Flashtrip ke KL dan Ipoh


Kalau kamu punya waktu dua hari, satu malam untuk bertandang ke negeri jiran, Malaysia, there could be anything. Mungkin salah satunya bisa mengikuti apa yang kami lakukan, masih segar, baru dijajal Rabu (22/11) kemarin.

Sebelumnya, niat ke Malaysia ini karena ada perkara lain yang bukan pelesir. Saya sendiri beberapa kali mampir ke Malaysia, sebatas ke Kuala Lumpur, biasanya karena transit lama atau in-between-flight saja sekenanya. Kali ini ada tujuan medis yang mengharuskan saya dan istri ke Sungai Siput. Trivial, Sungai Siput ini ada di outskirt Ipoh, ibukota negara bagian Perak. Sekitar 200-an kilometer ke utara Kuala Lumpur.

Semesta mendukung, Selasa (21/11) saya bertemu dengan blogger Vira (@indohoy) yang berkisah baru saja balik dari Ipoh. So, sekalian saya mengorek informasi what to expect dari kota yang namanya cukup lucu ini. Vira berkata, atraksi utamanya adalah kota tua. Well, saat itu juga, Ipoh it is.

Berbekal googling, itinerari mula adalah terbang, transit di KL. Lanjut berkereta ke Ipoh. Short sightseeing, lalu ke Sungai Siput, balik ke Ipoh untuk sightseeing seri berikut. Pulang ke KL, berkereta, lalu menginap di sana. Esok balik ke Jakarta. Simple.


Early Flight ke KLIA
Kami mengambil penerbangan pertama. Sedianya menggunakan Air Asia yang akan tebang pukul 5 pagi, dan sampai di KLIA pukul 8. Tetapi karena sempat salah booking, akhirnya kami terbang dinihari, pukul 1.30 WIB. Tiba di KLIA2 pukul 3.30 waktu setempat (WIB +1).

Usai keluar dari Imigrasi, kami mempersiapkan diri untuk perjalanan. Seperti biasa, bagi pelancong mandiri, informasi adalah segalanya. Oleh karena itu, hampir di semua trip yang saya lakukan, hal pertama adalah berganti kartu ke penyedia jaringan lokal. Di Malaysia juga sama saja. Banyak pilihan, dari Celcom yang terbesar (grup Axiata, sama dengan XL di negara kita) hingga opsi lainnya.

Kartu khusus pelancong (tourist SIM Card) tersedia dari yang termurah (berdasarkan pengamatan) senilai MYR 20 (setara Rp 60.000) dengan sedikit pulsa telepon/sms dan paket data 1,5 GB dengan masa aktif 7 hari. Ini adalah rilisan provider Digi. Sure, there are another options. Sesuaikan saja dengan masa tinggal dan kebutuhan besaran data. Bagi kami sih kebutuhannya untuk navigasi, whatsapp, pemesanan ride-hailing transportation (Grab/Uber). Satu setengah giga untuk dua hari sudah cukup.

Usai sarapan dan setting ponsel, kami menuju KLIA Express untuk menuju ke KL Sentral, hub kereta di Kuala Lumpur. KLIA Express ini cukup mahal, MYR 55 untuk sekali jalan. Opsi lebih murah bisa menggunakan bis untuk menempuh sekitar 60 km ke utara (satu hingga satu setengah jam). Menggunakan KLIA Express menempuh waktu sekitar setengah jam sampai KL Sentral.

Booking Kereta ke Ipoh
Sampai di KL Sentral, kami segera ke counter tiket kereta antarkota (dan antarbangsa, karena bisa memesan tiket kereta hingga Bangkok). Lokasi counter tiket ada di lobi timur KL Sentral. Tiket kereta sebenarnya bisa dibeli online, sama seperti tiket di negara kita. Tetapi karena kami tidak ingin terbebani dengan jadwal, maka kami memutuskan go-show saja.

