Jejak Guardiola di Timnas Italia


Roma tidak dibangun dalam sehari.

Ungkapan tersebut kerap dipakai idiom bahasa Inggris untuk menekankan pentingnya proses. Tidak ada jalan instan menuju sebuah hasil. Demikian pula dengan sepak bola. Tidak ada bedanya.

Di tengah puja-puji terhadap Roberto Mancini, banyak analisa yang kemudian menempatkannya sebagai sosok yang membawa renaisans terhadap (gaya) sepak bola Italia. Karakter yang dulu dibawa Grande Torino setelah mereka terpukau dengan Mathias Schindelaar dan Austria-nya di Piala Dunia 1938.

Sepak bola Italia menuju ke arah permainan high pressing, umpan cepat dan pendek, serta inverted winger pada masanya. Masa ketika dalam sekejap luluh lantak lantaran tragedi Superga menghabisi nyawa timnas Italia dalam seluruh punggawa klub Torino, termasuk maestro Valentino Mazzola.

Era kejayaan kemudian dibawa Helenio Herrera dan Nereo Rocco dengan permainan defensifnya. Itu membawa ke nafas permainan klub-klub Italia dan otomatis tim nasionalnya. Sudah alamiah, apa yang dituai di tim nasional dipengaruhi zeitgeist, sekolah-sekolah pemikiran di klub-klub Italia pada masanya.

Banyak alumni Herrera dan Rocco yang melanjutkan gaya mereka, sampai sosok Arrigo Sacchi yang memperkenalkan skema baru tak bisa mengubah sekolah pemikiran sepak bola Italia. Masih ada Marcello Lippi, Giovanni Trapattoni, dan pelatih lainnya yang punya filosofi sendiri.

Jejak Guardiola di Serie A

Sekolah pemikiran di Italia baru terbuka kala tim nasional mereka berulang kali tersandung oleh Spanyol. Di Piala Eropa berturut, 2008 dan 2012, gaya sepak bola Italia tampak usang melawan sepakbola penguasaan bola Spanyol. Ide ini dibawa oleh beberapa pelatih muda pada masanya. Terutama mereka yang pernah bermain bersama Josep Guardiola dalam petualangannya di Serie A. Dua di antaranya adalah Vincenzo Montella dan Eusebio di Francesco.

Montella dan Di Francesco memperkenalkan taktik 4-3-3 untuk tesis mereka keluar dari Coverciano, akademi pelatih Italia. Ide mereka adalah mengadaptasi posesi Spanyol tetapi bermain lebih vertikal. Manifestasi yang kemudian disempurnakan juga oleh Guardiola pada masanya di Munich.

Selain Montella dan Di Fra, belakangan juga muncul sosok Maurizio Sarri dan Roberto de Zerbi yang membawa ide serupa. Gaya Pep di Monaco, atau Pep di Munich. Di pertengahan 2010-an, sepak bola gaya baru mulai merebak di Italia. Dibawa oleh pelatih-pelatih muda, selain yang disebut di atas, biasanya masih memegang klub kasta bawah atau level yunior.

Implikasi tak langsungnya adalah produksi pemain-pemain yang cocok untuk bermain sepak bola dengan gaya baru tersebut. Italia berlimpah stok di gelandang tengah dan pemain sayap. Klub-klub yang mempekerjakan para pengidola Pep di Monaco, pada masanya: Milan, Roma, Napoli, dan Sassuolo, menghasilkan bibit-bibit baru yang kini menjadi andalan tim nasional Italia.

Revolusinya tidak berjalan cepat. Masih segar di ingatan penggemar sepak bola Italia ketika Giampiero Ventura menolak memainkan Lorenzo Insigne pada play off Piala Dunia melawan Swedia. Rezim Ventura tidak membawa aspirasi zeitgeist pada masanya. Oleh karena itu, ketika ia gagal dan diganti Mancini, hal itu jadi pelajaran penting.

Mancini Menuai

Mancini, dalam portfolionya sebagai pelatih, tidak dikenal memainkan pola yang dibawanya ke timnas Italia. Mancini adalah pelatih pragmatis, yang pada masanya di Manchester City kerap dikritik karena terlalu berhati-hati dan tidak punya identitas. Aspek tersebut yang menjadi dasar “perceraiannya” dengan klub yang dimiliki pangeran Qatar.

