Body of Scott

"Body of Lies" dirilis di jaringan bioskop mainstream Indonesia bertepatan dengan tanggal rilis internasionalnya. Jadi, resensi d...


"Body of Lies" dirilis di jaringan bioskop mainstream Indonesia bertepatan dengan tanggal rilis internasionalnya. Jadi, resensi dan apresiasi belum banyak bertebaran di internet, membuat saya bisa lebih bebas menangkap apa maksud dari Ridley Scott dan kawan-kawan mengembangkan adaptasi kisah agensi CIA di Timur Tengah ini.

Menonton Ridley Scott adalah menyaksikan seorang yang sangat berdedikasi di dunia film. Scott selalu mampu membuat film yang aktual dengan jaman. Dulu dirinya mampu membuat Blade Runner yang jadi kitab suci para penggemar sci-fi di akhir 80an. Lalu masih tetap berkarya, dengan ragam tema. Sebagai fondasi awal, Body of Lies ditulis sebagai inkarnasi "Black Hawk Down" dan "American Gangster", dua film Scott di milenia ketiga ini.

Secara perbandingan, Body of Lies mungkin bisa dibilang memiliki konsep alur semacam Black Hawk Down. Ritme film ini linier, datar dan (terasa) panjang, dengan konflik yang naik turun namun tidak pernah benar-benar sampai klimaks. Jadi, bagi yang mood-nya tidak pas, mungkin akan terasa membosankan seperti halnya di Black Hawk Down (klimaksnya mungkin cuma visualisasi titel-nya). Sisanya adalah pasang surut CIA dan intel lokal Yordania (di dunia nyata, konon jaringan intel Yordan dilatih oleh Prabowo Subianto) memburu pentolan Al Qaeda bernama Al Salim.

Titik belok dalam alur di film ini ditentukan dengan (hanya) beberapa dialog kunci yang langsung mengalir dari bibir Richard Ferris (Leo Di Caprio), Ed Hoffman (Russel Crowe), dan scene-stealer Hani Salam (Mark Strong) yang mengingatkan saya ke sosok Jose Mourinho. Jadi, potensi William Monahan (scriptwriter) betul-betul dimaksimalkan Scott untuk menciptakan simpul-simpul alur melalui bahasa dialog. Selebihnya adalah visualisasi aksi yang mungkin bagi orang yang terlambat mengikuti dialog bisa sedikit bingung (bisa dibandingkan dengan film karya adik Ridley Scott, Tony, yang berjudul "Spy Game"). Konsentrasi penuh harus selalu dijaga agar tidak tertinggal menangkap garis besar alurnya.

Film ini juga religious sensitive, seperti film Ridley Scott yang juga ditulis William Monahan, "Kingdom of Heaven". Banyak tema-tema yang mengutip kitab suci Al Quran, menjadi akar dialog. Kemudian ilustrasi ibadah ritual umat Islam juga banyak menjadi latar. Bagi yang sensitif, mungkin bisa buru-buru menyimpulkan bahwa film ini akan sedikit menyinggung umat Islam (seperti halnya kasus film True Lies dulu). Namun sebetulnya pertemuan ideologi religi ini hanyalah salah satu latar yang mewarnai tarik ulur dunia spionase modern di lokasi konflik terpanas dunia, Timur Tengah. Core film ini hanyalah merupakan perbandingan dua metode, tradisional dan modern (disamping bahasa gambar ala Ridley Scott yang tetap terjaga standarnya). Secara implisit dijelaskan di film melalui analogi perlawanan dengan metode tradisional dari teroris Al Qaeda, yang bersaing dengan dominasi teknologi CIA (dan dunia barat).

Melalui Body of Lies, Scott memperlihatkan kepiawaiannya untuk mengolah tema sensitif menjadi film yang menghibur. Tapi saya sudah menebak bahwa film ini tentu akan bernasib sama seperti Kingdom of Heaven. Dengan melibatkan perspektif yang meluas (artinya melibatkan pemaparan ideologi sang teroris), artinya Scott sedikit meleburkan wilayah antagonis ke grey area. Ini berarti tindakan yang tidak populis, dan kadang bisa berdampak buruk bagi kehumasan film. Dan memang, sejauh ini raihan pendapatan dari film bisa dibilang jeblok, dan kritik masih bergerak di angka abu-abu (sekitar 50%).

Namun, pengalaman Ridley Scott menunjukkan dia adalah seorang yang lebih berdedikasi ke dunia film ketimbang godaan popularitas dan materi. Body of Lies, menurut saya, tetap menjadi pembuka yang sangat bagus di musim gugur ini.




PS: Bagi penggemar musik rock, silahkan "tongkrongi" layar ketika end credit, karena ada bonus dua lagu paten. "If the World" dari Guns N Roses (untuk album terbaru mereka, Chinese Democracy), dan "Bird's Eye", kombinasi klasik komposer Marc Streitenfled dengan duo frontman Mike Patton (Faith No More) dan Serj Tankian (System of A Down).
Reactions: 

Related

movie 458889407003392174

Posting Komentar Default Comments

4 komentar

mitra w mengatakan...

wah, wajib ditonton kalo gitu. Kemarin pas di smd juga liat ini masih coming soon :).

Jati Priyoharjono mengatakan...

Sedikit koreksi, Bos. Tony itu kan adiknya Ridley, bukan sebaliknya (alinea 4).

Danke schoen bwt reviewnya. Apapun film dari keluarga Scott, wajib tonton. Kapan nih nyampe Solo? :-(

Helman Taofani mengatakan...

@Jati...ah my bad. Edited then.

Bazoekie mengatakan...

Wah nunggu bajakane wae, neng bioskop lagi musim fil indonesia.Bosen...

Follow Me

-

Popular

Arsip Blog

item