Oh ya, sebelum ke konter tiket, saya mendatangi hotel yang akan kami tempati malam hari sekembali dari Ipoh. Kami belum tahu akan kembali jam berapa, jadi saya memastikan ke resepsionis hotel bahwa mungkin akan late check in (or in some case, no show). Yang penting, lokasi hotel sudah diketahui sehingga bila kami kembali sudah terlalu larut (atau exhausted) sudah tahu ke mana jalan ke arah hotel.

Balik ke konter tiket, kami memesan tiket ke Ipoh yang terdekat. Oleh petugas disarankan kereta jam 8.30 seharga MYR 35 untuk satu orang. Tiket dicetak dan dinotifikasi untuk menunggu di Hall B. Ruang tunggunya berupa ruang terbuka dengan bangku, dan tanda nomor kereta. Ketika waktu tiba, akan ada petugas yang mengumumkan, dan kita tinggal mengikuti ke mana platform yang akan menjadi titik keberangkatan. Di dekat ruang tunggu, ada meja petugas yang akan memberi tahu bila kita terlambat mengikuti petugas jaga.

Ini pengalaman baru juga karena di negara lain (termasuk Indonesia), kita cukup melihat papan pengumuman dan announcement di PA.

Anyway, kami boarding ke kereta ETS Gold tujuan Ipoh. Kereta ini mirip dengan kereta eksekutif kita, duduk berdua-dua, tetapi bangkunya tidak dapat diputar. Jadi separuh gerbong menghadap maju, separuhnya lagi menghadap mundur. So, bila pesan tiket di konter, bisa juga request arah hadap untuk nanti dicarikan tiket yang sesuai. Yang menghadap arah laju kereta biasanya lebih (lekas) penuh.

Di dalam kereta ada colokan listrik (ada di samping kursi, harus meraba sedikit) untuk charge laptop atau ponsel. Oya, Malaysia ini menggunakan plug dengan kaki tiga. So, bawa travel adapter atau beli di news kiosk, plug yang terkoneksi dengan USB port seharga MYR 10.


Ipoh Tua yang Menenangkan
Pukul 10.30 kami tiba di Ipoh. Bangunan stasiun keretanya adalah bangunan tua, yang kami tidak menyadari betapa megahnya sampai keluar dan melihat dari plaza di depannya. Ipoh Railway Station (orang lokal menyebutnya KTM Ipoh) adalah bangunan dari abad ke-19 karya Arthur Benson Hubback.

Pak Hubback ini semacam Thomas Karsten-nya arsitektur kolonial Malaysia. Ia berkebangsaan Inggris, dan merancang stasiun Ipoh dengan gaya campuraduk antara mughal, moor, hingga neo klasik. Karena menggunakan dome bawang dan berwarna putih, KTM Ipoh sering disebut sebagai Taj Mahal.

KTM Ipoh terletak di kota tua. Ipoh ini versi lain dari Melbourne. Bila kota di Australia itu dulunya merupakan koloni penambang emas di sungai Yarra, maka Ipoh adalah koloni penambang timah di sungai Kinta. Topografi kota ini terbelah oleh sungai Kinta. Bagian selatan merupakan kota tua, sedangkan bagian utara adalah di mana Ipoh modern bertumbuh. Kami mengincar bagian kota tua untuk dijelajahi sembari jalan kaki dari stasiun kereta.

Tepat di muka stasiun ada bangunan pemerintahan dan masjid raya. Tak jauh dari masjid, ada tugu Birch Memorial. Tugu ini digunakan sebagai simbol toleransi dan koeksis setelah seorang Gubernur Jenderal Inggris tewas dibacok oleh jawara lokal. Oleh karena itu, di tugu ini terdapat lukisan yang menggambarkan tokoh-tokoh agama berdiri berdampingan. Ada Musa, Yesus, dewa Hindu, dan Nabi Muhammad.

Wait, what? Rileks. Gambar Nabi Muhammad ini sudah dihapus.

