So Italy

Jika postingan sebelum ini menyoroti tentang gairah orang-orang Italia, maka ada satu lagi ciri orang Italia yang kentara, yaitu sikap santa...


Jika postingan sebelum ini menyoroti tentang gairah orang-orang Italia, maka ada satu lagi ciri orang Italia yang kentara, yaitu sikap santai. Italia adalah negara mediterrania yang bebatasan laut dengan benua Afrika. Iklim di Italia, terutama Italia Selatan lebih hangat ketimbang sebagaian besar negara yang ada di benua Eropa. Laut Tengah mengelilingi semenanjung Italia, yang menyebabkan iklim di Italia (kecuali wilayah Italia Utara) mendapat pasokan angin hangat sepanjang tahun. Oleh karena itu, Italia adalah salah satu destinasi wisata tatkala musim dingin melanda Eropa.

Masalah iklim hangat mungkin juga korelatif dengan budaya orang-orang Italia yang cenderung lebih santai dibandingkan pada umumnya orang Eropa. Mentalitas orang Italia adalah rekreasi. Oleh karena itu, tidak heran banyak hasil karya kreasi seperti seni, aneka kuliner dan sebagainya yang dihasilkan oleh Italia. Italiano juga cenderung "malas", bukan merupakan tipe pekerja keras yang mengisi kesibukan dunia industri. Kota industri hanya terdapat di seputaran Alpen, yang berada di Italia Utara.

Hal itu pula bisa kita amati jika mengacu pada term sepakbola. Melihat tim-tim yang berbasis Italia adalah anomali. Secara materi mereka mempunyai kreasi yang lebih bagus dibandingkan dengan tim-tim lain di Eropa. "Seniman" bola terus lahir dari negeri yang bentuk kontinennya mirip dengan kaki ini. Sebut saja mulai dari era Gianni Rivera sampai fenomena angkatan Sebastian Giovinco dan Rafaelle Palladino saat ini. Mereka membuktikannya dengan menyabet gelar juara dunia empat kali, serta puluhan di tingkat klub.

Menjadi anomali ketika kita bisa flashback mengenai banyaknya masalah yang terjadi di bekas tanah induk kebudayaan Romawi ini. Serentetan partai klasik yang melibatkan Italia tidak hanya diisi dengan kisah gemilang, tetapi juga beberapa kisah memalukan. Sebagian besar diisi dengan lembaran hitam kegagalan-kegagalan konyol Gli Azzurri, sapaan tim nasional sepakbola Italia. Sebut saja "Battle of Santiago" di Piala Dunia 1962. Menyusul, kekalahan memalukan dari dua negara Korea, Korut dan Korsel, masing-masing di Piala Dunia 1966 dan 2002. Lalu kegagalan lolos kualifikasi Piala Eropa 1984, selepas mereka mentahbiskan titel ketiga juara dunia pada 1982. Tim Italia juga jarang tampil meyakinkan seperti halnya Jerman dan Belanda di masa jaya mereka. Mereka jarang membantai lawan-lawannya, bahkan ketika menghadapi tim sekelas Kepulauan Faroe atau San Marino.

Mentalitas santai tampaknya memang mempengaruhi pola tim sepakbola Italia. Mereka menjadi overkonfidens ketika menghadapi tim-tim yang dianggap berada di lapis bawah kasta sepakbola mereka. Sering sekali peluang dibuang sia-sia karena terlalu santai, dan akhirnya terpukul dari sebuah insiden konyol. Penyataan wasit kontroversial Byron Moreno selepas hujatan yang mengiringi perdelapan final Piala Dunia 2002 lalu bisa dijadikan rujukan. Ketika unggul satu gol, pemain Italia tidak segera "membunuh" lawan, namun terlalu santai sehingga menyebabkan mereka kebobolan di penghujung laga.

Sikap santai mungkin juga bisa dialamatkan pada tim besutan Enzo Bearzot pada 1982-1984 ketika mereka gagal lolos ke Piala Eropa 2008. Rekreasi tak kunjung usai dari gemerlap dionisyan usai pesta kemenangan Piala Dunia membuat mereka terlena dan kehilangan banyak poin yang beujung pada absennya sang juara dunia di pentas Eropa.

