Seribu Jalan ke Mekah, Menggali Inspirasi dari Catatan Haji


Michael Wolfe mengompilasi 23 catatan perjalanan haji dari 23 persona yang berbeda. Bentang dari tulisan pertama abad ke-14 hingga abad ke-20 masih membawa pesan yang sama. Pesan yang bisa kita gunakan untuk mengambil motivasi apabila kelak berencana melakukan haji.

Sejak Agustus lalu, saya coba ikut sesi book club kecil. Pada sesi yang digelar tiap minggu kedua dan keempat per-bulan, kita diminta untuk berbagi mengenai satu judul pustaka yang bisa saja sudah pernah dibaca, sedang dibaca, atau bahkan yang ingin dibaca. Sesi ini bagus juga untuk mengingatkan lagi mengenai kebiasaan membaca.

So, menarik juga untuk cross-sharing buku yang saya bahas di sesi dan di blog. Dimulai dengan Sabtu (13/11) lalu, ketika saya mengangkat buku "One Thousand Road to Mecca" dalam sesi.

Tahun 2009, almarhum ayah saya mengajak untuk mendaftar ibadah haji. Kisah ini sudah sempat saya ceritakan dalam catatan-catatan mengenai haji yang akhirnya dibukukan dalam pustaka Labbaik. In short, untuk menggali motivasi dan referensi, saya membaca buku-buku haji. Salah satu di antaranya adalah "One Thousand Road to Mecca: Ten Centuries of Travelers Writing about the Muslim Pilgrimage". Buku tersebut adalah kompendium (kompilasi tulisan) travelog dari abad ke-14 hingga era modern, yang disusun oleh Michael Wolfe.

Wolfe sendiri menyumbangkan tulisan dari bukunya, Hadj. Wolfe, yang merupakan seorang muslim Amerika, terlebih dahulu saya kenal melalui bukunya tersebut (Hadj), sebagai salah satu referensi pustaka jelang haji. Buku Wolfe lebih mirip travelog, bukan buku panduan manasik yang banyak beredar di toko-toko buku lokal. Model penuturan haji sebagai perjalanan pelesir (traveling) ini yang kemudian saya ambil sebagai celah untuk bercerita di buku saya (Labbaik).

Pada buku "One Thousand Road to Mecca" (OTRM), Wolfe mengumpulkan 23 tulisan perjalanan haji dari berbagai sumber. Tidak banyak memang, dokumentasi mengenai perjalanan haji pada masa lalu. Oleh karena itu, manuskrip-manuskrip ini menjadi menarik karena membentang beberapa abad. Dalam catatan OTRM, kita menyaksikan apa yang berubah dari masa ke masa di Mekah dan Madinah. Selain itu, sudut pandang yang beragam juga memperkaya dimensi kita memandang Tanah Suci.

Wolfe membagi OTRM menjadi 5 bab sesuai dengan kronologi naskah. Bab pertama dari abad pertengahan, dengan cerita dari 3 pelancong muslim. Bab kedua adalah dari ujung abad pertengahan, cerita-cerita dari para penyamar yang berpura-pura menjadi muslim untuk bisa masuk ke Mekah dan Madinah. Bab ketiga ada di ujung kekuasaan Utsmani, ketika para orientalis barat mulai penasaran terhadap agama dan budaya Timur Tengah. Bab selanjutnya (keempat) bercerita tentang haji di awal-awal era Wahabi (atau negara Saudi). Bab terakhir adalah catatan dari para pelancong modern, yang dirangkum Wolfe dalam bab "Jet Age".

Era Medieval

Catatan haji di abad pertengahan awal (1300-an) disumbang oleh pelancong-pelancong muslim. Salah satu yang terkenal adalah (tentu saja) catatan dari Ibnu Batutah. Pada bab ini, Wolfe juga memasukkan catatan dari Nasiri Khusrawi, seorang penyair Persia, dan Ibnu Zubair, pelancong terkenal dari Andalusia. Ketiganya muslim, jadi Wolfe menamai bab ini dengan sebutan "Classic Muslim Traveler". Sebagai muslim, ketiganya sudah tahu konsep haji dari mula, dan tidak heran bila kemudian catatannya mirip seperti membandingkan "teori" dan "praktek". Rangkuman saya, catatan di bab ini seperti "driven by faith and cusriosity".

Model ini bertolak belakang dengan bab selanjutnya, yang merupakan kontinuitas era Ibnu Batutah. Di bab-bab berikut, Wolfe menampilkan catatan dari 5 pelancong. Semuanya non-muslim, dan harus berpura-pura sebagai muslim. Hal itu ada yang dilakukan secara sengaja untuk mencari tahu, atau memang karena nasib yang membawa mereka ke Tanah Suci. Oleh karena itu, bisa dibilang bab ini seperti "driven by fate and curiosity".

Lodovico di Varthema (pelancong Bologna), Ali Bey al Abbasi (mata-mata Spanyol), dan John Lewis Bruckhardt (orientalis Swiss) tentu punya dasar keingintahuan yang dalam hingga berpura-pura jadi muslim. Varthema (bahkan) rela menjadi kasim di tentara Turki untuk bisa ke Mekah. Bruckhardt belajar bahasa Arab dan fikih Islam agar (kemudian) bisa berdebat dengan warga Tanah Suci.

