Bingkai Sepakbola ala Nata

Banyak teman saya yang penggila bola, mengaku banyak menemukan sisi pandang lain soal si kulit bundar dari tulisan-tulisan kolumnis sepakb...



Banyak teman saya yang penggila bola, mengaku banyak menemukan sisi pandang lain soal si kulit bundar dari tulisan-tulisan kolumnis sepakbola.


Di Indonesia, bisa menyebut beberapa nama. Yang paling terkenal mungkin Sindhunata, yang rutin mengisi dengan perspektif budaya-nya di harian Kompas (ketika ada event besar). Tapi saya kurang begitu menggemari Sindhunata. Tulisan kolomnya, bagi saya, lebih mirip esai budaya timbang tulisan sepakbola, terutama ditilik dari lemahnya isu aktualitas. Wajar, bila memahami profesi utama dari Sindhunata memang sebagai budayawan, bukan wartawan sepakbola/olahraga. Oleh karena itu, saya memang lebih menyukai tulisan kolom dari seorang jurnalis, di mana aktualitas dan paparan data biasanya jauh lebih dalam, ditambah dengan skill mereka untuk menekspos hal yang menarik dari sepakbola.

Di antara sekian jurnalis yang saya ikuti tulisannya adalah Arief Natakusumah, mantan wartawan BOLA yang dulu aktif menyapa di akhir 90-an sampai awal 2000-an. Ketika BolaVaganza rilis, Nata kemudian aktif mengisi kolom di majalah bulanan sepakbola tersebut. Sejak saat itu pula, saya merasa kekuatan BOLA sedikit timpang, dengan porsi tulisan yang melulu menyoroti masalah prediksi dan hal-hal teknis yang kaku. Kecuali ketika tulisan Rob Hughes (kolumnis lain yang saya gemari) muncul berkala. Nata, bagi saya, menyajikan tulisan yang ideal sebagai kolom sepakbola. Pengetahuan data dan analisa mengenai sepakbola, yang didapatnya dari pengalaman sebagai wartawan, dilengkapi dengan perspektif sisi lain. Itu menjadikan tulisan Nata berkelas dan enak dibaca, terutama untuk melihat kedalaman dimensi olahraga bernama sepakbola.

Awal saya mengikuti Arief Natakusumah adalah ketika dirinya menggawangi sesi Liga Italia di tabloid BOLA, bersama dua narasumber: Rayana Djakasuria di Roma, dan Zainal Muttaqien di Napoli. Kekuatan itu bisa memberikan tulisan berantai yang menarik, tiap minggunya, tentang Serie A yang kala itu menjadi liga nomor satu di dunia (BOLA pula yang mempopulerkan istilah scudetto, milanista, interista, gli azzurri, dan sebagainya). Ketika satu demi satu narasumber lepas, Nata masih tetap konsisten dengan memberikan ulasannya mengenai geliat calcio di negeri spaghetti. Sampai ketika menjadi redaktur pelaksana, dan akhirnya naik ke Bola Vaganza, tulisan Nata mulai menghilang dari tabloid BOLA. Kolomnya muncul secara reguler di BolaVAGANZA, dan banyak menulis mengenai sepakbola global dan nasional.

Saya kurang mengikuti BolaVAGANZA, yang otomatis memberi jarak apresiasi terhadap tulisan Nata. Di tabloid BOLA sendiri, kolumnis lokal mulai jarang. Paling hanya beberapa kontributor BOLA di Eropa, atau yang masih relatif reguler adalah Rob Hughes. Wartawan BOLA jarang mendapat kesempatan menulis dalam bentuk kolom sejak berakhirnya era Weshley Hutagalung selepas Nata. Secara subyektif, tulisan Liga Italia juga perlahan mulai tenggelam, karena rata-rata kolumnis berbasis di Inggris, dan juga fakta bahwa Liga Inggris mulai menjadi kekuatan liga terpopuler di dunia.

Tetapi, kerinduan terhadap tulisan "berkelas" akhirnya terpenuhi. Di tengah gelombang literatur "abal-abal" mengenai sepakbola, Arief Natakusumah meluncurkan kumpulan tulisannya dalam buku berjudul "Drama Itu Bernama Sepakbola". Sebuah pustaka yang berisi beberapa tulisan terbaiknya selama menggawangi Bola Vaganza dan kolumnis tidak tetap di sesi Sport harian Kompas.

