. Mereka berujar: "Hanya bila keledai bisa terbang, baru Chievo akan sampai ke Serie A."

Membandingkan Chievo dan Hellas bisa Anda bayangkan dengan kesebelasan Tanah Abang dengan Persija. Chievo adalah bagian minor, yang bahkan mereka tak mempunyai stadion sendiri. Chievo dan Hellas berbagi stadion Marc Antonio Bentegodi yang berkapasitas 35000 penonton. Bila Hellas bertanding, maka seisi kota asal Romeo-Juliet itu memenuhi stadion. Sementara, ketika Chievo bermain, hanya 4000-6000 orang saja yang hadir.

Maka, dari situ ejekan Hellas ke Chievo berlandasan. Klub kelurahan, dengan pendukung minor dan dimiliki pengusaha kue akan mewakili kota Verona yang agung?

Kenyataan berbicara lain. Entah magi Verona yang memikat pendongeng, keajaiban memang terjadi di sana. Semenjak dipegang Campedelli, Chievo memperbaiki diri sendiri. Alberto Malesani memulai revolusi di tahun 1995 membawa Chievo dari Serie C2 ke Serie C1 dalam waktu dua musim. Domenico Caso mengangkatnya lagi ke Serie B pada tahun 2000. Caso pergi, lalu Luigi Del Neri mengambil estafet, dan ialah Shakespeare yang meletakkan bumbu romansa dalam cerita.

Dalam waktu hanya semusim, ia membawa Chievo ke Serie A. Mereka menyusul abangnya, Hellas yang berada di kompetisi prima categoria. Maka ejekan lama kembali mencuat. Bahwa di tahun 2001, keledai memang bisa terbang. Ketika pendukung Hellas mengejek mereka, Chievo bahkan membawa olok-olok tersebut menjadi julukan mereka, Mussi Volanti (Keledai Terbang). Gunakan kelemahanmu sebagai tameng, maka kau tak terkalahkan, kata sebuah ujaran. Dilecehkan tak melemahkan, sebaliknya menjadi motivasi.

Chievo, tahun 2001, menjelma sebagai wakil kedua Verona. Mereka lantas mengganti kostum dengan simbol kota, biru-kuning (sama dengan warna Hellas, warna asli Chievo adalah biru-putih). Mereka seolah berkata bahwa wakil Verona tidak hanya Hellas!

Pendukung Hellas yang mayoritas tentu tidak senang. Mereka masih berharap klub pujaan mereka sebagai satu-satunya wakil di Serie A sambil memprediksi bahwa si keledai akan langsung jatuh ke Serie B pada musim berikut. Bagaimana tidak? Klub milik juragan roti, dengan pendukung kurang dari sepertujuh Hellas, serta tanpa pemain terkenal pasti akan dengan mudah dilibas kontestan Serie A lainnya.

Sepakbola, bagaimanapun, adalah tataran penuh keajaiban. Tanpa banyak rekayasa, kesederhanaannya bisa menghadirkan kisah-kisah ajaib. Bila si keledai membuktikan mereka mampu terbang, apalagi yang mustahil?

Musim 2001/2002 adalah kiprah perdana Mussi Volanti di Serie A sepanjang sejarah klub berdiri. Pelatih Del Neri dan pemilik Campedelli menanamkan nilai kesederhanaan sebagai konsep kiprah mereka. Simplisitas filosofi bermain tercermin dalam pola 4-4-2 ortodoks yang sangat Inggris (yang bahkan mulai ditinggalkan oleh tim Britania sendiri).

Di bawah mistar ada kiper Cristiano Lupatelli yang mengenakan nomor punggung 10! Ia dikawal bek veteran, loyalis Chievo Maurizio D'Angelo yang didampingi Nicola Legrottaglie. Fullback Lorenzo D'Anna dan Salvatore Lanna mengapit kedua bek sentral di kanan dan kiri.

Dua pemain sayap keling, Christian Manfredini dan Eriberto menjadi penyuplai umpan ke duet menara, Massimo Marazzina dan Berrado Corradi sebagai striker klasik. Sumber kreasi ada di duet gelandang Eugenio Corini dan Simone Perrotta.

Para pemain antah-berantah ini siap bertempur dengan misi kecil membawa legitimasi panji Verona. Hal yang harus dilewati (antaranya) adalah dua kali derby melawan Hellas di Serie A. Pasukan rival diperkuat sejumlah emerging talents macam Adrian Mutu, Massimo Oddo, Mauro Camoranesi, dan Marco Cassetti.

Derby yang terjadi di kota Verona sesungguhnya memberikan gambaran bagaimana aliran dukungan bagi Chievo. 33000 suporter Hellas memenuhi Bentegodi, dengan 1000 kursi kosong sebagai barikade untuk 1000 sisa pendukung Chievo. Hellas yang waktu itu ditangani allenatore peletak fondasi Chievo, Malesani, memenangkan pertandingan dengan skor 3-2.

Pada giliran Chievo menjadi tuan rumah, mereka peroleh jatah suporter yang lebih banyak. Namun 4000 kuning-biru mereka tertelan oleh 30000 suporter Hellas. Kandang tetap jadi tandang. Namun, pasukan Del Neri rasanya tak terintimidasi dengan keluar sebagai pemenang dengan skor 2-1.

Kesederhanaan permainan Chievo membawa keledai tak hanya terbang, namun juga melesat. Setelah sempat memimpin Serie A selama 6 pekan, di akhir musim Chievo finish di urutan 3. Posisi yang sangat mengejutkan banyak kalangan, terutama rival sekota mereka, Hellas.

Hellas terdegradasi di akhir musim ke Serie B. Mengubur mereka dalam-dalam sampai sekarang bersama dengan olok-olok keledai mereka terhadap Chievo.

Sementara sang keledai masih terus terbang, meski sempat terjembab sekali di Serie B pada 2007. Hanya semusim di kasta kedua, Chievo sekarang masih beredar di Serie A, sementara Hellas belum menemukan jalan untuk menapak ke atas.

Pada 2011, rataan pendukung Chievo yang hadir di Bentegodi naik menjadi 13000 orang/partai. Bagi Campedelli, itu artinya masih ada 20000 warga Verona yang masih haus bukti akan eksistensi Chievo. Untuk menuju ke situ, prinsipnya masih tetap sederhana. Bahwa sepakbola adalah layaknya kehidupan yang di-setting dari impian dan diwujudkan dengan kerja keras.

Si buyung yang (tampak) semenjana rupanya bisa mengklaim panji kuning-biru dari kota romansa, Verona. Mereka kini menjadi sole ripresentativo bagi kota tersebut di Serie A sekaligus mengibarkan memori salah satu dongeng terbaik dari jagad sepakbola.

Sekarang, siapa bilang keledai tak bisa terbang?

Related

verona 7950327820450735082

Posting Komentar Default Comments

Follow Me

-

Ads

Popular

Arsip Blog

Ads

Translate

item