Dari Birch Memorial bisa lanjut terus ke timur untuk menuju kota tua. Tapi kami mesti ke Sungai Siput. Lokasi kota kecil tersebut 26 km ke utara Ipoh. Dulu di jalan menuju Kuala Kangsar, kemudian George Town. Sekarang ada jalan tol yang bypass jalur tersebut sehingga jalan Ipoh-Kuala Kangsar mirip dengan Route 66 yang hanya dilewati kendaraan residen dan logistik. Sepanjang jalan berisi bengkel-bengkel kendaraan.

Di perjalanan kita akan melihat bukit cadas yang menjadi sumber bahan bumi Ipoh. Selain itu, terdapat juga atraksi wisata berupa ranch, mini petting zoo yang memamerkan hewan ternak seperti sapi, kambing, ayam, burung unta, dan rusa. Kandang burung unta malah terlihat dari jalan. Ini menarik dan bisa dipertimbangkan sebagai destinasi alternatif.

Kami menuju Sungai Siput menggunakan Grab Car. Opsi lain bisa menggunakan bis rute 35 (Ipoh - Kuala Kangsar) yang bisa ditumpangi dari terminal bis Medan Kidd. Lokasinya sekitar 8 menit jalan kaki dari stasiun. Terminal bis utama Ipoh, Amanjaya, ada di bagian kota baru yang nun jauh di utara.

We meant business, and when business down kami balik ke Ipoh menggunakan Grab Car yang sama. So, masih bisa jelajah Ipoh sebentar, setelah memastikan tiket balik ke Kuala Lumpur di konter pemesanan tiket stasiun Ipoh.

Brickfields, Denyut India KL
Sore kami bertolak kembali ke Kuala Lumpur. Sampai di KL Sentral, kami segera ke hotel untuk mandi (hal yang belum kami lakukan sejak pagi). Usai berberes dan istirahat sebentar, saya kemudian berjalan-jalan di daerah sekitar hotel (Jalan Tun Sambanthan) yang dikenal dengan area Brickfields. Daerah ini disebut juga Little India karena dominasi warga keturunan India yang menghuni area tersebut. Pemandangan umum seperti restoran India atau toko pakaian khas India kerap dijumpa kala menyusuri Brickfields.

If you're clueless, jelajah mal (Nu Sentral) dan seisi stasiun KL Sentral juga rasanya cukup. Ada banyak tempat untuk di-eksplor di sana, termasuk MPH Bookstore tempat kita bisa membaca karya-karya literer Malaysia kekinian. Banyak yang diterbitkan dalam bahasa Inggris. Agak kaget juga mendapati banyak karya yang mengkritik problem laten negara tersebut, yaitu etnisitas. Di luar itu, isi mal rasanya sama saja dengan Jakarta. Bahkan dari sisi harga. If you're searching for more adventurous journey, lebih baik jalan di luar.

No worry, daerah ini (Brickfields) berdenyut 24 jam. Setidaknya ada minimarket dan warung yang selalu buka bila dirimu membutuhkan Maggi goreng. Tapi malam itu cukup sekian, saya memutuskan untuk menyimpan energi keesokan harinya.


Jogging di Botanical Garden
Jam 5 waktu lokal, ponsel saya berbunyi. Alarm untuk ibadah subuh. Usai salat, saya mengenakan pakaian olahraga, berniat ke Perdana Botanical Garden, taman kota seluas 96 hektar, yang menurut peta lokasinya di seberang Nu Sentral. Ketika membuka aplikasi Google Maps, jalan masuknya harus memutar, lantaran pintu gerbangnya ada di ujung balik Nu Sentral. So, opsinya harus memutar dulu sekitar 2-an kilometer dari Brickfields. Saya memilih pintu timur agar bisa melewati stasiun Kuala Lumpur dan KTM Berhad (gambar atas) untuk melihat sequence bangunan Arthur Benson Hubback yang juga merancang stasiun Ipoh.

Sepagi itu waktu lokal, hari masih gelap. Matahari baru akan terbit jam 6.30. Jalanan juga masih sepi, jadi saya memutuskan mengawali rute lari dari Brickfields ke Botanical Garden. Rute saya melewati Katedral (jangan dibandingkan dengan Katedral Jakarta), stasiun Kuala Lumpur, Masjid Raya Malaysia, Planetarium, lalu masuk via pintu timur. Di sepanjang jalan saya melihat keteraturan KL ini yang cukup jauh dibandingkan Jakarta tercinta. Fakta yang bikin sedih sebetulnya.