Sementara itu, nasib Joseph Pitts mungkin tidak seberuntung Varthema atau Bruckhardt. Pitts yang berasal dari Inggris melancong ke Mekah dalam statusnya sebagai budak seorang muslim Aljazair. Nasib Pitts mirip dengan sebuah naskah dari pedagang Italia yang juga berhasil sampai Mekah karena terbawa oleh rombongan.

Yang jelas, catatan dari mereka berhasil mendokumentasikan bagaimana ibadah haji dilakukan pada era Ustmani. Rata-rata dari mereka juga berinteraksi dengan jamaah dari berbagai wilayah yang benar-benar membuka mata terhadap penjelajahan dunia lebih lanjut.

Akhir Era Utsmani dan Awal Wahabi

Bab selanjutnya merupakan tulisan dari para pelancong yang ada di peralihan zaman. Pada akhir abad ke-19, dinasti Utsmani mulai turun, dan efek perang Eropa mulai masuk ke Arab. Inggris dan Perancis terlibat dalam pertarungan geopolitik yang efeknya terasa hingga kini. Inggris khususnya, banyak mengirim orientalis dan mata-mata untuk mengorganisir revolusi di Arab guna memberontak dari kekuasaan Utsmani (Turki kini).

Tidak heran bila kemudian di catatan dua bab (tiga dan empat) OTRM banyak diisi oleh orang Inggris, terutama yang terlibat di kepentingan geopolitik. Catatan paling terkenal dan sempat menjadi referensi pakar cukup lama adalah tulisan Richard Burton. Burton adalah orientalis slash pelancong terkenal, sejajar dengan naturalis (Charles) Darwin, atau (Alfred) Wallace. Ia banyak menulis mengenai Timur Tengah dan Asia Selatan (India). Laporan-laporan Burton turut memicu aksi intervensi militer Inggris dengan mengirim banyak mata-mata untuk masuk ke penjuru Arab.

Salah satu mata-mata yang terkenal tentu saja Lawrence, yang berhasil menggelorakan kaum badui dari gurun Nejd untuk mendirikan Saudi Arabia. Selain Lawrence ada juga Eldon Rutter dan Harry St John Philby yang tulisannya dimuat Wolfe dalam OTRM. Tulisan mereka menjadi eksklusif karena akses ke Ibnu Saud yang kemudian menjadi penguasa Arab Saudi. Dari tulisan mereka kita, antara lain, bisa melihat model pendanaan penyelenggaraan haji yang bergantung pada donatur.

Naiknya Ibnu Saud juga diiringi dengan naiknya paham Wahabi yang kemudian mengontrol Tanah Suci. Perubahan-perubahan penyelenggaraan haji dari era Utsmani ke Wahabi ini juga menjadi cerita menarik yang berhasil direkam dari sudut pandang pelancong di bab ini. Muhammad Husein Farahani misalnya, bercerita mengenai pengalamannya sebagai seorang Syiah yang haji di penguasa yang mayoritas Sunni.

Era Modern

Sudut pandang cerita beda mazhab ini juga menjadi basis kisah Jalal Ali Ahmad dari Iran. Jalal Ali berkisah di bab penutup, "Jet Age", di kala Wahabi menjadi institusi dan Saudi sudah established. Namun cerita beda-beda mazhab ini bisa juga jadi bahan menarik di mata Malcolm X. Tokoh revolusi kulit hitam Amerika itu justru melihat kebinekaan kala haji sebagai perspektif yang mengubah pandangannya terkait hidup dan bahkan perjuangan politiknya.

Kisah-kisah haji pada "jet age" ini mungkin yang paling relatif mengena bagi pembaca yang ingin mendapatkan dorongan motivasi untuk melakukan haji. Latar belakang masalahnya masih relevan dan bisa kita ambil irisannya. Kisah Malcolm X di antaranya, sangat terkenang ketika saya menjalani ibadah di Mina. Tinggal di tenda, bersama ratusan ribu jamaah lainnya, membawa saya berempati dengan apa yang dilihat Malcolm mengenai kesetaraan. Catatan-catatan saya di Mina yang kemudian menjadi bagian besar dalam Labbaik, banyak irisan dengan tulisan Malcolm.

Namun kisah lainnya juga bisa membawa hikmah yang sama. Bahwa haji itu perjalanan yang sulit, perilous journey, yang log-nya saja bisa menjadi cerita sendiri. Bila Ibnu Batutah cerita perjalanan fisiknya dari Maroko ke Arab, maka kita mungkin bisa berbagi mengenai perjalanan mental atau spiritual di era modern ini.

Membaca kisah-kisah di buku OTRM ini akan mudah untuk menambah motivasi untuk haji. Tidak hanya dimensi ibadah saja, tetapi mengembangkan banyak rasa ingin tahu dan penasaran. Minimal untuk melihat atau napak tilas lagi lebih luas dari sekadar masjid dan areanya. Benang merah dari semua cerita yang membentang lebih dari 5 abad ini adalah kesan haji sesungguhnya didapat ketika kita berinteraksi dengan orang lain di sana.

Kosmopolitansi Mekah, perilaku tenggang rasa ke sesama, dan cerita-cerita berbagi penderitaan yang sama mendominasi cerita dari Ibnu Zubair sampai Saida Miller. Aspek tersebut, sampai saat ini masih bisa dinikmati di Mekah dan Madinah sebagai bagian perjalanan haji.

Related

wolfe 8260966166508977250

Posting Komentar Default Comments

Follow Me

-

Podcast

Ads

Popular

Arsip Blog

Ads

Translate

item