Konsep membawa identitas ini yang kemudian dibawa Mancini ketika ia mengambil tugas sebagai pelatih tim nasional Italia. Tim tradisional yang tengah terhempas ke dasar samudera ketika gagal lolos ke Piala Dunia untuk kali pertama (2018). Mereka di titik nol, dan bagi Mancini, itu adalah proyek yang terbuka untuk eksperimentasi. Apa yang bisa lebih buruk ketimbang gagal lolos Piala Dunia?

Mancini mulai mengambil tugas pos-Ventura, ketika talenta-talenta hasil sekolah pemikiran pada masa itu berkembang. Milan memproduksi pemain seperti Manuel Locatelli, Bryan Cristante, dan Matteo Pessina. Roma menghasilkan Pellegrini bersaudara. Juventus mendidik Leonardo Spinazzola. Alumni Sarri juga masih berkembang dengan Jorginho merantau ke Inggris, serta Insigne menjadi kapten di Napoli.

Ketika beberapa bakat tersebut tersingkir dari klub karena gagal bersaing dengan pemain impor, Roberto de Zerbi dengan Sassuolo menampung mereka. Memainkan pola yang paling mengeksplorasi kelebihan para bibit baru sepak bola Italia. Sassuolo lantas menghasilkan pemain Italia yang paling siap dengan skema Pep di Monaco. Domenico Berardi, renaisans Locatelli, Stefano Sensi, dan belakangan juga "Aguero-nya Italia", Giacomo Raspadori.

Gaya baru Italia ini membawa ke preseden yang berbeda dalam menjalani dua tahun pertama bersama Mancini. Italia lolos dengan mudah di kualifikasi Piala Eropa. Mereka menang besar atas tim-tim seperti Liechtenstein yang di masa lalu maksimal hanya bisa diselesaikan dengan margin 3 gol. Lolos mudah adalah hal yang sangat “tidak Italia”.

Dihadapkan pada putaran final, fase grup juga masih dibabat dengan semangat sama. Rekor tidak pernah menang di Piala Eropa dengan margin lebih dari 2 gol bahkan dipecahkan. Dua kali! Italia maju ke fase berikut dengan raihan sempurna. Pertama setelah tahun 2000 di semua kejuaraan antarnegara yang diikuti Italia.

Azzurri menuai apresiasi karena mengubah gaya sepak bola mereka, sekaligus membawa nama-nama baru yang relatif asing. Spinazzola, Di Lorenzo, Locatelli, Barella, Berardi, Pessina, Chiesa, dan Insigne. Publik mempelajari dan menelisik dari mana datangnya talenta-talenta tersebut.

Mudah untuk menemui jejak-jejak De Zerbi, Di Francesco, Sarri, dan Montella dalam tim Italia saat ini. Dari mereka semangat zaman atau zeitgeist sepak bola Italia bersemi di pertengahan 2010-an. Dan kini Mancini tengah menuai hasilnya untuk menuju redemsi sesungguhnya yang ia incar. Piala Dunia di Qatar tahun depan.

Di belakang tim saat ini, sejumlah bibit baru yang siap bersemi masih menunggu. Masa setahun dari Piala Eropa, apapun hasilnya, yang masih jadi momentum menarik bagi proyek Mancini. Masih ada bakat-bakat baru yang siap meneruskan proyek tersebut. Sebagian yang di bawa pada turnamen tahun ini akan makin berkembang. Sebagian lagi, dengan Nicolo Zaniolo sebagai pembawa panji, siap mengisi turunnya tahta veteran macam Chiellini, Bonucci.

Sebagaimana Roma, proyek ini tidak dibangun dalam semalam. Rangkaian panjang dari inisiator-inisiator gagasan untuk menemukan cara lain bermain sepak bola bagi anak-anak negeri pizza. Titik awal yang barangkali menjadi fondasi baru sepak bola Italia, menapaktilasi sejarah mereka di awal abad sebelumnya.

Related

STICKY 4696147082056134218

Posting Komentar Default Comments

Follow Me

-

Podcast

Ads

Popular

Arsip Blog

Ads

Translate

item