Dalam karya setebal 334 halaman tersebut, Nata mengulas mulai dari hegemoni global "football industry", sampai nostalgia klasik sepakbola lokal. Semua dalam bahasa khas-nya yang berimbang antara sisi olahraga sepakbola, dan gimmick-gimmick pendukung dalam bingkai politis, sosial, budaya dan sejarah. Coba simak di bab "Ramadhan dan Sepakbola". Pada bab paling panjang tersebut, Nata bisa membingkai makna ibadah ramadan bagi umat muslim dari kacamata sepakbola. Atau narasi dongeng yang menggambarkan derby Jawa di era kolonial antara Persis Solo dan PSIM Yogyakarta yang seolah tak kalah dari derby Roma di Italia, dalam bab "Derby ala Jawa".

Bagi saya yang menanti ulasan Nata mengenai calcio, juga terpuaskan atas tulisan lugasnya mengulas Serie A dalam berbagai bab. Gambaran rivalitas utara dan selatan di Serie A sangat terasa dari "studi kasus" yang diambil Nata mengenai kebangkitan Neapolitan (orang Napoli) pada renaisans pasca calciopoli 2006 lalu. Nata mencintai sepakbola Italia. Itu rahasianya kenapa dia bisa sangat emosional ketika menulis tentang calcio. Gaya mendongeng seperti pada Derby ala Jawa diceritakannya ketika menulis mengenai kejayaan bintang Serie A di masa lampau seperti Michel Platini (Fantasista Platini) dan Diego Maradona (Fanatisme Napoli) pada masa jaya mereka di 80-an. Tulisan empatik dan emosional juga terasa dalam keprihatinannya tentang nasib Serie A yang terpuruk di tahun 2006 dengan rangkaian skandal yang akhirnya berkulminasi pada skandal calciopoli (Quo Vadis Serie A?).

Secara keseluruhan, membaca buku Nata memang benar-benar menyiratkan subjudul yang dia ambil untuk karya perdananya ini: "Gambaran Silang Sengkarut Olahraga, Politik dan Budaya". Hal semacam itu memang telah menjadi bumbu drama bagi olahraga terpopuler di muka bumi ini. Dan bukan tanpa alasan bila sepakbola menjadi sangat populer, ketika mereka memiliki kekuatan humas dari penggemar-penggemarnya yang bisa merangkai kata di balik permainan lapangan. Buku Nata adalah bukti sahih dari kekuatan humas sepakbola yang harum diantaranya melalui tulisan para kolumnis jempolan macam Sindhunata dan (tentunya) Arief Natakusumah.
Reactions: 

Related

football 3245370228017598223

Posting Komentar Default Comments

13 komentar

eko mengatakan...

wah, padahal gua sempat liat bukunya di gramedia. tapi gak jadi beli karena tampilan depannya kok kurang "menjual". membaca opini ini, kayaknya patut dicoba juga.

gua pribadi memang merasa tabloid bola sekarang itu kering. dangkal dan informasinya diulang-ulang aja. mungkin wartawannya perlu diberi keleluasaan menulis yang lebih banyak. jika seperti ini terus, tabloid bola tidak akan ada bedanya dengan situs berita olah raga. cepat dan dangkal. sama sekali tidak berkesan, hahaha...

Helman Taofani mengatakan...

Yoi, mestinya mereka ngasi kesempatan buat kolumnis yang lebih banyak yak.

Andri Kusuma Harmaya mengatakan...

Aku wis ra taw nonton siaran bal2an pak!Saiki lg seneng motogp..Persaingan rossi,stoner ama pedrosa lebih seru!
(malah promosi motogp..hihi..)

Helman Taofani mengatakan...

Wah kalo MotoGP masih dilema ni. Asline aku seneng Rossi, neng kudu dukung Ducati...hehehehe.

ipul mengatakan...

Saya juga sementara membaca buku ini, belum selesai..baru sampai pada bab : the Forgotten Men

emang asyik nih bukunya...keren euyy..

