Cine-ception dalam Dokumenter Beastie Boys


Dari sekian banyak film dokumenter yang pernah saya tonton, baru pertama kali melihat format “live documentary”. Pengalaman perdana tersebut saya temukan di film dokumenter Beastie Boys (Beastie Boys: Live Documentary) yang baru saja dirilis Apple TV.

Saya mencoba Apple TV (meski menggunakan iPhone sejak sekian lama) karena Pearl Jam memutar Dolby Atmos experience untuk album Gigaton di platform “pay per view” ini. Setelah menonton visualisasi album baru Eddie Vedder dkk, perhatian saya tertuju pada dokumenter Beastie Boys: Live Documentary. Yang menarik perhatian adalah “film” ini disutradarai oleh Spike Jonze. Salah satu sineas yang saya sukai karyanya (Being John Malkovich, Adaptation, dan Her).

Live Documentary

Format “live documentary” ternyata cukup unik. Film ini tidak menyajikan dokumenter standar berupa footage dan komentar. Film ini sebetulnya merupakan “konser” atau pertunjukan narasi dari atas panggung yang dilakukan oleh dua personil Beastie Boys yang tersisa: Mike D dan Adam Horowitz (Ad-Rock). Satu personil kunci mereka, MCA (Adam Yauch), meninggal pada 2012.

Film ini menceritakan tentang kronologi Beastie Boys dari awal berdiri. Dari masa kecil mereka di New York, kemudian mencoba bermain band hardcore. Keisengan mereka terhadap musik rap membawa ke rangkaian album yang akhirnya mengangkat pamor mereka sebagai band rap kulit putih. Album “License to Ill” (1984) mengawali melesatnya trio ini hingga kematian Yauch jelang tiga dekade kiprah mereka di dunia musik.

Kronologi tersebut dituturkan oleh Mike D dan Ad-Rock secara lisan. Emosi mereka kadang terbawa ketika bercerita tentang Yauch. Atau spontanitas ketika kembali ke momen yang membuka lagi memori. Yang unik, hal ini dilakukan dalam sebuah pertunjukan, di sebuah ballroom, dan ada penontonnya juga. Mereka tidak bermain musik, tetapi hanya bercerita. Diiringi latar yang berisi footage, klip, dan multimedia - lengkap dengan blocking panggung dan interaksi. Spike Jonze yang menyutradarai ini semua.

Jujur, saya bukan penggemar berat Beastie Boys. Beberapa karya mereka melintas di playlist saya, terutama yang beririsan di linimasa 1990-an. “Sabotage” tentu yang paling dikenal. Serta mengingat lagi periode saya banyak menonton MTV sepulang sekolah juga kerap melihat “Intergalactic” diputar.

Irisan dengan band favorit saya, Pearl Jam, juga membawa untuk menggali sedikit mengenai Beastie Boys. Khususnya momen Tibetan Freedom Concert yang dulu pernah saya tonton dokumenter konsernya karena menampilkan Eddie Vedder berambut pirang di sana.

Pengalaman Sinematis

Menonton Beastie Boys: Live Documentary ini, meski asing dengan sejarah mereka, terasa menyenangkan. Senang karena berasa didongengi langsung dari “dramatic personae”-nya, yaitu personil Beastie Boys sendiri. Ini semacam autobiografi yang otentik, karena tidak seratus persen paparan, tetapi ada emosi di sana. Di sini kita bisa melihat konklusi mengapa tanpa Yauch berarti tidak ada Beastie Boys seperti yang dari mula acara sudah disebut Mike dan Adam.

Visual dan klip musikpun secara adil mendapatkan porsinya. Bagaimanapun juga, ini adalah dokumenter tentang grup musik. Porsi ini juga dipaparkan dengan visualisasi multimedia yang menawan. Potongan-potongan footage selaras dengan audio yang menyalak. Tetap dalam proporsi secukupnya, karena ketika Adam atau Mike bercerita tentang sebuah lagu yang signifikansi dalam karier mereka biasa saja, itu hanya disebutkan saja secara lisan (seperti "Sure Shot").

Namun, untuk beberapa karya yang mengubah jalan cerita, seperti “Fight for Your Right (To Party)” dan “Sabotage”, prosesnya diceritakan dengan cukup detail. Selebihnya, menyisip juga cerita-cerita emosional mengenai Yauch, dan Kate Schellenbach yang ternyata juga memiliki peran penting dalam “upbringing” Beastie Boys.

Beastie Boys: Live Documentary menjadi salah satu film dokumenter paling unik yang pernah saya tonton. Ia bukan konser, tetapi energi penontonnya masuk dalam cerita. Ketika penonton (di ballroom) bertepuk tangan misalnya, itu menjadi narasi juga yang disampaikan ke pemirsa film.

Ia juga bukan sinema, meski editing yang dilakukan untuk kemasan audiovisual (film) sangat mumpuni. Potongan multimedia (footage dan audio) bisa sangat serasi bergantian dengan close up ke ekspresi Mike dan Adam dari panggung. Kadang menyisip juga ekspresi penonton. Sehingga secara utuh, ini tetap enak dinikmati sebagai sinema konvensional pula karena memiliki pace, transisi, dan teknis audiovisual yang diatur.

Andai tidak ada pandemi, tentu akan menarik untuk menonton ini di bioskop misalnya. Semacam cine-ception, karena kita menonton orang yang menonton. Dengan kepuasan seperti menonton konser juga ketika musik Beastie Boys menyalak dari tata suara yang selayaknya.

Overall, menonton Beastie Boys: Live Documentary ini betul-betul pengalaman sinematis dan musik yang sangat unik. Porsi yang pas juga untuk akhirnya melepas MCA dalam tributasi paling layak.
Reactions: 

Related

STICKY 1075362176305955861

Posting Komentar Default Comments

Follow Me

-

Ads

Popular

@helmantaofani

Arsip Blog

Ads

SHOP

Translate

item