Magnet Attack on Titan


Mulanya melirik karena gambar-gambar di manga-nya tampak gory dan gruesome. Orang-orang yang dimakan raksasa. Saya berpendapat, dulunya ketika melihat pertama edisi omnibus di Kinokuniya, tidak akan berselera dengan komik “Attack on Titan” (AoT).

Setahunan kemudian, pergaulan from home (yang diisi dengan binge-watching) anak saya mengantar ke algoritma YouTube yang mulai mendapat rekomendasi anime AoT. Ketika saya tanya apakah ia (anak saya, 10 tahun) menonton AoT, katanya tidak. Banyak adegan yang mengerikan, salah satunya ketika ia memperlihatkan raksasa menyantap seorang wanita.

Algoritmanya berlanjut di Netflix, dengan anak saya kerap menggunakan akun milik ayahnya untuk melihat-lihat anime yang berkategori 16+. Kembali, di rekomendasi Netflix, muncul lagi AoT. Kali ini teasernya sering saya lihat di klip kovernya. Sepertinya seru. Banyak aksi-aksi yang tidak seperti bayangan gory belaka.

Long story short, sekitar minggu lalu akhirnya saya menonton beberapa review dan recap AoT di YouTube. Salah satu klip yang sering diputar ulang adalah adegan salah satu karakternya, bernama Levi, yang tengah menghabisi para raksasa dengan sabetan pedang. Bagi saya, adegan macam ini signature anime yang menarik minat. Sama seperti menonton Samurai X dulu, yang secara relijius saya tamatkan berkali-kali dua dekade silam.

Dan awal pekan ini, berbekal beberapa review dan klip yang bertebaran di YouTube, saya mencoba pertama kali menonton AoT. Tepatnya memulai dari episode 1, season 1.

Dua hari dan kekurangan jam tidur kemudian, saya berhasil catch up dengan episode terbaru yang masih tayang mingguan di Netflix. Saat saya menulis status ini, masuk ke episode 66 (dari rencana total 75 episode). Per episode berjalan sekitar 24 menit. Jadi 1200 menit lebih saya baktikan, mengorbankan jam tidur dan agenda untuk lari guna sampai di episode mutakhir.

Sinopsis dan Daya Tarik


AoT berkisah tentang dunia di mana ada raksasa (titan) yang menjadi predator manusia. Manusia dipercaya hampir punah, dengan pertahanan terakhir mereka ada di sebuah wilayah yang dilindungi tembok kokoh raksasa tiga lapis: tembok Maria, tembok Rose, dan tembok Shina. Selama seabad lebih, tembok tersebut melindungi mereka dari titan yang berkeliaran di lapisan terluar tembok.

Dalam kondisi ini, manusia membuat skema perlindungan yang membantu mereka beradaptasi. Ada pemerintahan, regulasi, serta lembaga pertahanan yang beroperasi di balik lapis terdalam tembok (Shina). Ada tiga resimen yang memiliki tugas berbeda. Polisi, untuk menjaga keamanan di dalam tembok. Garnisun, yang menjaga garis pertahanan (tembok), sekaligus garda pertahanan pertama. Serta pelacak, yang bertugas di luar tembok dengan tugas mencari informasi terkait titan.

Resimen pelacak (scout) ini yang jadi sentral cerita, dengan karakter-karakter utamanya bergabung di sini. Ada Eren Jaeger, protagonis utama, bersama dua karibnya: Armin dan Mikasa. Arc (pokok) cerita berkembang dengan masa-masa mereka masuk pelatihan kadet hingga menjadi anggota penuh untuk bertempur dan melacak titan.

Anime adaptasi manga ini bisa saja berkembang dengan model serial yang bisa diulur-ulur sampai belasan tahun. Misalnya seperti Gundam, Patlabor, atau serial-serial superhero Jepang. Atau fokus pada sentral protagonis dan arc-nya seperti halnya Dragon Ball. Yang membuat seri AoT ini bagus ada pada keseluruhan jalan cerita yang tidak dirancang untuk berpanjang-panjang. Ada awal dan ujung cerita yang definitif.

Ada bermacam-macam arc yang menjelaskan perkembangan karakter, asal-muasal, hingga plot demi plot yang mengurai misteri mengenai titan dan manusia. Porsi aksi, hebatnya, juga masih dipertahankan.

Latar yang menjadi "landasan teori" dari cerita manga oleh Hajime Isayama ini juga kompleks dan memuat banyak alegori. Ada banyak latar mitologi dan sejarah Eropa di dalamnya dengan nama-nama yang berbau benua biru. Nama (surname) Jaeger, Ackermann, Artlett, Braun dan sebagainya mendominasi cerita. Lalu mitos raksasa sendiri juga sangat dikenal di berbagai wilayah Eropa.

Yang membuat versi anime-nya (relatif setia dengan manga-nya) mencandu adalah pacing (kecepatan) cerita yang relatif enak diikuti, tanpa jump cuts atau kehilangan-kehilangan detail plot yang diperlukan dalam logika. Menonton anime dari awal sampai akhir tidak akan terasa split per-episodenya. Sehingga ketika dihadapkan pada edisi paling mutakhir, ada rasa penasaran tinggi juga menunggu kelanjutan ceritanya.

Dalam waktu sela, sama seperti dahulu ritual Game of Thrones, menarik untuk menggali lagi unsur intrinsik dan ekstrinsik serial ini. Melalui berbagai forum diskusi dan analisa-analisa video di YouTube, kita bisa memperkaya khasanah AoT ini secara vertikal dan horisontal. Tidak heran bila kemudian serial ini mendapatkan pengikut-pengikut loyal (fanbase) yang luas.

Tidak banyak anime yang mempunyai rentang fanbase lebar. Bila ada, tentu itu akan menjadi legenda juga seperti serial legenda di masa sebelumnya. Saya sendiri mengulang kenangan hampir 20 tahun silam ketika sebelum tidur teringat Jupon Gatana, Makoto Sishio, atau Kenshin Himura dari serial Samurai X. Di antara dan sesudah serinya menggali referensi mengenai restorasi Meiji, serta unsur intrinsik di dalamnya.

Kini kala senggang, pikiran saya jadi terokupansi dengan teori-teori apa yang akan terjadi dengan Eren Jaeger dan para raksasanya. Mencoba catch up dengan segala sesuatu di dunia AoT, yang sudah dirilis sejak tahun 2013. Serta sama seperti Game of Thrones, kini ada yang dinanti setiap pekan (hari Jumat), paling tidak sampai bulan Maret nanti ketika AoT akan menyelesaikan kisahnya.

Ritual televisi yang patut dirayakan.

Related

tv 8720917908740439298

Posting Komentar Default Comments

Follow Me

-

Podcast

Ads

Popular

@helmantaofani

Arsip Blog

Ads

Translate

item