Renimaldini mengatakan...

Wah, terima kasih mas udah singgah di blog Reni..
Senang juga ternyata ada yang menyukai Maldini (kalau Milan mungkin banyak,,,) Soalnya banyak yang bilang kok suka sama pemain yang udah uzur...

Dan soal fans AC Milan, saya memang saya sangat menyukai Milan. tapi bukan hanay ams saja kok yang pernah berkhianat. Saya juga pernah, ketika Sheva pindah ke Chelsea jadi suka membela Chelsea..

Dan karena kita sesama penyuka AC Milan dan Maldini bolehkan kan blognya saya masukkan dalam blogroll. Siapa tahu aja ada info terbaru soal sepakbola

Helman Taofani mengatakan...

@Ipul: You betcha...kolumnis favorit gue tuh.

@Reni: Bukan cuman suka, I worship Maldini! Hehehehe...banyak prinsip gw yang diwakilin sama Maldini. Uang bukan segalanya. You are what you give ( in terms of football). Blogroll? Okay, I'll link you back.

Aji Wibowo mengatakan...

Urun rembug bro...

Bukunya sudah dibeli, beberapa bab jg dah dibaca...artinya blum baca sampe kelar :-)

Arif Nata juga termasuk penulis spesialis sepakbola favorit saya, sepakat bahwa beliau sepenuh hati mencintai sepakbola dan membaginya dgn kita lewat tulisan...

Ttg Nata yg lain yaitu Sindhunata, saya ngefans beliau setelah basah kuyup dengan prediksi teknis-taktis yang penuh statistik dari media-media olahraga lokal...Ujungnya setiap penulis bola yg bergenre tidak biasa menjadi rujukan favorit.

Btw bro, klo ada rekomendasi buku bola bagus lain, tolong kasi tahu ya...

Helman Taofani mengatakan...

Sip bro Aji!!

Ipul mengatakan...

@ mbak renimaldini:

wah Mbak...yang "berhianat" atas Milan itu saya Mbak..bukan mas Hilman..hihihi..

@Hilman:
gini, suatu hari sy sempat nyasar ke blognya mbak Renimaldini, dan kemudian ngasih komen dikit trus memperkenalkannya ke blogmu..mungkin dikiranya ini blog-ku..hihihi..
sori..:D

Ebo Widarisman mengatakan...

Saya setuju dengan komentar anda mengenai bingkai sepak bola ala Nata. Nata memberikan nilai lain pada tulisan-tulisannya. Saya sempat sekilas membaca buku tersebut di Gramedia dan saya membaca bab Ramadhan tersebut. Banyak surprise dari mulai Nicholas Anelka sampai Robin Van Persie, hanya saja ada sedikit ganjalan apakah benar "kemusliman" dari nama-nama yang disebutkan itu dan bagaimana Nata dapat memperoleh informasi seperti itu lebih-lebih identitas agama di Eropa adalah sesuatu yang "tabu" untuk ditanyakan. Mengenai kolumnis sepakbola, memang sekarang ini jarang yang berbobot. Nata salah satu favorite saya, paling favorite adalah Sindhunata, buat saya tulisan Sindhu sangat menggairahkan. Satu lagi kolumnis tetapi sudah lama tidak muncul yang saya sukai adalah Emha Ainun Najib, Cak Nun juga memberikan nuansa yang berbeda pada setiap tulisan sepak bolanya....
Itu saja dulu,....
Salam,

Ebo Widarisman - e2112w@gmail.com

Yan Walando mengatakan...

Arief yang Nata ini emang pionnya BOLA buat sepakbola Italia (1 lagi Kurniawan, penggarap bagian motosport di BOLA). Artikel2nya menarik untuk dibaca. Entah darimana dia dapat semua info itu. Tulisan bung wiwid belum sampai level Nata. Gw harap sesekali Nata kasi artikel ke BOLA kek biar ga garing :D

Wawan Setiawan mengatakan...

Keren info bolanya, salam kenal....

indosport.com berita olahraga terbaru dan terlengkap di indonesia

Follow Me

-

SHOP

Popular

@helmantaofani

Arsip Blog

item