Pola itu hampir terulang di era sekarang. Italia di bawah Roberto Donadoni juga masih mabuk kemenangan tatkala mereka dihajar Kroasia dan Prancis, serta ditahan tim gurem Lithuania hanya sebulan setelah merebut titel juara dunia keempat di Jerman 2006. Efek rekreasional itu juga sering kali mengimbas pada klub-klub Serie A di awal musim, di mana mereka sering sekali terlambat panas jika berlaga di kompetisi Eropa. Mentalitas Italia adalah hidup untuk dinikmati. Rata-rata mereka bukan pekerja keras, tetapi lebih ke pekerja terampil. Mereka malas untuk bekerja keras, lembur, dan sebagainya alih-alih memanfaatkan pekerjaan sebagai lahan untuk berkreasi dan pamer. Tidak heran jika profesi dunia hiburan, modelling, seni, kerajinan dan sebagainya marak di salah satu kiblat mode tersebut.

Pastinya bukan untuk tujuan menghibur jika para tifosi harus selalu merasa dag dig dug menyaksikan tim kesayangan mereka. Tim sepakbola Italia sangat lihai memainkan partai sepakbola seperti layaknya fragmen drama yang ada tahapan pembuka, klimaks, antiklimaks serta ending, lengkap dengan aksi akting dan gesture khas mereka. Atau seperti halnya Houdini yang membagi ketegangan dengan cara membebaskan diri di tengah situasi terjepit. Publik mungkin masih ingat dengan drama di Westfalen pada semifinal Piala Dunia 2006 lalu. Atau yang paling sahih adalah kemenangan dramatis di Skotlandia, Sabtu lalu di ajang kualifikasi Piala Eropa 2008.

Meski unggul cepat di menit ke-2 melalui Luca Toni, jantung penikmat Gli Azzurri dipaksa menuju klimaks ketika tekanan Skotlandia yang berbuah gol kontroversial Barry Ferguson di babak kedua membuat keadaan imbang. Dalam situasi hidup-mati di mana kekalahan berarti maut, Italia justru menghabisi lawannya tepat di menit akhir. Heading Panucci adalah tusukan penghabisan sang gladiator setelah mendapat restu Kaisar.

Aroma seperti itulah yang selalu lekat dengan kesebelasan Italia. Mereka tidak akan menang dengan absolut, yang menghadirkan drama datar. Tetapi lebih memilih membahayakan diri mereka sendiri, lantaran sikap santai mereka, untuk kemudian meraih segalanya dengan hal-hal yang dramatis. Sikap santai sering membunuh mereka di putaran model kompetisi atau semi kompetisi, seperti kualifikasi atau fase grup. Sikap rekreatif dan memandang santai juga sering nampak jika Italia bertemu dengan lawan yang dianggap tidak sekasta. Itu adalah lagu-lagu lama di balik kekalahan-kekalahan konyol mereka.

Situasi-situasi dramatis itu adalah hal negatif yang dihasilkan dari sikap santai mereka. Jika mereka mau sedikit bekerja keras, mungkin partai di Glasgow tersebut tidak akan terlalu berpengaruh, misalnya jika mereka tidak sesantai ketika menghadapi Lithuania di kandang, dan tidak kehilangan angka sewaktu meladeni Perancis di Milan.

Dan kemenangan dramatis seperti yang teradi di Hampden Park, Glasgow, Sabtu 17 November lalu mengingatkan kita kepada partai-partai Italia di sepanjang sejarah sepakbola dunia: kontroversial, menegangkan dan dramatis.

Sangat Italia.

PS: Kontroversial? Well, since yang dihadapi alah tim Britania Raya, jangan kaget jika kemudian adegan pemberian pelanggaran oleh wasit Mejuto Gonzales Cantalejo yang menghasilkan gol kedia Italia akan selalu diblow up oleh pers Britania yang memang chauvinistik (jangan herap pula jika bakal banyak muncul di media lokal). Mereka selalu berstandar ganda. Mungkin mereka lupa kadar kontroversial gol Ferguson yang jelas-jelas offside, dan kasus kontroversial anulir gol Di Natale yang justru onside. Seperti halnya mereka yang bungkam rapat-rapat mengenai keabsahan gol di final Piala Dunia 1966.
Reactions: 

Related

football 6081738301667265639

Posting Komentar Default Comments

6 komentar

Erwin Maulana mengatakan...

seperti halnya anda membenci inggris!! SAYA SANGAT MEMBENCI ITALY!!! ROMAWI-KATOLIK-MAFIA APA YANG ANDA BANGGAKAN DENGAN NEGARA-AGAMA YANG MEMBERANGUS PERADABAN ISLAM?? ITALY SUCKS!!!! LONG LIVE ENGLAND!!! u startin to hate us... just dunt wonder if someone hate your opinion! piss

Mohammad Helman Taofani mengatakan...