Saya banyak stop dan foto di sepanjang jalan karena objek-objek foto yang menarik. Sampai di pintu timur, matahari mulai muncul, dan saya baru bisa fokus lari di taman yang berkontur dan luas. Ini trek jogging yang sangat menyenangkan. Luas, berkontur, teduh, dan relatif ramai meski hari itu adalah hari kerja. Usai beberapa lap sambil kebingungan mencari jalur, saya memutuskan stop lari pada kilometer lima. Sebagai first-timer ke Botanical Garden, olahraga saya cukup berjalan kaki saja, menikmati hal baru di taman tersebut.


Outskirt KL ke Damansara
Ketika matahari mulai panas, saya beranjak dan kembali ke Brickfields. Siang itu agenda kami adalah ke Damansara Perdana, wilayah yang sudah masuk ke negara bagian Selangor. Semacam bertandang ke Tangsel, dari Jakarta. Nama Damansara sendiri bisa dianalogikan seperti Bintaro. Bagian (Bukit) Damansara masih masuk ke Wilayah Persekutuan Federal KL (seperti DKI), sebagian lagi masuk ke Selangor. Advice dari pengemudi Grab yang kami tumpangi: "Don't ever just mention Damansara. It's huge."

Jadi, seperti Bintaro, menyebutnya berarti wilayah di dekat Tanah Kusir, Kebayoran Lama, hingga Kunciran, Alam Sutera, Tangerang.

Keluar dari KL menuju Damansara, lagi-lagi demonstrasi tata kota yang rapi dan matang. Jakarta kembali mesti merasa inferior, dan agak susah mengejar KL. Mungkin Jakarta harus berbenah mengejar Bangkok, atau menjauh dari Ho Chi Minh City dan Manila.

Di Damansara, kami ada jadwal mengambil barang dagangan istri. Menunggu pick up, kami nongkrong di kafe specialty coffee bernama The Glass House, Damansara Metropolitan Square. Saya memesan cappuccino. Ini kedua kalinya saya memesan kopi di Malaysia, berharap mendapatkan cappuccino sesungguhnya, tetapi yang datang adalah secangkir kopi dengan taburan gula.

Pada kedai specialty-nya juga tidak dijelaskan kopi apa yang mereka serve. Tampaknya demam third wave coffee belum begitu sampai ke Malaysia. Berbeda dengan Singapura. Saya boleh mengambil kesimpulan scene kopi kita lebih maju, sesuai kodrat Indonesia sebagai penghasil kopi besar.

Epilog
Pukul 4 sore setelah semua urusan selesai, kami bertolak ke KLIA. Itu menjadi kunjungan ketiga kami ke KLIA, dua sebelumnya selalu transit. So, we knew what to expect there. Bertualang di "hutan" buatan di tengah KLIA menjadi wisata terakhir kami sebelum kembali ke negeri tercinta.

Kunjungan singkat, dua hari dan semalam, dapat disimpulkan dalam itinerari yang bisa kalian kopi. Take first flight, go to KL Sentral and wander to anything reached by train. Kami merekomendasikan Ipoh yang bisa dijelajahi dalam 6 jam. Kembali ke KL, dan esoknya jelajahi kota tersebut sampai sore untuk kembali menggunakan last flight ke Indonesia.

Usai pengalaman tersebut, saya berniat mengembangkan itinerari untuk napak tilas heritage kota-kota tua di Malaysia. Georgetown sudah terkenal, tetapi Malaysia, terutama di sepanjang jalur kereta, menyimpan banyak cerita yang menarik untuk ditelusuri. Siapa tahu bisa menerus sampai Bangkok, berkereta?


Reactions: 

Related

travelogue 7138426987930280820

Posting Komentar Default Comments

Follow Me

-

SHOP

Popular

@helmantaofani

Arsip Blog

item