Rilis Pers Pearl Jam Nite XI Live Experience


Privilese menonton Pearl Jam barangkali tidak untuk setiap penggemar di Indonesia. Tercatat, mereka nyaris ke sini tahun 1995, yang batal karena bersamaan dengan Idul Fitri. Padahal, konser Pearl Jam adalah salah satu yang membuat band berusia 29 tahun ini masih mempunyai fanbase yang solid.

Seperti halnya jamaah keagamaan, para penggemar Pearl Jam di luar negeri memperbarui “keimanan” mereka melalui pengalaman konser. Dari “ritual” sebelum konser, seperti gathering dan amal, hingga tentunya konsernya itu sendiri. Apa sebetulnya yang membuat konser Pearl Jam bisa mengikat penggemarnya?

Pearl Jam tidak menghabiskan budget konser untuk efek yang wah dan spektakuler. Malah, konser mereka sejak awal di Off Ramp, Oktober 1990 sampai Home and Away Show tahun lalu tidak mempunyai perbedaan signifikan. Mereka, sejak awal, mengkonsepkan diri sebagai persona panggung.

Penampilan para personilnya tidak berbeda dari dalam dan luar panggung. Tidak ada alter ego. Memiliki kesejajaran yang pas dengan para penontonnya, bahwa mereka, ya “bunch of people onstage playing music”.

Kebersahajaan yang terbukti mengikat. Penggemar-penggemarnya tumbuh bersama. Menua bersama band. Menyaksikan sendiri evolusi para anggota band yang mulai kesulitan memainkan lagu dengan tempo seketat mudanya, tetapi mengganjar dengan kompensasi lain.

Sudah jadi cerita umum mengenai nirekspektasi konser Pearl Jam. Bahwa mereka memainkan setlist yang random. Sehingga, tidak mungkin menghapal segelintir lagu andalan. Tidak ada yang tahu pasti apa yang akan muncul dalam konser. Antisipasi terbaik, ya tahu semua katalog band. Ini juga berlaku bagi anggota band.

Ada beberapa ciri umum yang jadi pola. Misalnya susunan konser dengan struktur set utama dan dua kali encore. Biasanya ada 17-18-an lagu di set utama, dan rata-rata 5 lagu di masing-masing encore. Pola yang bisa berubah juga, sehingga sama seperti setlist, tidak bisa diantisipasi. Termasuk oleh anggota band-nya.



Keintiman dan Diskursus

Barangkali sinambung paralel misteri dari penggemar dan band ini yang membuat konser Pearl Jam jadi intim. Orang berharap, sekaligus menerima apa saja yang dibawakan oleh penghibur di atas pentas. Melihat bahwa yang di panggung memberikan pengalaman unik, khusus untuk mereka yang menonton.

Sehingga, konser Pearl Jam tidak pernah selesai sebagai diskursus ketika lagu terakhir (biasanya Yellow Ledbetter) diakhiri. Masih ada bahasan mengenai setlist. Masih ada bahasan mengenai banter atau rants Eddie dari atas panggung yang tidak pernah sama. Konser, meminjam istilah film, berakhir dengan hanging ending yang memaksa penggemar untuk pergi ke konser berikutnya, atau paling tidak menanti.

Celakanya, Indonesia belum mengalami satu episode-pun. Penggemar di sini masih terjebak pada konteks Pearl Jam sebuah entitas yang muncul dari sebuah kaset atau cakram padat. Bukan persona yang terkoneksi dengan umatnya kala di atas pentas.

Tetapi kita beruntung bisa tetap kreatif. Kreatif membuat replika dengan berbagai konser tributasi dan diskusi-diskusi non paralel mengenai Pearl Jam. Hal yang membuat kita merasa punya par sama dengan penggemar di belahan dunia lain. Penggemar yang memiliki “ritual” sendiri untuk mengikat kadar “keimanan” mereka.

Untuk itulah Pearl Jam Indonesia ada. Menyediakan ruang untuk mengalami hakikat sebagai penggemar Pearl Jam melaui berbagai entitas nyata dan maya. Dan kali ini, mengambil ceruk untuk membawa pengalaman berada dalam konser melalui sebuah konser.

Formula, pilihan lagu, susunan, dan flow panggung yang dibuat seperti konser Pearl Jam sesungguhnya. Dengan penampil yang mengerti hakikat dari band ini apa. Mencoba memberikan persepsi mereka atas Stone Gossard dan kameradnya, tanpa harus menjadi Stone Gossard dan kameradnya. Menjadi satu sisi keping mata uang.

Seperti halnya pengalaman “ritual” konser, pelengkap sisi kepingnya adalah kita semua. Penonton yang mengalami, mengapresiasi, dan menyalurkan energinya. Penonton yang membuka ruang diskusi sesudahnya. Mengeluarkan padangannya di forum, bercerita. Sehingga siklusnya lengkap.

Keping pengalaman seperti koin yang selalu bergulir usai dilempar wasit. Bergulir ketika kita semua nantinya hadir di Hard Rock Cafe, 3 Maret 2019. Ada Sonic Rockstars yang jadi diri mereka. Ada Nugie yang tidak bermaksud jadi selain Nugie. Ada The Kulums yang membuka dengan menjadi diri mereka saja.

Minggu petang bahagia, yang esoknya akan dihiasi dengan pertukaran pengalaman nan dinamis. Usai “mempertebal keimanan” secara bersama-sama.



Diunggah usai acara, dengan foto-foto berasal dari acara aslinya. Baca review singkat acaranya di sini.
Reactions: 

Related

tribute 8947879917443099847

Posting Komentar Default Comments

Follow Me

-

Ads

Popular

@helmantaofani

Arsip Blog

Ads

SHOP

Translate

item