Weh, emosi yang ngga mutu mas.

Kalo ngomong pake dasar SARA mestinya ngga usah ngaku suka sama Inggris. Wong 11-12 sama Italia kan yak kebijakan politiknya. Nah bisa dibalik kan, sekarang apa yang Anda banggakan dari Inggris?

Tindakan emosional yang ngga mencerminkan seorang penulis tuh. Orang bahasan saya kan tentang kultur Italia. Emang ada gitu yang menghujat Inggris?

Mohon diletakkan saja sama proporsi yang pas tentang keberimbangan media. Mereka emang bagus memblowup kejadian untuk kepentingan mereka. Liat aja hasilnya sama Anda sendiri. Hehehehe...

Feel free to comment yak...

Ifool mengatakan...

wah..wah...mas yg di atas kayaknya benci banget nih ama Italy...:)
tapi mas, kalo bawa2 SARA tulung jangan bawa2 Inggris dunk...soalnya kalo gak salah Inggris ama Italy sama aja tuh kalo urusannya ke SARA..sama2 pernah memerangi Islam..

so, gak usah deh ngomongin SARA di sini, orang dr ujung atas sampe ujung bawah ceritanya bola semua koq...

btw Mas, asal tau ya, gw juga fans Inggris Mas...so, saling membenci antar fans dalam sepakbola mah hal biasa....gak usah bawa2 Agama segala..

sori yak,soalnya td gw geli aja bacanya...:)

Mohammad Helman Taofani mengatakan...

Mas Erwin, ada baiknya Anda turut membaca statement Gennaro Gattuso ini:

Christian Panucci's stoppage time header took Italy to next summer's European Championships, while ending all Scottish hope of reaching their first major finals for a decade.

"For me, Scotland have played very well in this Euro 2008," Gattuso said. "I remember some years ago, they were losing to the Faroes at one point in a game, and losing many other matches. Now it is different with more and more young players, like Brown, Fletcher, who are better than what they had before.

"They are playing with greater commitment because they have players with greater talent. You can see the confidence in Europe, with Scotland and Rangers and Celtic in the Champions League.

"Things are getting better for Scotland. I see the games in the Scottish league and Rangers have lost three times, to Hibs, Hearts and Dundee United, so the competition is not easy because the quality of players is better now."

This was the second successive qualifying campaign that Italy and Scotland have been drawn in the same group and Gattuso hopes that they are not paired together when the draw for the 2010 World Cup is made.

"I would rather we avoided Scotland because for me it is not easy," the ex-Rangers star said.

"I like Scottish people, the press. I have big respect for the press. We have now drawn Scotland in two competitions running, so now it is better for a change."

- See mas Erwin? Even kita ngga pernah membenci bangsa lain hanya karena sepakbola kok. Meski gue ngga suka sama sepakbola Inggris, gue sama sekali ngga benci Inggris. In fact, gue suka sekali Oasis, Led Zeppelin, The Who, film-film Inggris, Spice Girls, Queen, Guy Ritchie, Black Sabbath, etc etc. Nah lo, gimana tuh? Sebencinya gue sama Liga Inggris, gue masih bisa melihat liga mereka itu ideal sebagai liga panutan.

eko mengatakan...

bener banget bung hilman
memang banyak seniman sepakbola, tentunya sebagian besar berperan sebagai fantasista, yang lahir dari kultur sepak bola italia
gua rasa ini erat kaitannya dengan pola permainan yang dikembangkan di sana
fantasista, semacam totti dan baggio, adalah peranan yang sangat sakral dalam kultur sepak bola mereka sehingga support dari seluruh tim kepada orang yang memegang pernanan ini sangat dahsyat
pada akhirnya, ya wajar jika jiwa seni dan kreativitas orang-orang berbakat seperti baggio ini memang terakomodasi secara maksimal
di satu sisi, bagi penikmat sepak bola imajinasi tinggi seperti saya, kehadiran fantasista memang pemuas dahaga yang tiada duanya
namun bagi tim italia sendiri, sebenarnya ini adalah pedang bermata dua yang kerap membuat mereka tersandung, hehehe...

Mohammad Helman Taofani mengatakan...

Tuh kan bos...sama Kep. Faroe aja cuman menang 3-1, padahal pemain Itali nyetak dua gol dan Faroe 2 gol. Hehehehe...satu bunuh diri.

Suka terlalu santai emang, bikin gregetan.

Follow Me

-

Popular

Arsip Blog

item