Review Knives Out: Panggung Sinematik Drama Misteri


Saya tidak ingat terakhir menonton film misteri teka-teki pembunuhan yang asli ditulis untuk film setelah Gosford Park (Robert Altman, 2001). Dua tahun lalu masih ada Murder at Orient Express (Kenneth Branagh, 2017), tapi itu adaptasi dari novel Agatha Christie, yang saya sudah tahu jalan ceritanya.

Masalahnya, menonton film yang harus menebak pelaku seperti ini jelas lebih seru kalau dari awal tetap jadi misteri. Formulanya pasti di akhir akan disimpulkan, jadi sepanjang film kita bisa menebak-nebak. Oleh karena itu, skenario sangat penting untuk membangun plot. Apakah itu deceiving plot (alur yang menipu penonton), atau hidden clue.

Knives Out, film gres karya Rian Johnson membawa formula itu. Menonton ini benar-benar mengobati rindu saya menonton drama “siapa pelakunya” setelah itu tadi, Gosford Park. Daniel Craig bermain sebagai protagonis detektif Benoit Blanc. Perilakunya eksentrik, dengan logat aneh, yang bisa dibilang ini Amerikanisasi Hercule Poirot.

Ana de Armas berperan sebagai Marta, perawat Harlan Thrombey (Christopher Plummer) yang tewas dengan luka sayatan di leher pada hari ulang tahun ke-85. Harlan meninggalkan 3 anak dan warisan yang banyak. Anak-anak dan cucunya berambisi mendapatkan harta Harlan, sehingga sudah tentu mereka punya motif yang mencurigakan atas kematian Harlan.

Plot Knives Out berjalan kencang. Penonton harus fokus sejak detik pertama bahkan, karena antara clue atau deceiving plot bertubi-tubi hadir. Yang paling utama adalah keharusan untuk menghapal karakter yang ada. Ada anak tertua Harlan, Linda (Jamie Lee Curtis) dan suaminya (Don Johnson). Mereka punya anak bernama Ransom (Chris Evans).

Lalu menantu Harlan (Toni Collette) yang masih tinggal di rumah tersebut juga menjadi salah satu pihak yang bisa dicurigai. Ia harus membiayai ongkos kuliah anaknya (Katherine Langford). Serta anak Harlan, Walt (Michael Shannon), juga punya ambisi menguasai lisensi penerbitan karya Harlan yang juga penulis novel misteri tersebut.

Belum lagi menghapal peran sampingan, seperti pelayan rumah, Fran (Edi Patterson) dan juga ibu Harlan yang sudah tampak pikun. Character development dibangun paralel bersama cerita, sehingga bila kehilangan fokus bisa jadi penonton lebih bertanya-tanya siapa karakter ini ketimbang mengamati clue dan deceiving plot.

Tangan Dingin Rian Johnson

Namun, kepiawaian Rian Johnson (ia menulis dna menyutradari film ini) tampak dari bagaimana ia menyusun bangunan cerita. Ia membangun klimaks di awal, dan sepanjang film merupakan deduksi-deduksi yang bisa membantu penonton memberikan kesimpulan sendiri. Siapa pelakunya?

Formula Johnson juga cukup menarik karena tidak terbatas waktu dan tempat seperti model-model film misteri (bayangkan kasus Detektif Conan). Kasus ini berganti latar, sehingga membangun kompleksitas plot untuk tidak berjalan linear dan disimpulkan oleh detektifnya.

Dialog-dialog yang natural dan komik juga menjadi tekstur menarik di film ini. Tidak semuanya penting, dan kadang sebagai selingan saja. Namun, keberadaan mereka dan juga latar musiknya menjadi penanda aspek kiwari dari salah satu genre klasik sinema ini.

Knives Out akan mudah disukai oleh semua penonton. Selain casting populer, menikmati jalan ceritanya juga ringan. Hal yang mungkin menjadi ganjalan adalah persepsi-persepsi yang terbangun dari cast-nya. Memori kuat mengenai Daniel Craig sebagai James Bond, atau Chris Evans sebagai Captain America bisa turut membangun premis yang muncul di benak penonton. Mungkin memang itu yang dikehendaki Rian Johnson.

Casting kuat juga diharapkan bisa menarik animo penonton. Knives Out di Indonesia tayang mundur dua mingguan sejak rilis karena gempuran film populer lain. Film berbujet 40 juta dollar ini memang diprediksi tidak akan terlalu dahsyat menarik box office. Fakta bahwa genre ini mungkin tidak terlalu relevan dengan milenial bisa menjadi salah satu faktor.

Saya berharap anak-anak kini bisa menemukan tautan dengan film ini. Bahwa model misteri pembunuhan seperti ini sebetulnya bahan cerita yang sangat sinematik, di samping film-film fantasi. Jenis film yang harus pandai dengan durasi dan membagi plot. Yang untungnya, ditangani dengan sangat baik oleh Rian Johnson.
Reactions: 

Related

whodunnit 2759183699897293929

Posting Komentar Default Comments

Follow Me

-

Podcast

Ads

Popular

@helmantaofani

Arsip Blog

Ads

Translate

item